Banyakin ‘Istighfar’ ; Inilah 2 Gunung Mematikan yang Bisa Mempercepat Kiamat, Salah satunya ada di Indonesia

Spread the love

BataraNews.com – Aktifitas anak gunung Krakatau saat ini sudah berada pada status ‘Waspada’. Dikabarkan, gunung tersebut telah meletus 156 kali sampai Selasa, 2 Oktober 2018 dini hari. Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan gunung di Selat Sunda itu hampir setiap hari meletus.

Sementara itu, aliran lava pijar yang dihasilkan dari letusan Gunung Anak Krakatau telah mencapai pantai. Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, Kristianto membenarkan hal itu.

Kristianto mengatakan, aliran lava hasil erupsi gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih terus mengalir mencapai pantai.

Hampir setiap malam, warga sekitar pesisir Pantai Carita dan Panimbang, Pandeglang, Banten, cemas. Mereka saat ini selalu berjaga-jaga di pinggir pantai untuk memastikan tidak ada terjadinya tsunami. “Kaca jendela rumah sering bergetar Pak. Seperti dekat sekali pusat getarannya. Warga di sini jadi pada resah, apalagi ibu-ibu. Tiap malam kami ronda untuk mengantisipasi tsunami atau gempa,” ucap salah seorang warga, Sanusi, Kamis (4/10/2018) seperti dilansir inews.id.

Senada dengan Sanusi, warga lainnya, Halimah mengatakan, dirinya takut jika letusan Gunung Anak Krakatau bisa berakibat gempa dan tsunami. “Ya kami cemas, takutnya ada tsunami begitu. Tiap dengar suara Gunung Anak Krakatau itu, kami sering berpikir yang tidak-tidak,” ucapnya.

Sementara itu, data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, sejak 18 juni 2018 hingga saat ini, tingkat kegempaan masih tinggi. Data kegempaan terekam di seismograf yang ada di pos pemantauan, Pasauran, Banten.

Meski aktivitas tengah meningkat, namun status Gunung Anak Krakatau masih pada Level II atau Waspada. Masyarakat dan nelayan diimbau untuk tidak mendekati kawah gunung, dalam radius dua kilometer.

Tidak berlebihan jika aktivitas gunung berapi ini harus diwaspadai dan diantisipasi sejak dini, pasalnya, meletusnya gunung berapi selain dapat meminta korban jiwa secara langsung, secara global, gunung berapi yang dianggap mematikan karena letusan maha dahsyatnya, dapat mempengaruhi kehidupan global.

Michael Sendow, seorang penulis Kompasiana menulis tentang 2 gunung yang sangat dahsyat efeknya terhadap kehidupan global. Menurutnya,  ada dua jenis gunung yang harus diwaspadai lebih . Dua gunung yang bakalan mempercepat kiamat seandainya mereka mengamuk, dan meletus. Berikut penjelasannya.

Gunung Yellowstone di Amerika Serikat

Yellowstone boleh saja dianggap sama seperti gunung berapi lainnya, tapi bedanya Yellowstone adalah super volcano (atau dikenal dengan super V), yang jelas-jelas lebih kuat dan lebih dahsyat dari gunung berapi biasa. Super volcano yang ada di dunia ini banyak, tapi selama berabad-abad mereka bisa tersembunyi dengan aman tanpa kita ketahui. Kenapa bisa? Karena kalau gunung berapi biasa, ujungnya mengerucut ke atas seperti bentuk piramida, maka Super V mengerucut ke bawah (piramida terbalik). Moncongnya membenam jauh ke dasar bumi, hal mana menjadikannya sangat berbahaya.

Nah, super volcano paling besar yang sudah ditemukan adalah di taman wisata bernama Yellowstone National Park, Wyoming Amerika Serikat. Dibawah dasar bumi yang terlihat asyik, kalem, dan mempesona di Yellowstone National Park itu sebenarnya tersimpan sesuatu yang maha dahsyat. Yang amat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia modern. Ini disebut juga caldera. Di dalamnya tersimpan gas gunung berapi yang sudah terkurung selama ratusan tahun, magma yang luar biasa banyaknya, serta batu-batu gunung yang sangat keras. Tingkat kekuatan ledakan Yellowstone diperkirakan berada pada tingkatan paling tinggi yang paling mungkin terjadi dalam sejarah yaitu VEI 8, atau dikenal dengan TheHighest Possible Level of Volcano Explosivity Index. Kalau ledakan itu terjadi, bukan hanya Amerika yang akan tenggelam, tapi dunia bakalan ‘kiamat’.

Pertanyaannya adalah: Akankah Yellowstone meletus?

