BataraNews.com – Abu Bakar As Siddiq r.a. dikenal sebagai Khalifah yang memiliki perasaan yang halus dan mencintai kaummnya sebagaimana seperti yang Rasulullah SAW ajarkan. Namun ditengah sifat perasa dan sifat lembutnya tersebut, Abu Bakar dikenal juga sebagai pemimpin yang tegas menegakkan syariat Allah SWT dan nabinya. Hal tersebut pernah tercatat dalam sejarah manakalah Abu Bakar r.a., memerintahkan untuk memerangi Nabi Palsu dan memerangi pula orang-orang yang enggan membayar zakat.

Pernah hidup menjadi pemimpin umat tertinggi setelah wafatnya Rasulullah SAW tidak menjadikan Abu Bakar r.a. lupa diri dan memanfaatkan kedudukanya untuk tujuan keduniawiannya sebagaimana kebanyakan manusia kalah jika diuji dengan ujian ini.

Al Bazzar mengeluarkan hadis dari Zaid bin Arqam r.a. yang berkata: Kami tengah bersama sama dengan Abu Bakar r.a. kepada kami disuguhkan air dengan campuran madu. Tatkala air minum itu diberikan kepada Abu Bakar, ia menangis. Kami mengira ia mempunyai suatu masalah dan kami tidak menanyakan saat itu. Usai tangisannya mereda barulah kami bertanya:

Wahai Khalifah Rasulullah, apa yang menyebabkanmu menangis? Ia menjelaskan: Suatu hari aku bersama sama dengan Rasulullah saw. Aku melihat beliau mengibaskan tangannya, padahal aku tidak melihat sesuatu. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa Engkau mengibaskan tanganmu padahal aku tidak melihat sesuatu? Beliau menjelaskan: “kepadaku (seakan akan) dibentangkan dunia, maka aku berkata: menjauhlah dariku! Ia berkata: Engkau memang tidak akan mendapatkanku.” Abu Bakar berkata: Aku khawatir aku menyelisihi perintah Rasulullah saw. karena (terbuai oleh) dunia .

Kisah Abu Bakar saat baru diangkat menjadi Khalifah pun tak kalah indahnya, dari Ibnu Sa’ad meriwayatkan hadits dari ‘Atha bin Saib yang berkata: Tatkala Abu Bakar dibai’at, pagi harinya ia sudah pergi (untuk berdagang) ke pasar.

Umar bertanya kepadanya: Engkau hendak ke mana? Dijawabnya: Ke pasar. Umar berkata: Untuk melakukan apa, sementara Engkau sudah menjadi Amirul mukminin? Abu Bakar bertanya: Lalu dari mana keluargaku mendapatkan makanannya? Umar berkata: Kalau begitu mari kita pergi kepada Abu Ubaidah r.a. agar ia memberimu santunan.

Keduanya pergi mendatangi Abu Ubaidah. Abu Ubaidah berkata: Aku berikan kepadamu santunan sama dengan yang diberikan kepada orang muhajirin (lainnya). Tidak terlalu mewah, tapi juga tidak terlalu di bawah standar. Juga mendapatkan baju musim panas dan musim dingin. Jika baju itu rusak, kembalikan untuk ditukar dengan yang baru. Kepada Abu Bakar juga diberikan setiap harinya daging kambing separuh, tidak termasuk kepala dan isi perutnya.

Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan hadis dari Humaid bin Hilal yang berkata: Tatkala Abu Bakar terpilih sebagai khalifah, para sahabat Rasulullah saw. berkata: Apakah kalian mau memberikan kepada Khalifah  (keperluan) hidupnya? Mereka menjawab: Ya. Yaitu pakaian untuk dua musim (panas dan dingin), jika sudah rusak bisa ditukar, hewan tunggangan dan nafkah untuk keluarganya, yang nilainya sama seperti keperluannya pada saat belum menjabat sebagai Khalifah. Abu Bakar berkata: Aku ridha”.

Menjelang wafatnya, Abu Bakar r.a. tidak meninggalkan harta sedikitpun, Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Aisyah r.a. yang berkata: Abu Bakar r.a. wafat dan tidak meninggalkan harta, baik satu dinar atau satu dirham pun. Karena sebelumnya ia telah menyerahkan hartanya kepada Baitul Mal. Imam Ahmad juga menceritakan dari Urwah bahwa Abu Bakar, ketika menyerahkan hartanya ke Baitul Mal dan tidak menyisahkan satu dinar maupun satu dirham pun berkata: Dulunya aku adalah seorang pedagang dan sibuk mengurusi (harta) dagangan. Tapi sejak aku mengurusi mereka (kaum muslim), kesibukanku beralih dari mengurusi perniagaan menjadi mengurusi (masyarakat) .

Nasihat-nasihat Abu Bakar pun banyak dipenuhi pesan-pesan takwa dan nilai-nilai kehidupan yang sarat ilmu, berikut ini di antara nasihatnya dalam khotbahnya yang diucapkan oleh Abu Bakar As-Siddiq r.a. :

“Bahwa tidakkah kalian ketahui bahwa kalian berpagi hari dan bersore hari sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan? Maka barang siapa yang mampu menghabiskan waktunya untuk beramal karena Allah Swt, hendaklah ia mengerjakannya. Dan kalian tidak akan dapat meraih hal itu kecuali dengan pertolongan Allah Swt.

Sesungguhnya ada suatu kaum yang menghabiskan waktu (usia) mereka untuk selain diri mereka. Maka Allah melarang kalian menjadi orang seperti mereka.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. (Al-Hasyr: 19) Manakah teman-teman kalian yang kalian kenal? Mereka telah menunaikan amal perbuatan mereka di masa lalu. Akhirnya mereka menerima balasannya, ada yang berbahagia dan ada yang celaka.

Di manakah orang-orang yang sewenang-wenang yang terdahulu yang telah menghuni kota-kota besar yang mereka bentengi dengan tembok-tembok yang tinggi, kini mereka telah berada di bawah batu dan sumur. Dan ini adalah Kitabullah yang keajaibannya tidak pernah lenyap, maka ambillah penerangan darinya untuk menghadapi hari yang gelap.

Dan ambillah penerangan dari sinar dan keterangannya. Sesungguhnya Allah telah memuji Zakaria dan ahli baitnya melalui firman-Nya: Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (Al-Anbiya: 90)

Tiada kebaikan pada ucapan yang tidak dimaksudkan untuk mendapat ridha Allah, dan tiada kebaikan pada harta yang tidak dibelanjakan kepada jalan Allah. Dan tiada kebaikan pada orang yang sifat bodohnya mengalah­kan sifat penyantunnya. Dan tiada kebaikan pada orang yang takut kepada celaan orang yang mencela dalam membela agama Allah.” (azk)