Sukses Ekspor Bibit Ayam Petelur keluar Negeri, Harga Bibit Ayam Petelur Dalam Negeri Masih Tinggi

Spread the love

BataraNews.com – PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk lakukan ekspor perdananya tahun ini sebanyak 17.340 ekor DOC FS Layer  (bibit Ayam Petelur)  senilai USD 9.435 . Ini merupakan pengiriman awal dari total rencana sekitar 35 ribu ekor senilai USD 19.425 untuk tahun 2018.

General Manager PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk Regional Bali dan Nusa Tenggara I Nengah Suardana mengatakan selain Timor Leste, pihaknya akan menyasar pasar negara tetangga lainnya. Negara yang dalam tahap penjajakan itu di antaranya Papua Nugini, China, Jepang dan Fiji.

“Kami optimis bisa memperluas pasa ekspor. Dengan ekspor ke Timor Leste ini artinya kualitas kami sudah standar internasional,” ucapnya.

Keberhasilan mengekspor ribuan bibit ayam petelur ke luar negeri turut disupport Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. “Usaha Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, sekaligus kemampuan untuk memenuhi standar dan aturan internasional adalah kunci bagi produk pertanian kita untuk bisa tembus ke pasar Internasional. Ekspor pertanian Indonesia saat ini adalah bukti bahwa petani dan peternak kita mampu memenuhinya,” kata Amran dalam keterangan tertulis, Jumat (9/7/2018).  Menurutnya, produk pertanian dan peternakan punya potensi besar untuk masuk ke pasar ekspor dunia.

Namun ditengah keberhasilan ekspor ini, muncul  kritikan dari peternak ayam petelur dalam negeri.

Dikutip dari laman Kontan.co.id, Koordinator Forum Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar mengatakan, harga bibit ayam petelur atau layer melonjak drastis dalam beberapa bulan terakhir. Saat ini, rata-rata harga DOC layer senilai Rp 8.000 per ekor. Harga tersebut jauh di atas harga normal yakni sebesar Rp 5.000-Rp 6.000 per ekor.

Kenaikan harga DOC layer ini sudah terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan belum pernah turun lagi. Kondisi ini membuat peternak ayam petelur mengeluh karena pada waktu bersamaan harga telur jatuh mencapai rata-rata Rp 14.800 per kg hingga Rp 16.500 per kg.’

Padahal idealnya harga telur di tingkat peternak sebesar Rp 17.449 per kg dengan perhitungan harga jagung Rp 3.250 per kg, dengan harga ideal DOC Rp 5.000 per ekor. Namun fakta di lapangan harga jagung malah rata-rata Rp 4.000 per kg, dan harga DOC layaer Rp 8.000 per kg. Maka dengan kondisi seperti ini, idealnya harga telur ditingkat peternak sebesar Rp 19.280 per kg.

“Karena kondisi yang seperti ini, maka bisnis dan keuangan peternak layer hancur lebur,” ujarnya.

Musbar menjelaskan, hancurnya harga telur ayam disebabkan tingginya impor telur olahan dari consumer goods. Ia memperkirakan rata-rata niai impor telur olahan mencapai US$ 2 juta per bulan. Impor telur ini berbanding terbalik dengan kondisi peternak dalam negeri yang sudah mampu mencukupi kebutuhan telur dan daging ayam. Namun, pemerintah justru membuka pintu impor telur olahan dari China.

Ia bilang, seharusnya, Kementerian Pertanian (Kemtan) juga berani menutup pintu impor telur olahan seperti halnya dilakukan pada penghentikan impor jagung dari luar negeri. Sebab bila harga telur ayam jatuh terus, maka peternak juga akan membatasi pembelian jagung petani yang sudah mulai memasuki panen raya pada bulan ini.

Musbar mendesak Kemtan dan Kementerian Perdagangan (Kemdag) memiliki grand desain bersama dalam hal pengelolaan produk peternakan seperti telur dan jagung.(azk)