azki Sep 21, 2017

BataraNews.com – Bunga Pertama “Ia yang pertama datang, yang pertama pula pergi…

Aulia, ini memoriku tentangmu…” Empat tahun silam, kami sedang sangat bahagia. Babak baru dalam hidup kami dimulai : kami akan punya pesantren pertama. Antusias saya, suami, dan anak-anak kami, mengurus segalanya. Merenovasi gedung pesantren kami, membeli segala macam perlengkapan santri, membuat daftar menu dan biaya bila santri-santri nanti datang. Kami sudah bulat tekad, pesantren kami harus gratis. Dananya dari mana, serahkan saja pada Allah. Maka, transitlah kami, sementara gedung yg akan ditempati masih direnovasi. Sebuah villa di pinggir jalan Cisarua, menjadi persinggahan sebulan lamanya.

Di akhir persiapan, sepekan sebelum pesantren benar-benar akan kami tempati, datanglah 2 anak lelaki, diantar ramai-ramai keluarganya ke tempat transit kami. Lengkap sudah santri saya : 4 anak kandung dan 1 anak angkat kami , dan 2 santri baru ini. Kami tak pernah buat brosur, tak pernah sebar berita di medsos.

Tiba-tiba, siang hari yang tetap sejuk di Cisarua, datanglah seorang ibu dan seorang anak perempuan. Saya tidak mengenal mereka, sebagaimana mereka tdk mengenal saya. Tapi sang ibu sangat yakin, dia pernah dengar berita kalau suami saya akan buka pesantren. “saya mau masukkan Aulia di sini.” jelasnya, sambil menoleh ke anak gadisnya yang tak pernah berhenti tersenyum. Bingung saya menjawabnya, karena pesantren pertama kami ditujukan untuk putra. Tapi terngiang kata-kata suami saya, bahwa kelak bila Allah izinkan, kami akan punya pesantren akhwat juga, saya sampaikan saja bahwa mereka masih harus menunggu. Waktunya tak tentu kapan, saya hanya bisa berjanji akan menghubungi pada saatnya tiba.

“Saya tunggu… Lagipula Aulia tak saya daftarkan SMP.” sahut sang ibu mantap, yang membuat saya malah jadi khawatir. Namun, berapa kali pun saya meminta agar anaknya sementara sekolah dulu, tetap sang ibu mengatakan akan menunggu kami saja. “Bulan berganti… Allah pula yang menakdirkan, Bunga pertama itu datang kembali menyongsong janji kami” Hampir setahun Aulia dan sang bunda menunggu. Maka, datanglah ia kembali masih dengan senyumnya yang sama, untuk mengikuti tes penerimaan di ma’had akhwat pertama kami. Seperti peserta tes yang lain, kemampuannya saat itu tak istimewa, karena mereka semua rata-rata pemula. Namun bukan itu yang memantapkan kami menerima Aulia, tapi kami melihat semangat dan kemauan kuat pada dirinya.

Maka mulailah Aulia yang sudah tak berayah, memulai harinya sebagai keluarga Allah. Ayat demi ayat dilahapnya, dengan peningkatan luar biasa hari demi hari. Saya tak langsung jadi gurunya, karena saya tak mengasuh ma’had putri. Tapi dalam kunjungan sepekan sekali untuk mengajar, Aulia selalu setia menyambut saya dengan senyumnya. Dari pengasuhnya, saya tau bahwa ia nyaris tanpa masalah dan sudah menyelesaikan hafalan 3 juz pertamanya.

Tapi setahun lalu, ujian datang pada Aulia. Ia tak kunjung berhenti haidh sebulan penuh. Ketika dibawa ke dokter, vonis yang didapat sungguh mengejutkan : Aulia menderita kanker rahim stadium 4, yang sudah menjalar ke organ lainnya. Maka, sejak hari itu, Aulia dan sang bunda hidup di kamar rumah sakit. Dari dokter saya tau, bahwa Aulia memiliki kegigihan dan keyakinan untuk sembuh. Kemoterapi selalu dijalaninya dengan semangat dan tanpa mengeluh. Ia juga sering menjadi motivator bagi anak-anak penderita kanker lainnya. Saya amat yakin dengan cerita dokter, karena beberapa hari lalu, tatkala saya menjenguknya sebelum kemo terakhir, senyum masih menghias wajahnya. Ia tetap cantik walau wajahnya semakin tirus. Ia masih banyak bertanya tentang thaharah, ibadah, walau nafasnya tersengal-sengal. Bahkan sang bunda mengatakan, Aulia terkadang masih setoran hafalan pada pengasuh pesantrennya lewat hp.

Murajaah pun masih rutin ia lakukan. Sepulang saya dan suami menengok Aulia, sang bunda mengatakan bahwa Aulia ingin satu-satunya harta mereka : sebuah rumah peninggalan keluarga, dipakai untuk kegiatan menghafal al-Qur’an. Seakan sudah firasat, pada ibunya ia berkata, “Supaya ada yang menemani mama…” karena memang hanya Aulia yang mamanya miliki di dunia. Maka, ketika beberapa jam lalu saya menerima kabar bahwa Aulia sudah kembali pada Robb-Nya, saya hanya bisa bersaksi, bahwa Bunga Pertama kami, Aulia Najasyi, adalah kesayangan Allah.

Setahun penuh Allah cabut nikmat sehatnya, untuk mengganjarnya dengan istana di surga. Ia sungguh ikhlas…ia sungguh sabar… Selamat jalan, dan tenanglah engkau di tempat yang Allah sudah siapkan untukmu Aulia sayang…(Ummu Maya)

Aulia Najasyi, Santri Penghafal Quran yang Ramah dan Baik Hati itu Telah Pergi

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Telah berpulang ke Rahmatullah : Ananda Aulia Najasyi Santriwati Ma’had Askar Kauny Cibinong Wafat 20 September 2017, sekitar pukul 20.00 di RS. Dharmais Jakarta Baru 15 tahun usianya, tapi qadarullah, kanker rahim yang menghentikan langkahnya.

Masih terbayang dalam benak, saat setahun lalu kami melepasnya di depan pintu ruang operasi, menyaksikan dengan perasaan yang tak karuan gumpalan daging yang dokter angkat dari dalam tubuhnya. Masih belum lepas dari ingatan, senyum manisnya saat ia mengatakan bahwa ia akan tetap menghafal Alquran. Aulia, Allah lebih menyayangimu.

Meski 12 kali kemoterapi dijalani, sel kanker itu menyebar ke paru-parunya. Dan Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk Aulia.

Sahabat #HOTS yang dirahmati ALLAH subhanahu wa ta’ala, kami berharap ikhwah fillah dapat bersama mendoakan. Semoga Aulia Najasyi diberi kelapangan dalam kuburnya, mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran, ketabahan, ketegaran dalam menghadapi cobaan ini.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لها وَارْحَمْها وَعَافِها وَاعْفُ عَنْها وَأَكْرِمْ نُزُلَها وَوَسِّعْ مُدْخَلَها وَاغْسِلْها بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّها مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْها دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِها وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِها وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِها وَأَدْخِلْها الْجَنَّةَ وَأَعِذْها مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Ya Allah! Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan  kuburnya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), pasangan yang lebih baik daripada pasangannya (di dunia), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka”.

—Al Fatihah— Aamiin Ya ALLAH Aamiin Ya Rabbal Allamin. Jazakumullah khairan katsiran atas keikhlasan semuanya yang ikut mendoakan. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal ibadah.(azk)