Berpotensi kembali diguncang Gempa Dahsyat, Jakarta dan Jawa harus Mawas diri mulai Sekarang

Spread the love

BataraNews.com – Ibukota Jakarta sebagai pusat administrasi negara sekaligus pusatnya bisnis di Indonesia pernah diguncang gempa Maha Dahsyat yang meluluh-lantakan hampir seluruh bangunan yang berdiri.

Gempa pada 22 Januari 1780 disebut sebagai gempa terbesar yang pernah terjadi di Jakarta dan pulau Jawa. Kekuatannya mencapai 8,5 skala Richter. Getarannya terasa di seluruh Jawa dan Sumatera bagian selatan.

Riset sejarah Alfred Wichmann, ahli geologi Hindia Belanda, menyebut guncangan gempa membuat Batavia (sebutan Jakarta waktu itu -red) porak-poranda, 27 gudang dan rumah runtuh di kanal Zandzee dan Moor.

Setelah gempa, ledakan dahsyat berlangsung selama dua menit dari Gunung Salak. Gempa juga memompa Gunung Gede berdahak.

Simulasi skenario Nguyen menemukan, ketika gempa terjadi, seluruh wilayah Depok, sebagian Tangerang Selatan, beberapa Kecamatan di Jakarta seperti Jagakarsa, Pasar Rebo, Ciracas, dan Cipayung, serta sebagian daerah Bogor utara (dari Cibinong, Parung, Parung Panjang) terguncang cukup parah dengan skala Mercalli X.

Artinya, jika gempa tahun 1780 terjadi sekarang, wilayah di atasnya bakal rusak parah, rangka rumah seketika reyot dan bangunan retak, pondasi sedikit berpindah, pipa-pipa di dalam tanah putus.

Pada gempa kedua, 10 Oktober 1834, Javasche Courant mengabarkan guncangan parah terjadi di Batavia, Banten, Karawang, Bogor, dan Priangan pada pagi buta. Gemetar tanah terasa hingga Tegal dan Lampung bagian barat. Kekuatan gempa diprediksi sekitar 7 Skala Richter (SR).

Gempa merusak bangunan vital di Het Groot Huis (Istana Gubernur Jenderal) di Sawah Besar Batavia. Sebagian Istana Bogor ambruk. Kerusakan terparah dilaporkan di Cianjur: mayoritas bangunan roboh.

Mengenal Sesar Baribis si penyebab Gempa

Sesar ( patahan ) adalah fraktur planar atau diskontinuitas dalam volume batuan, di mana telah ada perpindahan signifikan sebagai akibat dari gerakan massa batuan. Sesar-Sesar berukuran besar di kerak bumi merupakan hasil dari aksi gaya lempeng tektonik , dengan yang  terbesar membentuk batas-batas antara lempeng, seperti zona subduksi atau sesar transform.

Energi yang dilepaskan menyebabkan gerakan yang cepat pada sesar aktif yang merupakan penyebab utama gempa bumi. Menurut ilmu geofisika, sesar (Patahan) terjadi ketika batuan mengalami tekanan dan suhu yang rendah sehingga sifatnya menjadi britlle (rapuh).

Sesar Baribis merupakan lempeng tektonik aktif yang membentang dari wilayah Cilacap di Jawa Tengah hingga ke kawasan Subang, melintasi beberapa daerah Jawa Barat.

Pada 2016, ahli geodasi Australia Achraff Koulali mempublikasikan temuannya tentang sesar Baribis aktif yang membentang sepanjang 25 kilometer di selatan Jakarta.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal internasional Elsevier. Sesar ini disebut melintang dari Purwakarta, Cibatu-Bekasi, Tangerang, dan Rangkasbitung.

Jika ditarik garis lurus dari Cibatu ke Tangerang, sesar Baribis diprediksi melewati beberapa kecamatan di Jakarta.

Jika Peneliti Australia ini benar predikasinya, maka gempa dahsyat yang menimpa Jakarta seperti di masa silam dapat terulang kembali.

Bila model simulasi gempa masa lalu yang menimpa Jakarta dan pulau Jawa dibayangkan terjadi pada kondisi sekarang, dengan pemukiman berkembang lebih padat dan jumlah penduduk melimpah, potensi pengungsi pada gempa tahun 1780 itu berkisar 50 juta orang dan gempa tahun 1834 mencapai 62 juta orang pada hari ini. Artinya, efek gempa tergolong sangat dahsyat karena sanggup membuat sepertiga penduduk Jawa yang berjumlah 162 juta kehilangan rumah.

Dan, bagaimana jika dihitung berdasarkan jumlah korban?

Kekuatan gempa tahun 1780 ditaksir bisa membunuh 34.000 orang dan gempa tahun 1834 menelan 40.000 korban jiwa dalam kondisi sekarang.(azk)