azki Okt 1, 2017

BataraNews.com – Ramainya pro kontra #FilmG30SPKI, jadi pingin diskusi tentang sekilas ajaran umum Karl Marx. Filosof Jerman, Karl H. Marx (1818-1898), seringkali dilihat sebgai tandingan Adam Smith (liberalisme vs totaliterisme). Marx memang mempelajari dengan cermat karya Smith dan tetap mengekspos daya produktivitas dan inovatif kapitalisme yang sama. Namun kesimpulan yang diambil sama sekali berbeda dan berseberangan dengan Smith.

Marx melihat kapitalisme tidak memiliki dasar yang stabil dan bersifat merusak. Kapitalisme tidak membawa “kesejahteraan bangsa”, melainkan kemelaratan mayoritas pekerja. Kemiskinan dan pekerjaan yang tidak manusiawi, bukanlah sebuah kebetulan, melainkan akibat logis dari kapitalisme. Pasar bebas secara pasti memunculkan kemiskinan dan penindasan, karena keuntungan para kapitalis berasal dari penindasan para buruh.

Dalam “Das Kapital” (1867), nilai tambah adalah nilai yang diperoleh pengusaha di luar modal yang ditanam sebagai keuntungan. Contoh nilai tambah, mendapat hasil 110 dari pasar dgn pengeluaran produksi 100 (termasuk gaji dan alat produksi). Nilai tambah ini hanya bisa diperoleh dari nilai kerja para buruh yang hanya mendapatkan gaji. Para kapitalis memperkaya diri dari perbandingan antara gaji buruh dan nilai tambah. Para kapitalis dipacu oleh semakin tajamnya persaingan, berupaya menaikkan nilai tambah tersebut dengan menurunkan gaji, memperpanjang jam kerja dan memperbesar pemanfaatan mesin yang berakibat pada peningkatan pengangguran. Pada saat yang sama, para pesaing digusur dari pasar. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Rakyatpun akhirnya terbelah dalam 2 (dua) kelompok, miskin (proletar) dan sekelompok kecil penguasa modal (borjuis).

Selain “nilai tambah”, dalam “Risalah Ekonomi-Politik” (1844), Marx mengungkap “keterasingan kaum buruh“. Marx menemukan sisi gelap dari pembagian kerja produktif (prinsip spesialisasi Smith). Dalam produksi massal, para buruh hanya terlibat menjadi bagian kecil dari langkah-langkah produksi yang monoton. Tidak adanya kontak pekerja dengan produk akhir, menyebabkan hilangnya kepuasan bekerja. Bagi Smith (liberalisme), persaingan dan pembagian kerja adalah sumber kemajuan. Sedangkan bagi Marx, persaingan dan pembagian kerja adalah kebobrokan mendasar kapitalisme dan penyebab penindasan/keterasingan. Kemajuan produksi hanya menguntungkan pemilik modal, sedangkan para pekerja semakin menderita. Marx berteori, tatanan ekonomi berorientasi profit, sangat rawan krisis dan tidak akan stabil. “Sentralisasi alat produksi dan kerja massal akan mencapai titik jenuh, yg akan hancurkan kepemilikan pribadi (kapitalistis).“ Kelas buruh, akibat rendahnya gaji tidak memiliki kemungkinan mengumpulkan kepemilikan pribadi yang cukup. Sebaliknya, para kapitalis mengakumulasi kepemilikan pribadi lewat penindasan (langsung atau tidak) buruh. Hal ini akan menimbulkan kecemburuan sosial dan berakhir pada pemberontakan kaum proletar (miskin), revolusi kaum tertindas. Marx menilai sejarah sebagai hasil pertarungan antar kelas, yang memuncak pada revolusi proletariat. Karenanya Marx mengembangkan sebuah ide masyarakat tanpa kelas/persaingan/ kepemilikan pribadi atas alat produksi.

Manifesto Partai Komunis, Marx, menuntut sentralisasi keuangan, transportasi, pertanahan dll, dalam kuasa negara (totaliter). Namun totaliter ditentang sendiri oleh pengikutnya, F. Engels (1988) yang melihat adanya kelemahan penguasaan total oleh negara. “Semakin banyak kekuatan produktif dikuasai, negara menjadi kapitalis sejati dan semakin banyak warga yang diperas olehnya. Pemerataan modal tidak terjadi, sebaliknya lebih banyak dikuasai kelompok elit negara“ (F. Engels-1988). Namun, sejarah memperlihatkan, keterpurukan buruh dan kuatnya akumulasi modal tidak sepenuhnya terbukti. Kemakmuran bisa juga diperoleh lewat organisasi/solidaritas para pekerja dan negara kesejahteraan yang lebih adil.

Konsentrasi modal, menurut J. Schumpeter, “Capitalism, Socialism and Democracy” (1942), sebagai ”perusakan kreatif“, bisa lenyap. Para pebisnis lewat inovasi, persaingan, krisis atau pasar baru selalu akan terstruktur ulang. Struktur modal selalu dinamis, tidak statis. Industri mobil menggantikan dokar, tukang besi dengan baja. Produsen mesin ketik digantikan pedagang komputer. Perusakan kreatif merangsang inovasi dan juga menimbulkan ketidakpastian baru yang menuntut fleksibilitas tinggi.

Eksperimen negara sosialis yang mengacu pada Marx, telah gagal dan membuat para teoretisinya terdiskreditasi. Apakah dengan demikian teorinya terbantahkan? Yang jelas, ajarannya tidak menemukan solusi praktis, prediksinyapun banyak tidak terbukti. Namun, analisisnya masih tetap menjadi bahan rujukan tak tertandingi dalam mempertajam bahaya krisis kapitalisme yang tak terkontrol. Sumbangsih nyatanya, berupa pentingnya peranan negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya, sekalipun tidak harus totaliter. Jadi komunisme hantu atau nyata? Akumulasi modal vs kemiskinan/ ketimpangan hantu atau nyata? Pemusatan modal, uang/ tanah, dll dalam sekelompok kecil populasi, hantu atau nyata? Barangkali, ajarannya secara ekonomi telah mati suri, tapi secara ideologi politik tetap hidup. Banyak pesan kehidupan dari sekilas Karl Marx ini, yang punya dimensi kekinian masing-masing. Sah-sah saja berpendapat dan dipersilahkan.(azk)