Transformasi Adalah Harga Mati (Bag. 1)

Spread the love

BataraNews.Com – Tahun 2018 adalah “tahun politik” untuk beberapa wilayah di Indonesia yang akan melakukan pemilu serentak. Media sosial dipenuhi dengan diskusi seputar politik yang semakin menggelitik. Banyak bermunculan politisi pendatang baru yang kebanyakan berasal dari aktivis medsos. Diskusi dan perdebatan politik saat ini lebih cenderung membuat suhu politik samakin memanas. Para pendatang baru di dunia politik berkhutbah seperti politisi yang memiliki jam terbang tinggi. Buktinya, banyak pendapat yang keliru dari mereka dan tidak sedikit yang memiliki prediksi yang salah. Dampaknya, kita sebagai masyarakat awam politik akan semakin bingung dengan manuver politik para elit. Kita menjadi seperti tidak pandai melihat “kepentingan penguasa” karena terbawa dalam arus politik yang belum jelas arahnya kemana. Dalam kondisi seperti ini harus ada gerakan pemersatu yang bisa menyadarkan bahwa sebenarnya kita memiliki kepentingan bersama yang bisa kita jalankan dengan bersama.

Pada bagian ini, saya berpendapat bahwa manuver politik silahkan dilakukan oleh para elit partai beserta gerbong-gerbongnya. Sementara kita, sebagai non elit partai yang jauh berada di bawah harus sudah melakukan gerakan terobosan. Sebuah gerakan yang mengimbangi percepatan manuver politik para elit. Sudah cukup banyak kasus yang membuat kita mengelus dada dan akhirnya membuat kita harus cepat bergerak. Kasus impor beras misalnya, semakin meyakinkan kita bahwa penguasa rezim saat ini tidak melakukan perbaikan ekonomi untuk kepentingan rakyat tapi justru menghancurkan kehidupan para petani yang memberikan dampak buruk bagi bangsa ini. Teman saya yang memiliki kebun singkong 100 Ha di Sukabumi, Jawa Barat, juga memberitahukan bahwa saat ini singkong dari hasil tanamnya belum memiliki buyer alias bingung mau dijual kemana. Rantai ekonomi tersumbat tidak sampai ke rantai petani. Mereka semakin sedih sementara kita sama sekali tidak peduli.

Kita juga dipertontonkan oleh media pemberitaan tentang kejadian kasus bunuh diri satu keluarga di daerah Jombang, Jawa Timur. Konon latar belakang kasus ini adalah karena faktor sulitnya ekonomi keluarga tersebut. Apakah kita hanya menjadi penonton disaat mereka mati? Saya juga baru tahu dari salah seorang teman yang beberapa waktu lalu sering ke daerah perbatasan melihat kondisi ekonomi disana yang sangat mengkhawatirkan. Banyak lagi kasus yang tidak bisa dijelaskan dalam tulisan singkat ini yang memperlihatkan tentang kondisi ekonomi bangsa yang sedang pailit. Menurut saya, lemahnya konstruksi bangunan PT Bursa Efek Indonesia (“BEI”) yang mengakibatkan robohnya balkon BEI, seperti satu “isyarat/ pertanda buruk” tentang bobroknya konstruksi bangunan ekonomi bangsa saat ini. Akhirnya, anak-anak bangsa yang menjadi korban kebobrokan itu. Innalillahi.

Kebobrokan ekonomi banyak menimbulkan pendapat-pendapat negatif tentang sikap kita dalam menyikapi krisis ekonomi. Jika kita bisa membeli beras impor dengan harga jauh lebih murah, kenapa kita harus beli beras lokal? Kita menjadi keliru memaknai sebuah kata ekonomi. Nasionalisme kita mengalami ujian yang sangat berat dalam memghadapi kondisi ekonomi yang sulit. Singkong hasil panen ratusan hektar menjadi tak terjual dengan harga layak karena putusnya rantai ekonomi tidak sampai ke petani.

Tahun politik dipenuhi dengan pembicaraan dan pemberitaan seputar politik. Hampir semua orang bicara politik dengan kapasitas masing-masing. Semua elit bicara tentang strategi pemenangan pemilu 2018. Bahkan sudah ada beberapa langkah-langkah politik elit tertentu untuk pemenangan pemilu 2019. Jika sudah seperti ini, siapa yang akan concern terhadap peningkatan ekonomi bangsa. Jika ada pengamat berbicara ekonomi, pasti ujungnya ke politik juga. Siapa yang akan memperhatikan kemenangan hakiki sebuah bangsa? Yaitu terciptanya keadilan bagi seluruh rakyatnya. Bukankah sebuah manuver politik juga harus dibarengi dengan gerakan kebangkitan ekonomi nasional? Akankah hal ini akan terwujud? Menurut saya, hal ini akan sangat sulit terealisasi karena manuver politik tidak diimplementasikan sebagai sebuah perjuangan untuk memerdekakan ekonomi rakyat Indonesia.

Penyakit sulitnya ekonomi sudah terlampau akut. Permasalahannya sudah mengakar hingga ke desa-desa bahkan tanpa kita sadari masuk ke dalam rumah kita. Kita dibuat terlena oleh fasilitas-fasilitas dan mimpi-mimpi para investor yang justru kepentingannya untuk merampok negeri kita. Apakah kita mau terus-menerus bermimpi dan dibuai oleh fasilitas recehan yang akan mengorbankan anak cucu kita kelak? Ini harus menjadi titik balik kebangkitan ekonomi Indonesia. Kita harus mulai bangun karena berlama-lama bermimpi hanya membuat kita tak peduli. Kita sudah cukup dengan slogan reformasi yang ujungnya menciderai demokrasi. Indonesia saat ini membutuhkan gerakan nyata transformasi. Sebuah proses perubahan secara berangsur-angsur sehingga sampai pada tahap ultimate. Perubahan yang dilakukan dengan cara memberi respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang akan mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses menggandakan secara berulang-ulang atau melipatgandakan.

Akhirnya, kita akan bisa melihat, siapa calon-calon pemimpin atau kepala daerah yang memiliki visi transformasi. Jangan lagi kita tertipu dengan jargon-jargon kampanye dan coin recehan yang semakin menyesatkan. Bangsa Indonesia sudah jauh lebih cerdas dalam menentukan masa depannya. Kita hanya butuh agenda besar transformasi dalam peningkatan ekonomi dengan metode bottom up. Gerakan ini harus diniatkan dengan tulus dan direalisasikan dengan ikhlas karena kita semua harus berjuang untuk keberhasilan tujuan bersama. Gerakan transformasi menjadi harga mati untuk kebangkitan ekonomi dan kemajuan bangsa Indonesia. (ipeh)

Penulis: Kang Suhe
Pengamat Sosial
Whatsapp: 0818655471