Rizal Ramli: Demokrasi Kriminal, Nyolong Rame-rame

Spread the love

BataraNews.com– Pakar ekonomi senior, Rizal Ramli (RR) yang sejak satu bulan lalu telah mendeklarasikan diri menjadi calon presiden Indonesia melihat demokrasi yang saat ini tengah berjalan di Indonesia adalah demokrasi kriminal bukan demokrasi amanah. “Karena 300 bupati dari 350 bupati masuk penjara, setengah dari gubernur masuk penjara, ratusan DPR, DPRD masuk penjara,” katanya usai diskusi dan dialog kebangsaan yang digelar pemuda muslimin indonesia di Jl RE Martadinata, Bandung, Sabtu (14/4).

Menurut RR, semua itu terjadi karena partai, disuruh berdikari, nyari duit sendiri. Partai di negara super liberal, super kapitalis seperti Amerika nyari duit lewat sumbangan, lewat bisnis. “Oknum-oknumnya, nyolong rame-rame di APBN, di APBD di BUMN total yang di curi satu tahun Rp75 triliun. Yang masuk partai hanya 10 persen-nya,” ungkap RR.

Demokrasi kriminal model seperti ini, menurut RR, sudah saatnya harus diubah menjadi demokrasi yang lebih amanah, yang good government. “Caranya partai tidak boleh cari uang, partai dibiayai saja oleh negara, seperti di Eropa, seperti di Inggris, seperti di Australia di New Zealand,” katanya.

Biaya yang harus dikeluarkan negara untuk membiaya partai, menurut RR tidak besar hanya Rp40 triliun, dari total anggaran Rp2400 triliun. “Itu nggak ada apa-apanya, dari pada sekarang nyolong rame-rame Rp75 triliun, lebih hemat malam,” jelasnya.

Dikatakan RR, dengan telah adanya biaya keberlangsungan hidup partai, partai tinggal mencari kader yang amanah, yang mengerti masalah, yang mempunyai leadership. “Sehingga demokrasi kita, demokrasi yang membawa kemakmuran untuk rakyat, dimasa lalu demokrasi membawa kemakmuran untuk elite,” pungkasnya.