Krisis Lira Turki, Sejatinya Perang Intelijen Erdogan VS Trump

Spread the love

BataraNews.com –  Fakta krisis ekonomi yang terjadi di Turki akibat jatuhnya mata uang Turki, sejatinya tidaklah  memiliki latar belakang yang sama dengan apa yang terjadi di Indonesia. Bila melihat fakta berita, Krisis Turki lebih diakibatkan karena faktor politik luar negeri Turki yang bisa dibilang berani dalam melindungi negaranya dari pengaruh Amerika yang sampai saat ini masih dianggap negara superior.

Bermula dari ditahannya pendeta asal Amerika yang dipenjara di Turki sejak Desember 2016 diadili hari Senin (16/4), menghadapi ancaman hukuman penjara hingga 35 tahun.

Pendeta Andrew Brunson menghadapi tuduhan “melakukan kejahatan atas nama kelompok teror tanpa menjadi anggota” dan “mata-mata”. Dia ditangkap lebih dari setahun yang lalu karena diduga memiliki hubungan dengan kelompok pemberontak Kurdi yang dilarang dan pengikut ulama Muslim Turki, Fethullah Gulen, yang dicap sebagai teroris oleh Turki. Pendeta Brunson dan istrinya mengelola sebuah gereja Kristen di Izmir, sebuah kota di pesisir Laut Aegea.

Brunson membantah semua tuduhan terhadapnya. Amerika berulang kali meminta Turki untuk membebaskannya, termasuk permintaan dari Presiden AS, Donald Trump untuk “secepatnya” memulangkan pendeta itu.

Brunson, yang telah tinggal di Turki selama 23 tahun, dan istrinya, Norine, ditangkap karena tuduhan pelanggaran imigrasi pada Oktober 2016. Istrinya dibebaskan, sementara tuduhan terhadap Brunson ditingkatkan menjadi pendukung jaringan Gulen, yang oleh Turki dianggap sebagai organisasi teroris.

Pada September, Turki mengatakan akan membebaskan Brunson jika Amerika mengekstradisi Gulen, yang tinggal di pengasingan di Pennsylvania.

“Mereka minta pendeta mereka dipulangkan. Anda mempunyai seorang ulama (Gulen) di sana. Serahkan dia kepada kami, dan kami akan memulangkan Brunson,” kata Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi.

Sikap inilah yang kemudian membuat berang Amerika yang saat ini dipimpin Trump dan seperti diketahui, terjun bebasnya Lira Turki karena Trump memberikan sanksi ekonomi kepada Turki melalui double tarif. Terutama, untuk produk aluminium dan baja.

Dalam kesempatan lain seperti dikutip laman Ar Rahmah, Trump mengatakan dia merasa secara pribadi dikecewakan oleh  Erdoğan atas penolakannya untuk melepaskan seorang pendeta evangelis Amerika setelah Washington membantu membebaskan seorang warga Turki yang ditahan Israel.

“Saya kecewa padanya,” kata Trump pada 30 Agustus dalam wawancara Oval Office dengan Bloomberg News, setelah awalnya menolak berkomentar.

“Saya mengembalikan seseorang untuknya,” kata Trump. “Saya sangat kecewa padanya, tetapi kami akan melihat bagaimana semuanya berjalan.”

Sementara itu Turki seakan tidak bergeming menghadapi tekanan Amerika bahkan  Erdogan memberikan komentar tajam mengenai krisis ekonomi yang sedang berlangsung di negaranya, “Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk melihat orang-orang di balik fluktuasi nilai tukar lira, itu adalah operasi melawan Turki, kata  Erdogan, dikutip Sputnik pada Jumat (31/8/2018).

Pemerintah Turki dan bank sentral mengambil langkah untuk mempertahankan mata uang negara, karena berlanjutnya kebuntuan diplomatik dengan AS telah merusak sentimen investor dan mendorong arus keluar modal dari negara tersebut.

Sanksi AS memiliki potensi untuk menciptakan masalah, termasuk ketidakstabilan di kawasan itu, dan langkah-langkah tersebut diambil secara sengaja terhadap Turki karena alasan politik, menurut menteri keuangan Turki.

Beruntungnya, Turki bukanlah negara yang sangat bergantung pada negara lain dalam hal makanan. Pertanian masih menjadi penghasilan mayoritas masyarakat Turki selain sektor industri dan jasa. Sekitar 35.5 persen dari tanah Turki merupakan lahan subur dan 15 persen terdiri dari hutan.

Bahkan lahan yang dibudidayakan adalah sekitar 24 juta hektar pada 2015. Ditambah dengan Southeast Anatolian Project yang mengembangkan pertanian di Turki. Pertanian di sini makin modern dan besar. Meskipun nilai Lira Turki melemah, hal tersebut tidak mempengaruhi harga bahan pokok seperti roti, keju, yogurt. Termasuk ayran, minuman khas Turki.

Hingga Kini Erdogan terus menyiagakan negaranya tidak hanya dari segi ekonomi namun juga di segi pertahanan negaranya seperti dilansir laman matamatapolitik.com, tidak ada keraguan bahwa Turki adalah tujuan strategis di mata AS. Turki di bawah Presiden Erdogan bukan negara yang sama seperti saat berada di bawah Kemal Ataturk, di mana Erdogan menggantikan presiden yang pro-AS tersebut melalui pembentukan militer yang dijalankan oleh Washington.

Turki di masa lalu—anggota NATO yang dilunakkan oleh AS untuk jatuh ke dalam orbitnya—telah melepaskan diri dari lingkaran tersebut. Oleh karena itu, AS merasa bahwa sudah waktunya bagi Turki untuk kembali pada AS dan mematahkan semangatnya, sehingga Turki tidak akan mengulangi pemberontakannya. Ini tidak akan terjadi tanpa melepaskan Erdogan dari kekuasaan dan menghilangkannya dari Turki. (azk)