Pendirian Yerusalem Raya Berarti tidak akan Ada Masjid

Spread the love

BataraNews.com– Seperti yang dilansir Aljazeera, rencana Israel untuk mendirikan Yerusalem Raya, berarti tidak akan adanya gereja maupun masjid di sana. Hal tersebut diutarakan oleh Hanna Issa, Sekretaris Jenderal Komite Muslim-Kristen Otoritas Palestina, yang telah memperingatkan bahwa lebih dari 95 persen Yerusalem telah “diyahudisasi” oleh Israel.

Hanna Issa, Sekretaris Jenderal Komite Muslim-Kristen Otoritas Palestina telah memperingatkan bahwa lebih dari 95 persen Yerusalem telah “diyahudisasi” oleh Israel, dan “Yerusalem Raya” berarti penghancuran gereja dan masjid. “Israel ingin mendirikan apa yang disebut Yerusalem Raya di atas lahan seluas 600 kilometer persegi, yang berarti penghancuran gereja-gereja dan masjid-masjid di kota tersebut,” kata Issa. Peringatan itu dikeluarkan selama Konferensi Internasional tentang Kota Suci Yerusalem pada Rabu (11/4).

Konferensi Internasional ke-9 di Kota Suci Yerusalem tersebut dimulai di kota Ramallah, Tepi Barat; yang dihadiri oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Konferensi ini juga dihadiri oleh banyak delegasi dari seluruh negara Arab dan negara Muslim. Berbicara di acara tersebut, Youssef Edies, Menteri Pemberdayaan Agama Palestina, menggambarkan Yerusalem sebagai “tempat kelahiran agama-agama”. “Kita harus memfokuskan upaya Arab, Muslim, dan internasional untuk melawan serangan gencar dari Barat terhadap Tanah Suci ini,” ujarnya menegaskan.

Munib Masri, ketua Jerusalem Endowment, menekankan pentingnya Yerusalem bagi Muslim dan Kristen. “Dunia harus mengerti bahwa tidak akan pernah ada kedamaian sampai berkas Yerusalem diselesaikan dengan memuaskan,” katanya. Dia menambahkan: “Yerusalem membutuhkan inisiatif praktis dan dukungan keuangan dengan maksud untuk memperkuat keteguhan hati rakyatnya.” Pada Sabtu (7/4), seorang utusan PBB menuduh Israel berusaha menghalangi dirinya dan para diplomat lainnya dalam melakukan ritual “Api Kudus” sebelum Paskah di gereja Yerusalem yang penuh sesak. Umat Kristen menghormatinya sebagai tempat pemakaman Yesus.

Robert Serry, utusan perdamaian PBB untuk Timur Tengah, mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa petugas keamanan Israel telah menghentikan sekelompok jamaah dan diplomat Palestina dalam sebuah prosesi di dekat gereja, dan “mengklaim bahwa mereka diperintahkan untuk melakukan itu”.

Hanna Issa, Sekretaris Jenderal Komite Muslim-Kristen Otoritas Palestina telah memperingatkan bahwa lebih dari 95 persen Yerusalem telah “diyahudisasi” oleh Israel, dan “Yerusalem Raya” berarti penghancuran gereja dan masjid. “Israel ingin mendirikan apa yang disebut Yerusalem Raya di atas lahan seluas 600 kilometer persegi, yang berarti penghancuran gereja-gereja dan masjid-masjid di kota tersebut,” kata Issa. Peringatan itu dikeluarkan selama Konferensi Internasional tentang Kota Suci Yerusalem pada Rabu (11/4).

Konferensi Internasional ke-9 di Kota Suci Yerusalem tersebut dimulai di kota Ramallah, Tepi Barat; yang dihadiri oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Konferensi ini juga dihadiri oleh banyak delegasi dari seluruh negara Arab dan negara Muslim.

Berbicara di acara tersebut, Youssef Edies, Menteri Pemberdayaan Agama Palestina, menggambarkan Yerusalem sebagai “tempat kelahiran agama-agama”. “Kita harus memfokuskan upaya Arab, Muslim, dan internasional untuk melawan serangan gencar dari Barat terhadap Tanah Suci ini,” ujarnya menegaskan.

Munib Masri, ketua Jerusalem Endowment, menekankan pentingnya Yerusalem bagi Muslim dan Kristen. “Dunia harus mengerti bahwa tidak akan pernah ada kedamaian sampai berkas Yerusalem diselesaikan dengan memuaskan,” katanya. Dia menambahkan: “Yerusalem membutuhkan inisiatif praktis dan dukungan keuangan dengan maksud untuk memperkuat keteguhan hati rakyatnya.”

Pada Sabtu (7/4), seorang utusan PBB menuduh Israel berusaha menghalangi dirinya dan para diplomat lainnya dalam melakukan ritual “Api Kudus” sebelum Paskah di gereja Yerusalem yang penuh sesak. Umat Kristen menghormatinya sebagai tempat pemakaman Yesus.

Robert Serry, utusan perdamaian PBB untuk Timur Tengah, mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa petugas keamanan Israel telah menghentikan sekelompok jamaah dan diplomat Palestina dalam sebuah prosesi di dekat gereja, dan “mengklaim bahwa mereka diperintahkan untuk melakukan itu”.