Marketplace di Dominasi Produk Cina, Produk Lokal dianak-tirikan, Ini Kata Pemerintah

Spread the love

BataraNews.com – Mendominasi produk Marketplace tanah air, produk impor terutama produk dari Cina masih jadi primadona konsumen Indonesia. Lebih dari 80% produk Cina dijual di hampir semua Marketplace online di Indonesia.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjelaskan saat ini 90 persen lebih produk yang dijual di marketplace di Indonesia adalah produk impor. Direktur Jenderal Industri Kecil dan menengah (IKM) Gati Wibawaningsih menyebut hal ini dipengaruhi oleh lebih murahnya produk yang ditawarkan di luar negeri seperti dilansir Laman Bisnis.com

“Lebih dari 90 persen itu barang impor yang dijual di marketplace  seperti baju itu barang impor. Biaya produksi di sana lebih murah,” kata Gati.

“Harga yang lebih murah ini bisa didapat karena mereka bisa menekan biaya produksi. Biaya produksi yang rendah ini didapat dari biaya bahan baku yang murah, bukan lantaran biaya tenaga kerja diluar negeri yang lebih murah”tuturnya lagi.

Sementara itu, penilaian beda lagi diungkapkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro. Bambang menuding maraknya penjualan barang impor di pusat dagang secara daring (market place) disebabkan oleh kepemilikan saham asing yang semakin besar.

“Ada kemungkinan barang-barang yang diperjualbelikan di e-commerce atau online atau marketplace itu dibanjiri barang impor, dan terus terang ini terkait kepemilikan saham di perusahaan marketplace tadi,” ujar Bambang saat menghadiri acara Quo Vadis Ekonomi Digital Indonesia di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (21/2).

Data menyebutkan bahwa marketplace-marketplace besar di tanah air seperti misalnya Tokopedia mendapat investasi modal sebesar  US$1,1 miliar dari Alibaba Group, korporasi asal China, tahun lalu. Alibaba juga merupakan pengendali marketplace Lazada dengan kepemilikan saham 83 persen.

Bambang mengungkapkan pemerintah menyambut baik masuknya investasi asing di sektor ritel online. Namun, tingginya pertumbuhan impor barang konsumsi perlu disikapi dengan cara penguatan regulasi.

“Kami khawatir juga perdagangan onlinenya marak, tetapi industri kecil dan menengah tidak bisa mendapatkan manfaat,” ujarnya.

Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Erwin Haryono turut berkomentar terhadap serbuan produk Cina di Marketplace tanah air. Menurutnya, seperti dilansir laman liputn6.com, saat ini China menjadi penguasa e-commerce di ASEAN, bahkan di Asia. Tidak hanya itu, 80 persen produk yang di jual di situs belanja online adalah produk impor, dimana impor ini didominasi produk dari China.

“Yang perlu diperhatikan, kalau kita hanya kembangkan e-commerce saja, tanpa bangun ekosistem produk UMKM itu tadi, malah bukan berimpact positif tapi malah menambah current account defisit dan menambah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” paparnya.

Sebenarnya, lanjut Erwin, Indonesia memiliki potensi pengembangan ekonomi digital yang luar biasa. Hal itu di buktikan dengan jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta jiwa dan memiliki bonus demografi.

“Jadi memang banyak sekali PR yang harus kita lakukan kalau memang tidak suka dominasi negara asing di e-commerce kita sekarang,” pungkas Erwin.(azk)