BataraNews.com – Impor kacang kedelai Indonesia terus mengalami kenaikan. Hal ini menjadi indikasi kebutuhan masyarakat terhadap bahan baku produk tahu tempe ini terus naik. Di sisi lain, produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan kedelai.

Mengutip informasi dari United States Department Agriculture (USDA) menyebutkan hingga 16 Agustus, ekspor kacang kedelai AS ke Indonesia sepanjang tahun ini telah mencapai 2,342 juta ton.

Siti Sustinah (34) salah satu produsen tempe di Kampung Pucangsari, Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, mengutip laman Kompas, menyebutkan saat ini harga kedelai impor mencapai Rp 7.500 per kilogram. Menurutnya, kenaikan harga kedelai impor terjadi sejak Februari 2018 lalu, dari Rp 6.800 per kilogram. “Naiknya tidak langsung tapi mulai dari Rp 50 – Rp 100 per kilogram, sampai sekarang menjadi Rp 7.800 per kilogram,” jelas Susi – panggilan Siti Sustinah, ditemui di rumah produksinya, Kamis (6/9/2018).

Lain lagi cerita Perajin tempe asal Pucangan, seperti dikutip laman krjogja.com, Kartasura Heru Ngatmanto mengatakan, juga ikut merasakan dampak dari kenaikan harga kedelai impor. Sebab kedelai asal AS tersebut menjadi bahan baku utama produksi tempe di tempatnya.

“Sejak sekitar dua minggu saya sudah kurangi takaran produksi tempe. Ukurannya jadi lebih kecil menyesuaikan naiknya harga bahan baku kedelai impor,” ujarnya.

Heru mengaku tidak berani menaikan harga jual tempe yang diproduksi karena takut diprotes dan ditinggalkan pelanggannya. “Saingan perajin tempe sekarang semakin ketat. Banyak yang buka usaha baru dengan modal besar sedangkan perajin seperti saya modalnya terbatas dan memilih memanjakan pelanggan,” lanjutnya.(azk)