azki Mei 20, 2017

BataraNews.com – Salah satu hal yang dipercayai semua orang di Silicon Valley adalah semua orang mengembangkan sesuatu yang dapat mengubah dunia. Kenyataannya lebih dari dua juta aplikasi di toko aplikasi tak benar-benar mengubah dunia. Meski begitu, seringkali ada anak-anak muda yang mempelajari teknologi terbaru dan belajar membuat sesuatu yang bikin orang berdecak kagum.

Salah satu contohnya adalah seorang anak SMA bernama Abu. Mengutip laporan Business Insider, Sabtu (19/5/2017), ia membuat sebuah aplikasi yang menerapkan machine learninguntuk mendeteksi kanker payudara dari mamogram.

Abu dan keluarganya merupakan imigran dari Afghanistan yang datang ke Amerika Serikat saat Abu masih kecil. “Tak mudah untuk masuk ke Amerika Serikat. Satu-satunya alasan kami bisa masuk ke AS waktu itu hanya karena ada orang-orang yang masih menunjukkan kebaikan,” kata Abu.

Dari situlah ia belajar. Saat seseorang membantu orang lain, kebaikan itu selalu kembali pada diri sendiri.

Tak disangka, raksasa internet Google tertarik dengan aplikasi yang dibuat Abu. Hal ini terbukti dengan undangan personal CEO Google Sundar Pichai kepada Abu untuk ikut serta dalam konferensi pengembang Google I/O pada Rabu waktu AS. Saat Pichai membuka konferensi tersebut, sebuah video diputar menampilkan kisah Abu.

Ketika Abu baru masuk SMA, ia duduk di depan komputernya dan menemukan kata yang tak diketahuinya, “machine learning“. Ia pun mulai menemukan arti machine leaning, sebuah teknologi yang mengajari komputer untuk melihat pola-pola dan membuat prediksi. Abu sangat terpesona dengan potensi machine learning.

Belajar Otodidak

Selanjutnya, ia mendapatkan sebuah tugas di kelas programming untuk membuat sebuah proyek yang memperlihatkan bagaimana teknologi bisa memecahkan sebuah masalah.

Ia bermaksud menggunakan machine learning untuk melakukan suatu hal yang bisa membantu orang lain. Ia pun ambisius untuk mendiagnosis kanker payudara. “Semua siswa mengembangkan sebuah kalender,” tutur Abu.

Sayang, sang guru malah menolak gagasan tersebut karena tak ingin siswanya membuat gagasan yang terlalu tinggi dan rumit. Namun, Abu tetap melakukannya, ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajari bagaimana caranya koding lewat video di laman berbagi. Ia juga mempelajari berbagai hal mengenai teknologi machine learningGoogle bernama Tensorflow.

Ia pun sukses mengembangkan aplikasi yang diinginkannya. Apakah aplikasi itu dipakai atau tidak oleh para dokter, itu bukan hal penting bagi Abu. Namun fakta bahwa Google memberi perhatian pada aplikasi besutan Abu, tentu bukanlah hal kecil.

Google juga sebenarnya sudah mulai mengerjakan proyek serupa. Bulan lalu, para peneliti Google sukses menguji coba sistem yang sama dengan yang dibesut Abu pada aplikasinya.(lip.6)