BataraNews.com, Bekasi– Pemerintah Jokowi dan aliran sesat menjadi pembicaraan dengan Ustadz Farid Ahmad Okbah di rumahnya yang asri. Ia menjelaska secara detail apa yang sedang terjadi dengan umat muslim serta aliran sesat terutama Syiah. Tim redaksi BataraNews.com tak mau ketinggalan, berikut petikannya:

Apa tangggapan anda terhadap Pemerintah President Jokowi?

Sebenarnya, negara ini merdeka karena perjuangan umat muslim. Hak kostitusional yang sudah diterima dari Pagam Jakarta, namun dianulir. Ketika orde baru datang dengan seiring G 30 S PKI, maka umat muslim diajak untuk memadamkan gerakan ini. Kemudian, kembali lagi para tokohnya dipenjara.

Pada akhirnya, hal ini membuat president Soeharto sadar. Untuk menebus dosa dosanya, ia menunaikan ibadah haji, mendirikan Bank Muamalat. Ia ingin mengkoreksi kesalahannya terhadap umat muslim, namun hal ini tidak disetujui oleh pihak barat, akhirnya ia ditumbangkan.

Ketika tiba era reformasi, sepertinya umat muslim belum siap. Hingga dijatuhkan president Habibie, bukan umat muslim yang berkuasa melainkan partai-partai yang notabenya tidak pro kepada umat muslim. Akhirnya, sampai terjadi penistaan agama yang dilakukan Ahok

Intinya, umat muslim itu tidak muluk-muluk, tegakanlah keadilan. Kemdian, kemiskinan ada dimana mana, kesenjangan. Umat muslim jangan dianggap sebagai sebuah ancaman

Apakah anda melihat pemerintah sekarang menganggap umat muslim sebagai ancaman?

Sepertinya, iya….Mungkin presidentnya tidak tapi lingkarannya sekitarnya…..

Apa yang dilakukan umat muslim sehingga president bersikap demikian?

Tidak ada, umat muslim hanya mau menuntut haknya

Bagaiamana dengan aliran sesat?

Ada 300 aliran sesat, di Indonesia ini, kalau narkoba ditangani oleh BNN namu aliran sesat dikasih jalan. Namun, Syiah diakui oleh department dalam negeri untuk menyebarkan alirannya di tengah umat, bahaya! Aliran sesat itu lebih berbahaya dari narkoba.

Bagaiaman anda melihat sikap antara pemerintah dan ulama?

Kurang harmonis ada yang mengklaim ulama pemerintah dan ada juga yang non-pemerintah atau oposisi, dan ini kurang baik. Sebab keseimbangan antara pengasa dan ulama akan menjadi rakyat sejahtera.

Apa nasihat anda untuk pemerintah?

Pemerintah itu hasil pilihan rakyat. Ada lima hal yang harus diperhatikan, pertama adalah hak beragama, dan sekarang terasa. Kedua, jiwa, jiwa umat ini dalam Islam, jika anda membunuh maka sama dengan anda membunuh selurih jiwa umat. Contoh dikasus ini, Novel Baswedan. Ketiga, akal, dirusak dengan narkoba, miras, ajaran menyimpang dan ulama tidak bias berdiam membiarkan mereka bergerak seenaknya. Keempat mengenai prostitusi, salah satu media mengangkat tentang statistik ini, 34 persen rumah tangga hancur karena perselingkuhan. Yang terakhir keutuhan harta, masyarakat kita dibawah itu menjerit karena rentenir atau lewat bank bank konvensional secara resmi. Ini kerja kerja kapitalis, pemerintah paling tidak meminimalisir-lah!

Bagaimana perbandingan anda melihat pemerintah sekarang dan Orde Baru?

Orde baru saat itu masih terkendali walaupun masih ada yang kurang. Dari survey data internasional kumulatif yang mereka nilai mulai dari pendidikan, keseharan, dll, pemerintah sekarang ini menempati peringkat 97. Ketika, zamannya pak SBY, kita diposisi 74, anda bias nilai sendirilah!