5 Bulan Sebelum di Terjang Gempa dan Tsunami, Aktifis Anti LGBT Sebut LGBT di Palu Meningkat Tajam

Spread the love

BataraNews.com – Lima bulan sebelum kejadian diterjangnya kota Palu dan Donggala oleh keganasan Gempa dan Tsunami, sejumlah aktifitis Anti LGBT pernah mengadakan konferensi Pers terkait maraknya praktik LGBT di kota Palu yang semakin mengkhawatirkan.

Dalam konferensi pers tersebut sejumlah mahasiswi gerakan anti-LGBT memaparkan, berdasarkan penelusuran mereka perilaku lesbian, gay dan transgender di Kota Palu telah telah meningkat tajam.

Bahkan para pelaku LGBT sudah tidak malu lagi memperlihatkan perilakunya di tempat umum bahkan mulai merekrut orang lain untuk bergabung bersama mereka dalam komunitas LGBT di Kota Palu.

Sementara itu, gerakan anti-LGBT mengatakan salah satu grup LGBT yang banyak pengikutnya di media sosial ialah grup @gaykotapalu yang kini beranggotakan 1.553 orang anggota.

Nulfa aktivis anti-LGBT mengatakan bahwa, LGBT merupakan perilaku yang menyimpang dan dilaknat oleh Allah SWT.

Menurut Nulfa, hal ini bisa terjadi di Kota Palu karena didasari oleh paham sekuler.

Sedangkan bila dilansir laman infopena yang telah menelusuri maraknya LGBT di Kota Palu sejak setahun lalu, info yang disampaikan aktifis anti LGBT benar adanya.

Menurut penelusuran Tim infopena.com, mereka menemukan adanya beberapa grup aktif di sosial media Facebook yang menjadi forum para kaum LGBT yang berada di Kota Palu. Salah satunya adalah grup “Gay Palu & Sekitarnya” dan “Gay Kota Palu”.

Mereka menjadikan grup tersebut sebagai forum khusus untuk saling berkenalan, curhat sesama gay, menawarkan diri mereka untuk dijadikan pacar, bahkan sebagai pasangan untuk saling berhubungan seks.

Satu hal yang cukup mencengangkan setelah menyimak dengan baik isi grup ini. Ternyata para penyuka sesama jenis di kota Palu bukan hanya dari kalangan bertubuh gemulai, namun mereka yang berotot bahkan sama sekali berperawakan layaknya pria normal, ternyata juga merupakan seorang gay.

Tidak hanya pria dewasa, ternyata praktik LGBT di Kota Palu sudah merambah para pelajar yang masih duduk di tingkat SMP dan SMA. Buktinya, terdapat grup penyuka sesama jenis khusus pelajar usia sekolah bernama “GAY SMP N SMA/SMK KOTA PALU”. Grup tersebut bersifat tertutup namun berisi ribuan anggota aktif. Setelah menunggu beberapa jam, salah satu wartawan kami berhasil masuk ke dalam grup tersebut. Mengejutkan! Tak hanya sekedar nama, grup ini ternyata memang benar-benar berisi sekumpulan penyuka sesama jenis yang masih berusia pelajar.

Setelah menelusuri lebih mendalam tentang isi grup ini, ternyata banyak fakta dan pengakuan mengejutkan yang tersimpan mengenai perilaku LGBT yang mereka lakukan selama ini. Beberapa lelaki penyuka sesama jenis mengaku menjadi seorang gay sejak masih berada di bangku SMP. Bahkan ada pula yang menjadi gay saat masih SD.

Dalam kamus Islam, LGBT dapat disebut juga Liwath. Liwath adalah perbuatan keji yang dilakukan kaum Nabi Luth Alaihis salaam (As) -yaitu Homoseksual dan Lesbian – yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh siapapun. Allah berfirman:

“Dan ingatlah Luth ketika berkata pada kaumnya: Apakah kalian melakukan al-fahisyah yang belum pernah dilakukan seorangpun di alam ini. Sungguh kalian mendatangi laki-laki bukan wanita dengan penuh syahwat. Sungguh kalian kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]: 81).

Senada itu,  Ibnu al-Qayyim menerangkan, ketika akibat buruk/dampak dari perbuatan liwaath adalah kerusakan yang besar, maka balasan yang diterima di dunia dan akhirat adalah siksaan yang berat (al-Jawab al-Kafi liman Sa-ala ‘an ad-Dawaa asy-Syafi).

Hukuman berat tersebut berupa adzab yang bertubi-tubi pada pelaku homoseksual dari kaum Nabi Luth. Mereka dibinasakan dengan suara yang keras, dibenamkan ke dalam tanah lalu dihujani dengan batu.

Sungguh mereka terombang-ambing dalam kemabukan mereka (kesesatan). Maka mereka dibinasakan oleh suara keras ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari sijjil.” (QS. Al-Hijr [15]: 72-74).

Tiga bentuk siksaan sekaligus yang ditimpakan kepada pelaku gay dari kaum Nabi Luth menunjukkan beratnya kejahatan yang mereka perbuat. Untuk itu mayoritas ulama (jumhur) sepakat membunuh pelaku perbuatan dosa tersebut, baik pelaku maupun korbannya. Jumhur ulama menyepakati hukum had yang ditegakkan pada mereka haruslah lebih berat daripada had zina. Mereka hanya berselisih tentang cara penegakan hukum had tersebut.

Ibnu Abbas meriwayatkan:

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan korbannya.” (HR. Ibnu Majah).

Melihat beratnya adzab dan hukuman yang harus ditimpakan pada pelaku homoseksual, menjadikan umat Islam tak boleh berpangku tangan membiarkan para pegiat LGBT melakukan lobi sosial dan politik untuk mendapatkan legalitas hukum dan penerimaan dari masyarakat. Karena bisa jadi adzab yang ditimpakan bukan hanya mengenai para pelaku dan pegiat LGBT tersebut, namun juga menimpa manusia yang hanya diam menonton tak berbuat sesuatu apapun. (azk)