azki Jul 2, 2017

BataraNews.com – Pada tanggal 24 Juni 2017, dunia maya, khususnya Indonesia, digemparkan digemparkan oleh akun Divisi Humas Polri @DivHimasPolri yang merilis video Juara 1 Lomba Police Movie Festival 4. Video yang berjudul “Kau adalah Aku yang lain” (“KAYL”) ini dibuat oleh Anto Galon yang juga pernah beberapa kali mengikuti festival yang sama.

Sebuah lomba festival karya film yang menjadi agenda tahunan kegiatan Polri sebagai bentuk kepedulian kepada para pegiat film. Namun demikian, pada tahun ini, ada yang berbeda dengan kegiatan festival tersebut. Film KAYL yang dipilih sebagai pemenang oleh Divisi Humas Polri mendapat sambutan negatif dari masyarakat, khususnya Umat Islam. Film yang dirilis menjelang Idul Fitri 1438 H ini menjadi trending topic di twitter karena ramai diperbincangkan oleh kebanyakan netizen.

Pada salah satu adegan dalam film KAYL, terlihat bagaimana Umat Islam tidak memberikan jalan kepada ambulance yang sedang membawa orang sakit. Tentunya, ini memicu kemarahan umat Islam yang menyaksikan film tersebut karena ajaran Islam tidak pernah mengajarkan hal-hal semacam itu.

Opini negatif tentang keislaman sangat jelas terlihat dalam film yang berdurasi beberapa menit tersebut. Ini menjadi pukulan besar terhadap umat Islam dan sekaligus menjadi motivasi besar Umat Islam dalam bersatu untuk memproduksi sendiri film-film yang bernapaskan Islam yang memberikan kesejukan dan kedamaian. Ini akan menjadi solusi yang baik untuk menghadapi maraknya film-film yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Populasi umat Islam yang sangat besar di Indonesia adalah potensi bagi umat untuk berkarya memproduksi film sendiri. Saatnya para insan film dan pecinta film nasional bersatu padu untuk membuat film yang menyejukkan dan mengandung nilai-nilai edukasi yang menghibur penontonnya.

Kita sebagai penikmat film sudah sepatutnya juga berperan menjadi pemilik film. Pesan-pesan negatif dalam film KAYL telah membangunkan semangat umat Islam untuk bisa menjadi penikmat sekaligus pemilik film yang edukatif dan jauh dari unsur SARA.

Bismillah…mari kita canangkan Gerakan Film Dakwah Nasional dengan biaya produksi film dari kantong kita sendiri. Sebesar apapun biaya film dakwah yang akan kita produksi, akan sangat mudah kita peroleh dengan semangat berjamaah dan gotong-royong. Jika Indonesia sudah banyak melahirkan minimarket dengan investasi gotong-royong, seperti 212 Mart, Kita Mart, dan Toko Umat, maka sudah saatnya Indonesia juga memiliki film-film yang diproduksi dengan modal berjamaah (Indonesia Coop Movie).