Antara Suka Cita dan Derai Air Mata Kesedihan (Renungan Akhir Ramadhan dan Awal Lebaran)

Spread the love

Oleh: Abu Abd Rahman bin Muhammad Suud al Atsary

BataraNews.com, Jakarta– و لتكملوا العدة و لتكبروا الله على ما هدكم و لعلكم تشكرون

 

سورة  2 البقرة 185

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam memberikan kabar gembira kepada kita ummatnya,

للصائم فرحتان ، فرحة عند فطره ، و فرحة عند لقاء ربه

Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, gembira ketika berbuka (di Iedul Fitri), dan gembira saat bertemu dengan Rabbnya. Wahai kaum muslimin, tentu dengan datangnya Iedul Fitri menjadikan hati hati kaum muslimin bergembira. Gembira di satu sisi, yakni ia telah menyelesaikan rangkaian ibadah di bulan ramadhan, baik shiyam, qiyam, tilawah, shadaqoh, dan kebaikan kebaikan yang lain.

Juga karena kita memuji Allah subhanahu wa taala dengan kebesaran Nya, dengan shalat ied, dan juga telah menunaikan zakat, dan menjalin silaturahim dan menyambung kekerabatan dan persaudaraan. Semua itu patut menjadikan kita bersyukur kepada pemberi nikmat, kesehatan, dan kelapangan, Allah subhanahu wa taala. Di sisi lain, kita bersedih, bersedih karena kita meninggalkan bulan ramadhan, Adakah kesedihan yang lebih besar, di hati para pendamba surga, melebihi hari hari ini?

Saat ramadhan meninggalkan kita, sementara mereka menyesali diri karena kekurangan kekurangan mereka dan sedikitnya semangat mereka dalam penghambaan kepada Rabbnya, serta sedikitnya berbuat kebaikan selama di hari hari ramadhan. Wahai para pecinta surga, wahai orang orang yang mendamba ampunan Allah, wahai orang orang yang loba kepada kebaikan.

Sungguh telah berderai air mata ini, karena berpisah dengannya, karena para peserta perlombaan telah melewati tali garis akhir, sementara orang orang yang  tertinggal, tidak mampu lagi menyusul ketertingalannya dari para kafilah kejuaraan selama ramadhan.

Wahai jiwa jiwa lemah, sesalilah kelambatanmu selama ramadhan, Wahai yang berderai air mata, seka air matamu, karena ketertinggalan dari para kafilah, karena sungguh tidak ada yang patut di sesali kecuali diri sendiri. Akhir Ramadhan dan awal Iedul Fitri, adalah waktu hitung hitungan untung dan rugi.

Di riwayatkan dalam kitab Lathaifu Maarif, bahwa Ali bin  Abi Thalib berseru dalam malam Iedul Fitri, “Aduh celaka !!!, siapakah yang di terima amalannya selama Ramadhan, sehingga aku akan ucapkan suka cita padanya, dan siapa yang ditolak amalannya, sehingga aku akan menyampaikan duka cita padanya” Inilah waktu nya wahai saudaraku, kita melakukan perhitungan amal amal kita.

Sebagaimana para pedagang yang pelit dan mengharap laba besar, menghitung hitung dagangan dan pokok modalnya. Bila ada kerugian, maka sesali dan mohonkan ampunan kepada Rabb pemilik diri tersebut. Kejar ia yakni ketertinggalan, dengan kebaikan kebaikan, perbanyak istighfar, dan harapan ampunan. Iedul fitri, bukan awal “kesepakatan” dengan setan, dalam kemaksiatan. Adakah di antara kita, yang memiliki “kesepakatan” dan “perjanjian” dengan iblis dan bala tentaranya dari kalangan setan, bahwa setelah Ramadhan, kita akan “kembali” kepadanya ? Adakah, keinginan dalam jiwa kita, bahwa akhir Ramadhan adalah masa masa “merdeka” dari belenggu.

Sebagaimana seorang di penjara, dan ia menanti masa masa akhir tahanannya?. Celaka jiwa ini, celaka !, dan celakalah ia, bila ada terbesit dalam sanubari keinginan semacam itu. Di satu destinasi wisata ada poster cukup besar, tertampang tulisan yang mengiris jiwa orang orang beriman. Dengan gambar biduan biduan penyanyi mengumbar aurat, dan tulisan ajakan untuk menyaksikan ‘orkestra’ di hari kedua Idul Fitri, Allahu mustaan. Lihatlah, ketika “anak anak” iblis, dan “tentara tentara” setan ini, bergembira, gembira di hari “lebar -an” ( ‘:Lebar’ dalam bahasa jawa artinya ‘selesai’), selesai dari kungkungan hawa nafsu selama Ramadhan, dan sekarang sudah “merdeka !” dan kembali pada kebiasaan lama.

Mereka, kembali kepada kebiasaan lama, dalam gelimang hawa nafsu dan dosa. .Iedul fitri bukan waktu mengoleksi ‘dosa baru’.

