Agus Suhendar Okt 13, 2017

BataraNews.com – Saat ini di beberapa ruas jalan Jakarta sering kita jumpai penjual kopi keliling atau yang biasa disebut sebagai STARLING (Starbak Keliling) yang mencoba mangadu nasib dalam terpaan panasnya Jakarta dan gelap malam kota metropolitan. Keberadaan mereka semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Pelanggan mereka kebanyakan para sopir taksi dan sekuriti yang berjaga di sekitar gedung Jakarta. Kita juga bisa jumpai mereka di banyak tempat hiburan rakyat seperti Taman Monas dan Taman Menteng. Dalam perjalanan ke arah Kuningan pagi tadi saya sempatkan mencicipi kopi ala Starling dekat Plaza Festival Kuningan.

Saat itu saya datangi penjual Starling yang sedang melayani sopir taksi dan sekuriti. Saya langsung pesan kopi hitam panas. Dia pun dengan sangat sigap langsung mengambil salah satu merk kopi ternama dan menuangkan air panas dalam termos untuk dituang ke dalam wadah gelas plastik, kopi pun siap dihidangkan.

Sambil menikmati udara pagi, saya membuka obrolan dengannya. “Asal dari mana mas?” tanya saya. Sambil melayani pelanggannya dia pun menjawab bahwa Madura adalah asal daerahnya. Pria yang berusia 23 tahun ini memiliki nama Ali. Bersama seorang isteri, Ali tinggal di sekitar Tanah Abang, Jakarta. Obrolan pun semakin hangat sehangat kopi hidangan Ali.

Penjual Starling telah digeluti sejak tahun 2011. Saat itu Ali kumpulkan uang untuk modal saat masih berprofesi sebagai juru parkir jalanan. Hasil dari jasa parkir ini dia memiliki tabungan sebesar Rp.2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu Rupiah). Hasil tabungannya ini dia gunakan untuk modal starling. Mulai dari sepeda, 2 termos air panas, 1 termos penyimpan dan 1 ember beserta bahan baku minuman kopi, teh, dan lainnya dia beli dari hasil tabungannya itu.

Rata-rata pendapatan Ali perhari sekitar 100 sampai 250 ribu Rupiah. “Tapi kalo lagi ada demonstrasi pendapatan bersih Ali bisa mencapai 350 ribu Rupiah per hari,” kata Ali. Rupanya maraknya demonstrasi di Jakarta beberapa waktu ini merupakan waktu panen untuk Ali. Dia senang saat ada demonstrasi menghiasi kota Jakarta. Profesi yang sudah digeluti hampir 7 tahun ini membuat Ali tidak hanya dapat bertahan hidup di Jakarta tapi juga bisa membahagiakan keluarganya.

Saya kaget ketika saya bertanya tentang cita-cita dan impian Ali saat ini. “Saya hanya ingin membahagiakan orang tua saya mas,” kata Ali dengan senyum bahagia. Subhanallah. Sebuah cita-cita yang sangat luhur yang mungkin tidak banyak dimiliki oleh penduduk kota metropolitan seperti Jakarta. Ali menjelaskan bahwa dalam satu bulan dia bisa kirim uang untuk orang tuanya di Madura sebesar Rp.1 juta. Subhaballah. Itu semata-mata dia lakukan hanya untuk membahagiakan orang tuanya.

Dalam ceritanya Ali pernah kena razia satpol PP saat berjualan di depan Gedung Indosat. Semua barang dagangan beserta sepedanya dibawa dan disita Satpol PP. Namun, dia bisa menebus semuanya itu dengan uang tebusan Rp.250 ribu yang diberikan ke petugas. Kejadian yang menimpanya pada tahun 2014 itu sangat membekas dalam memori Ali.

“Kang, saya lanjut jualan lagi ya,” kata Ali dalam menutup obrolan dengan saya. Dengan penuh semangat dan keyakinan akan rezeki dari Allah, Ali pun mengayuh sepedanya meninggalkan saya. Semoga keberkahan dari Allah selalu untukmu brother. (suhe)