Beberapa fakta dan data mengamini itu. Jawaban para ahli mendukungnya. Akhir-akhir ini aktivitas Yellowstone semakin meningkat. Bahkan Amerika memiliki sebuah badan khusus yang tugasnya memantau aktivitas gunung ini setiap bulannya. Beberapa hasil pantaunnya dapat dilihat di sini: http://volcanoes.usgs.gov/yvo/activity/

Ada beberapa tanda-tanda yang mulai terlihat, misalnya saja temperatur yang dimiliki danau glacial di Yellowstone mulai meningkat. Timbunan-timbunan di dasar danau semakin bertambah besar. Ventilasi hawa panas disepanjang Norris Geyser rupa-rupanya juga mengakibatkan temperatur tanah dataran sekitar situ meningkat sangat signifikan.

Pada bulan Oktober 2011 lalu, sebuah badan kerja sama yang terdiri dari badan pemantau Super V Yellowstone yaitu The Yellowstone Volcano Observatory (YVO) dan lembaga survey geologi Amerika, dikenal dengan nama The U.S. Geological Survey (USGS), sudah mencatat begitu banyak aktivitas gempa di National Park itu. Tercatat sekitar 27 gempa telah terjadi. Bulan sebelumnya (September 2011) bahkan lebih banyak lagi yaitu 45 kali gempa. Pada bulan Juli terjadi aktivitas gempa 50-an kali. Ini jelas menandakan keaktifan Yellowstone semakin menampak. Memang letusan Yellowstone yang paling akhir terjadi sekitar 70.000 tahun lalu. Tapi kapan ia akan kembali meletus? Masih tanda tanya.

Gunung Anak Krakatau di Indonesia

Anak yang terlahir ini bukanlah anak haram. Ia memang lahir setelah orang tuanya lenyap. Tepatnya 40 tahun setelah kepergian Induk Krakatau yang meletus mahadahsyat, lalu kemudian melahirkan anak yang terus bertumbuh besar. Hari lahirnya tercatat resmi pada tahun 1927.Munculnya gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut tentu menimbulkan rasa was-was yang sama. Akankah ia akan se-ganas dan se-dahsyat leluhurnya?

Faktanya, tiap tahun ia bertumbuh dan bertambah tinggi. Melalui kalkulasi maka para ahli menyimpulkan bahwa kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Oleh karena itu diketahuilah berapa penambahan tinggi setiap tahunnya. Saat ini, ketinggian Anak Krakatau sudah mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara induknya yaitu Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.

Kita mungkin trauma dan takut dengan peristiwa sejarah kelam meletusnya Gunung Krakatau. Betapa banyak jiwa menjadi korban dari amukan gunung yang sungguh luar biasa itu. Dan betapa kita tak bisa mencegah sebuah gunung untuk supaya tidak meletus. Menurut sorang ahli bernama Simon Winchester, bahwa realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Tapi ia diperkirakan akan mengikuti jejak induknya. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan ini akan terjadi antara tahun 2015-2083.

Tapi ada beberapa pakar lainnya yang menyatakan bahwa tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus dalam waktu dekat ini. Tapi mereka menegaskan, kalau sampai ia meletus maka akan sangat berbahaya.  Andaikata ia benar-benar meletus setelah tingginya melampaui induknya, jelas sekali angka korban yang ditimbulkan akan lebih dahsyat dari letusan induknya. Lalu kapan ia akan meletus dan mempercepat kiamat? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mampu menganalisa dan memprediksi kekuatan alam, tapi hanya Tuhan yang maha mengetahui.

Seandainya Super V-Yellowstone dan Anak Krakatau meletus, batu-batu luar biasa besar, lava panas, kumpulan magma dan semua isi perut gunung akan terlontar ke udara dengan kecepatan supersonic. Kota-kota disekitarnya terancam bahaya besar. Pada tingkat berikutnya adalah racun-racun radioaktif yang berhamburan jatuh dari angkasa. Awan abu beterbangan di atas benua-benua, menghentikan semua jadwal penerbangan yang ada, menurut estimasi bisa selama 3-5 tahun. Awan abu itu juga akan menutup sinar matahari.

Akibatnya? Sungguh mengerikan, karena tertutupnya sinar matahari menyebabkan menurunnya temperatur udara dan sangat mungkin diikuti oleh apa yang dikenal sebagai “nuclear winter” (hujan nuklir). Tidak ada penerbangan, tidak ada satelit, tidak ada hubungan radio apapun, dan hujan radioaktif semakin memperparah keadaan. Teknologi menjadi putus bahkan mati sama sekali, tentu ini menyisahkan pertanyaan maha penting: Tanpa teknologi, bagaimana nasib generasi sesudah letusan itu?(azk)