Allah subhanahu wa taala berfirman,

لمن شاء منكم ان يتقدم او يتاخر

 

سورة المدثر 37

Juga firman Nya,

لمن شاء منكم ان يستقي

 

سورة التكوير 28

(silahkan lihat terjemah surah yang di maksud)

Sebagian orang yang biasa hidup jauh dari agama Allah, kita lihat dua ke-ekstrim-an besar, yang pertama, orang yang tidak tau menau dengan agama, mereka tetap dalam kondisi yang sama antara ramadhan dan di luar ramadhan, tidak shalat, tidak zakat, tidak puasa, tidak membenarkan pahala, dan tidak meyakini siksa, namun mereka tidak mau di sebut kafir, mereka ber-KTP Islam, hidup di tengah orang Islam, bahkan menerima ‘THR’ Hari Iedul Fitri, dan saling berkunjung ketika Iedul Fitri. Mereka masih di sawah sawah, ketika kaum muslimin Shalat Ied, mereka makan dan minum ketika kaum muslimin berpuasa.

Yang kedua, mereka ikut sahur, berbuka puasa, dan menampilkan gaya sebagai orang islam di hari raya, namun mereka menjalankan agama hanya sebagai “cover” dan “life style”, mereka tidak tau hukum, dan mana larangan dan mana batasan. Mereka menjadikan iedul fitri awal mula “kemaksiatan & kembali” pada kebiasaan. Mereka menerjang larangan, dan menunjukkan pemborosan.

Lihat mereka, Iedul Fitri adalah awal mula menjunjukkan “keberhasilan”, baju baru,  makanan mewah, dan seberapa menumpuk rupiah dan dollar, serta mereka ingin menampilkan “imej” sebagai orang kaya yang narsis.

Di tambah, mereka mengawali Iedul Fitri dan mengakhiri Ramadhan dengan dosa dan maksiat, Ikhtilat, pamer, berfoya foya, dan berlebihan serta mubazir. Bagi mereka, “cipika cipiki” dan “salaman” dengan bukan mahram, adalah “biasa” (remeh), dan ‘kebiasaan’. Mereka melupakan bimbingan nubuwah,

لأن يطعن رأس أحدكم بمخيط ، خير له من ان يمس امراة لا تحل له

Sekiranya tertusuk kepala salah seorang di antara kalian dengan tusukan besi, itu lebih baik dari menyentuh (yang di maksud bersalaman) dengan wanita yang tidak halal baginya.

(hadits riwayat Baihaqi,  as Shahihah 226), mereka meremehkan dan melupakan ancaman keras ini. Maka kami wasiatkan pada kita sekalian, bertaqwalah kepada Allah, dan janganlah bermudah mudahan dengan besalaman dengan yang bukan mahram.

Apa yang di ucapkan saat Iedul Fitri.

Bergembira di hari raya adalah hal mubah, dan di bolehkan. Namun hendaknya kita berhari raya dengan kewajaran, dan sederhana.

Lalu, dalam hal ini kami mengutip ucapan Ibnu Taimiyah Rahimahullah

“ucapan pada hari raya di mana seorang mengucapkan pada saudaranya setelah shalat ied,

تقبل الله منا و منكم

Semoga Allah menerima (ibadah) dari kami dan anda.

Dan juga,

احال الله عليك ,

Atau sejenisnya (umpama Ied Mubarak, atau selamat hari raya). Ini telah di riwayatkan dari sekelompok shahabat, dan mereka mengerjakannya, dan para imam memberi rukhsah seperti imam ahmad”, (Majmu Fatawa 24/253)

Dan Syaikh Muhammad bin Shalih al Ustaimin menjawab, ketika di tanya masalah hal mubah dalam berjabat tangan, berpelukan, dan ucapan tahniah di hari raya setelah shalat Ied,

Beliau menjawab,

“Semua hal itu di perbolehkan,

Karena orang orang tidak menjadikan sebagai ibadah, dan bentuk pendekatan diri pada Allah,  ini di lakukan dalam rangka adat kebiasaan, memuliakan dan penghormatan, selama itu adalah urf adat kebiasaan dan tidak ada dalil yang melarang, maka itu asalnya boleh”. Namun, ucapan ucapan suka cita iedul fitri, menjadi terlarang bila berlebihan,  dan di luar kewajaran.

Terakhir

Dengan berakhirnya Ramadhan, yakni hari hari singkat, sebagaimana Allah subhanahu wa taala mensifatinya. Memberi pelajaran berharga bagi kita, tentang singkatnya kehidupan dunia, ia hanya kemarin. Masih kemarin, baru saja, kemudian, hari ini, saat ini.

Mengingatkan setiap hamba Allah, akan hari pertemuan dengan Nya, sebagaimana seorang rantau, kemudian ia ingat rumah masa kecilnya, dan ia kemudian berkunjung ke rumah orang tuanya, ‘kembali’ di hari raya. Semoga bermanfaat apa yang kami tulis, semoga menjadi nasehat bagi yang menulis dan yang membaca, serta sebagai peringatan bagi kita semua, untuk lebih baik, dan menghindari dosa dan berlebihan saat Iedul Fitri.