Fenomena Likuifaksi di Palu Sebabkan Bukit Terbelah Hingga 1 Desa berpindah Sejauh 3 Km

Spread the love

BataraNews.com –  Likuifaksi adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat.

Fenomena Likuifaksi terjadi beberapa waktu lalu saat bencana Gempa dan Tsunami di Palu dan Donggala.

Dua permukiman di Palu, Balaroa dan Petobo, dilaporkan mengalami likuifaksi pasca gempa bumi yang mengguncang Donggala dan Palu.

Sebagian tanah di daratan itu bergerak seperti air lumpur sungai, menyeret apa saja yang ada di permukaan dari beberapa meter hingga ada yang berkilometer.

Salah satu desa yang bernama  Jono Oge menjadi bukti fenomena Likuifaksi. Dikabarkan, desa ini terbawa sejauh 3 kilometer oleh tanah yang bergerak akibat likuifaksi gempa Palu. Rumah warga hingga gereja desa Jono Oge, bergerak sejauh 3 kilometer dari lokasi aslinya.

Seorang korban gempa Palu sekaligus warga desa Jono Oge, Mery (42) memberikan kesaksiannya. “Kampung kami tergeser karena gempa, tiba-tiba gempa lalu tanah bergelombang dan datang tanaman jagung,” ujar Mery seperti yang sudah dilansir tribunnews.com. Mery mengaku, ketika ia menyaksikan tanah tempat ia berpijak mulai bergerak, Jono Oge sudah tampak lenyap.

Fenomena Likuifaksi di Palu juga menyebabkan sebuah bukit terbelah. Dua hari lalu Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho membagikan video yang menunjukkan sebuah bukit yang terbelah akibat gempa 7,4 SR di Sulawesi Tengah.

Video tersebut dibagikan Sutopo melalui laman Twitternya, @Sutopo_PN, Jumat (5/10/2018). Dalam video tersebut, tampak sebuah bukit yang terbelah karena tanah yang longsor. Sutopo menjelaskan bahwa bukit tersebut berada di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Fenomena Likuifaksi yang terjadi di Palu  menurut Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar, karena Kota Palu berada di atas endapan aluvium yang terdiri dari jenis pasir, lanau, dan lempung yang berumur Holosen. karena struktur tanah yang seperti itu, guncangan gempa dapat menimbulkan fenomena likuifaksi.(azk)