Di Manado, Jumlah Umat Muslimin Adalah 50 Persen

Spread the love

BataraNews.com– Mungkin tak pernah terpikirkan oleh banyak orang, bahwa di Manado, Sulawesi Utara terdapat pondok pesantren. Berita-berita yang selama ini berkembang di media massa telanjur mencitrakan Manado dan Provinsi Sulawesi Utara pada umumnya sebagai daerah basis Kristen.

Memang, oleh penjajah Belanda dulu, Sulawesi Utara hendak dijadikan wilayah Kristen. Bahkan, saat ini Kabupaten Minahasa, merupakan pusat Evangelis se-Asia Tenggara (ASEAN). Citra Manado sebagai pusat Kristen tak seluruhnya benar. Di kota tersebut, populasi umat Muslim tak kalah banyaknya dengan umat Kristen.

Menurut Abjan Khalik, kepala Urusan Urais dan Haji Kota Manado. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1999, jumlah Muslim di Manado mencapai 49 persen, sedangkan Kristen 51 persen. ”Namun data tahun 2003 menunjukkan persentase jumlah pemeluk Islam dan Kristen sama, yakni 50:50,” tuturnya saat berbincang dengan Republika di Manado belum lama ini. Bukti keberadaan umat Muslim di Manado dapat dilihat terutama dari simbol-simbol keislaman, seperti masjid, pondok pesantren, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model, jaringan radio Muslim, dan yayasan Muslim.

Ponpes Putri Assalam merupakan salah satu tonggak dakwah di Manado. Pesantren tersebut terletak di Dusun Bailang, Kecamatan Bunaken, Kota Manado. Menurut pimpinan pondok, Kholilullah Ahmas, Pesantren Putri Assalam didirikan tahun 1989. Pendirinya adalah Sumianto dan kawan-kawan, asal Jakarta. Pesantren itu berdiri di atas lahan seluas satu hektar. Asramanya ada dua. Sedangkan gedung sekolahnya tiga lantai yang terdiri dari 12 kelas. Gedung tersebut dilengkapi dengan perpustakaan, kantor, laboratorium IPA, dan laboratorium komputer.

Pesantren Putri Assalam menyelenggalaran tiga jenjang pendidikan, yakni Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MAN), dan SMK. ”Saat ini jumlah murid mencapai 300 orang,” ujar Kholilullah saat menerima kunjungan Republika di pesantrennya, Ramadhan silam. Dia menambahkan, murid-murid pesantren itu tidak hanya terbatas dari Manado. Para santri juga datang dari berbagai wilayah lain di Provinsi Sulawesi Utara, seperti Minahasa, Bitung, dan Bolmong. ”Alhamdulillah, keberadaan pesantren ini juga telah menarik murid-murid dari luar Manado,” ungkap alumnus Riyadh, Saudi Arabia (1986) itu. Dia menegaskan, keberadaan Pesantren Putri Assalam di Manado sangat penting.

Setidaknya ada dua alasan. Pertama, misi dakwah. ”Islam masih dianggap minoritas di Manado maupun Sulut pada umumnya. Nah, keberadaan pesantren ini dapat dikatakan sebagai tonggak dakwah di daerah yang populasi Kristennya masih dianggap dominan,” tuturnya. Kedua, meningkatkan mutu keislaman umat Muslim di Manado. ”Umat Muslim di Manado terus bertambah dari waktu ke waktu. Namun, kualitas keimanan mereka masih sangat beragam. Apalagi sebagian kecil dari mereka merupakan muallaf (orang yang baru berpindah dari agama lain ke Islam, {red}).

Di sinilah pentingnya keberadaan pesantren untuk mendakwahkan agama Islam kepada para pemeluknya atau umat Muslim. Jadi, untuk meningkatkan mutu keimanan dan keislaman umat Islam itu sendiri,” ujarnya. Kholilullah menyebutkan, selama ini mutu lulusan Pesantren Assalam menggembirakan. Banyak di antara alumni Aliyah melanjutkan ke Kedokteran, FMIPA, dan Ekonomi, di Universitas Sam Ratulangi maupun Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Manado. ”Bahkan, ada pula yang melanjutkan kuliah ke Mesir,” katanya.

Dia menjelaskan, sebetulnya minat masyarakat Manado, khususnya, maupun Sulawesi Utara umumnya, untuk memasukkan anaknya ke Pesantren Putri Assalam cukup besar. ”Namun mereka terkendala oleh kemampuan ekonomi, karena sebagian besar Muslim di Sulawesi Utara merupakan petani dan nelayan,” ungkapnya. Saat ini biaya pendidikan di Pesantren Putri Assalam Rp 210 ribu per bulan. Biaya tersebut sudah termasuk komputer, makan, SPP, dan lain-lain. ”Biaya sebesar ini masih dianggap besar oleh sebagian masyarakat di wilayah ini. Sebetulnya, biaya tersebut baru dinaikkan tahun ini. Sebelumnya, biaya pendidikan per bulan hanya Rp 130 ribu per bulan. Kenaikan biaya itu terpaksa kami lakukan untuk menutupi sebagian biaya operasional yang saat ini mencapai rata-rata Rp 30 juta per bulan,” tandasnya.

Kenyataan ini, tambah Kholilullah, merupakan tantangan bagi Ponpes Putri Assalam maupun masyarakat Muslim Indonesia pada umumnya. ”Kami berharap ada donatur tetap yang bersedia menyalurkan dana secara rutin kepada para santri. Istilahnya orang tua asuh. Mereka memberikan beasiswa kepada murid-murid. Bila demikian, maka beban biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat bisa ditekan, dan lebih banyak lagi anak-anak petani dan nelayan yang mampu bersekolah di Pesantren Putri Assalam,” ujarnya. irwan kelana

Merindukan Koran Muslim

Berdasarkan sensus penduduk tahun 1999, jumlah Muslim di Manado mencapai 49 persen, sedangkan Kristen 51 persen. Namun data tahun 2003 menunjukkan persentase jumlah pemeluk Islam dan Kristen sama, yakni 50:50. Dari mana perubahan persentase itu? Ini pun menarik. Menurut Abjan Khalik, kepala Urusan Urais dan Haji Kota Manado, banyak orang Kristen di Manado yang pindah dari pusat kota ke pinggir kota. ”Tanah mereka dijual, yang beli para pengusaha Muslim yang tinggal di Jakarta, Makassar, Gorontalo, dan Ternate,” tuturnya.

Ada pula faktor lain yang tak boleh dilupakan. ”Kini makin banyak muallaf (orang Kristen yang mendapat hidayah lalu masuk Islam, {red}) di Manado. Hal itu antara lain terjadi melalui perkawinan asimilasi. Juga sebagai buah gencarnya dakwah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Muslim di Manado, baik dakwah langsung maupun melalui media massa, khususnya jaringan radio Muslim di Manado,” paparnya.

Meskipun demikian, ada yang terasa sangat kurang di Manado. Yakni media cetak Muslim. ”Umat Muslim Manado amat merindukan kehadiran koran dan majalah Islam, agar dapat menyuarakan kepentingan umat Islam secara fair,” tutur Abdul Azis Wakid, salah seorang tokoh Muslim Manado. Kehadiran media massa Muslim memainkan peran yang tak kalah penting dengan pondok pesantren, sekolah maupun masjid. ”Semua harus bergerak serempak, agar umat Muslim di Manado makin maju dan memiliki pengaruh serta posisi tawar yang lebih baik,” tandas mantan ketua Al Irsyad Wilayah Sulawesi Utara itu.