Jokowi Sebut UMR di Cina 8 jutaan, Faktanya, UMR-nya Mirip-mirip dengan disini

Spread the love

BataraNews.com – Video singkat terciduknya TKA Cina yang sedang mengukur-ukur jalan di salah satu kawasan di bekasi sedang viral dibicarakan. Pasalnya ketika ada yang bertanya-tanya kepada mereka, TKA Cina tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia. Padahal, pekerjaan tersebut pun tidak perlu keahlian khusus dan bisa dilakukan oleh banyak pekerja lokal.

Video ini pun sontak kembali dibicarakan terkait kebijakan pemerintah Jokowi yang terlalu longgar dalam menentukan kebijakan tentang TKA ini. Pemerintah seolah tutup mata dan telinga dengan kritik masyarakat yang meminta agar direvisi tentang Undang-Undang TKA dan lebih tegas dalam menjalankannya.

Kalau berbicara di atas kertas, memang dalam ketentuan yang berlaku, TKA tidak diperkenankan masuk ke dalam pekerjaan yang tergolong kasar.

Menurut Bagong Suyanto, Guru Besar Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga seperti dilansir laman republika.co.idTKA hanya diperkenankan masuk dalam pekerjaan berkeahlian dan dituntut pula melakukan transfer teknologi serta kemampuan mereka kepada tenaga kerja lokal. Namun dalam kenyataannya, sering terjadi aturan itu hanya menjadi macan di atas kertas.

Fakta dilapangan, Gaji yang didapatkan TKA Cina yang bekerja dengan level yang sama bisa  digaji 3 kali atau 4 kali lebih banyak daripada pekerja lokal. Jokowi dalam kesempatan lain pernah berkomentar soal alasan gaji TKA lebih tinggi daripada pekerja lokal.

Jokowi mengungkapkan seperti dilansir laman Merdeka.com, bahwa gaji terendah di Cina sudah mencapai setara Rp 8 juta untuk level terbawah. Sementara upah minimum regional (UMR) di Indonesia masih di bawah Rp 3 juta. Sehingga, dengan perbedaan gaji tersebut, pekerja di China pasti akan berpikir dua kali untuk bekerja di Indonesia.

“Sementara di Sumbar UMR sekitar Rp 2,1 juta, mau enggak kira-kira orang sana dibawa ke sini kemudian digaji setara UMR di sini?,” tanya Jokowi.

Secara logika, lanjut Jokowi, kalau ada perusahaan dari China di Indonesia tentu akan memilih mempekerjakan tenaga lokal karena gajinya lebih murah dibandingkan mendatangkan pekerja dari negaranya.

“Atau mau enggak tenaga kerja Indonesia kerja di negara yang gajinya Rp 500 ribu, padahal di sini sudah Rp 2 juta,” lanjut dia.

Namun Fakta lain dengan pernyataan Jokowi tersebut justru diungkapkan oleh situs tentang gaji seluruh dunia, Berdasarkan situs gaji WageIndicator.org, besaran upah minimum dari setiap kota di China berbeda-beda, mirip dengan Indonesia. Penetapan gaji pun bisa berdasarkan bulanan ataupun per jam.

Pada penetapan gaji periode 2016-2017, gaji minimal bulanan tertinggi berada di pusat bisnis dan industri seperti Kota Shanghai 2.190 RMB atau setara Rp 4.380.000/bulan (asumsi 1 RMB = Rp 2.000), Shenzhen 2.030 RMB, Tianjin 1.970 RMB, Beijing 1.890 RMB atau setara dengan Rp.3.780.000/bulan dan terendah di guangxi 1.000 RMB atau setara dengan Rp.2.000.000/bln. (azk)