BataraNews.com – Haris berlari-lari mengitari ruangan, dari sudut ke sudut, sambil sesekali meraih dan mempermainkan benda-benda yang menarik baginya. Kali ini giliran sebuah kursi mungil warna merah yang semula tersembunyi di balik lemari, yang menjadi sasarannya. Bocah gemuk berusia 6 tahun itu pun segera mendorong kursi tersebut ke sana kemari sambil menirukan suara mobil.

Tentu saja ulahnya itu membuat malu dan jengkel ibunya, yang sedang bertamu di rumah tetangganya. Mulanya sang ibu membiarkan Haris bebas bertingkah, tetapi sekarang tidak. Suaranya sudah cukup mengganggu, dan si pemilik rumah pun tampak mulai terganggu dengan tingkah si anak aktif ini.

Ibu pun mengancam dengan suara tinggi, “Haris, kembalikan kursinya!” Sambil matanya tajam menatap anak semata wayangnya itu. Yang ditegur hanya menoleh sebentar, dan tanpa peduli segera meneruskan aktivitasnya, berimajinasi sedang mengendarai mobil.

“Haris, suaranya ribut sekali. Rusak nanti kursinya. Ayo berhenti! Kembalikan!” tegur ibu untuk kedua kalinya.

Kali ini Haris benar-benar cuek, tak peduli. Bibirnya kian keras menirukan derum mobil. Dan gedubrak…, jatuhlah kursi yang ada di tangannya. Kali ini ibu sudah benar-benar naik pitam, berdiri menghampiri Haris sambil berteriak marah,

“Apa ibu bilang… berhenti! Rusak kursi itu nantinya. Berdiri dan kembalikan!” Dimarahi seperti itu tidak membuat nyali Haris surut. Dengan tajam matanya membalas tatapan ibunya, tangannya erat memegang kursi yang terjatuh di lantai.

“Nggak! Nggak mau…!” Melihat reaksi melawan dari anaknya, ibu semakin jengkel dan berusaha memegang tangan anak itu.

“Anak nakal!” Namun, si anak pun kini semakin marah, mengibaskan tangannya, menatap ibunya dengan pandangan marah.

Melihat suasana yang semakin panas antara Haris dan ibunya, si pemilik rumah berinisiatif menengahi.

“Nggak…, Haris nggak nakal kok. Sudahlah, Bu, biarkan saja. Haris kan anak yang bertanggung jawab, nanti juga kalau sudah selesai bermain akan ia kembalikan ke tempatnya. Bukan begitu, Haris?” Sungguh sebuah komentar yang sejuk, membuat Haris terperangah, emosinya mendadak sirna.

Dengan tatapan aneh Haris memandang tetangganya itu, tampak ia sedang memikirkan sesuatu. Ajaib, karena sebentar kemudian anak ini mau berdiri (tampak sudah lebih tenang), mengangkat kursi yang terjatuh, mendorongnya sambil matanya menatap ibunya, dan mengembalikan kursi itu ke tempatnya.

Respon positif yang ditunjukkan Haris adalah berkat kepercayaan yang diberikan tuan rumah kepadanya. Sebutan sebagai anak yang bertanggung jawab dan keyakinan bahwa ia akan mengembalikan kursi ke tempatnya seusai bermain, benar-benar membuat Haris bersemangat untuk berbuat seperti persangkaan itu. Kepercayaan yang ia terima telah menumbuhkan sebuah energi dan motivasi untuk menjaga kepercayaan tersebut.

Kemauan yang Kuat

Kepercayaan merupakan salah satu bentuk pengakuan dari satu pihak ke pihak yang lain. Secara alamiah seseorang yanh dipercaya akan berusaha menjaga kepercayaan tersebut dengan sungguh-sungguh. Perasaan seperti itu bukan hanya monopoli orang dewasa, anak-anak pun mempunyai perasaan yang sama.

Dalam kasus Haris diatas, ia tiba-tiba mempunyai kemauan yang kuat untuk mengubah perilakunya. Sang ibu pun tak pernah menyangka jika Haris tiba-tiba menjadi anak yang bertanggung jawab sebagaimana yang diucapkan oleh sang tuan rumah.

Prasangka merupakan salah satu manifestasi kepercayaan. Prasangka baik menunjukkan adanya kepercayaan. Sebaliknya, prasangka buruk menunjukkan tiadanya kepercayaan.

Prasangka baik akan menumbuhkan kemauan untuk menjaga kepercayaan tersebut. Sebaliknya, prasangka buruk akan menimbulkan perasaan benci, terhina, dan keinginan untuk berbuat negatif seperti yang diprasangkakan itu.

Berprasangka Baik kepada Anak

Berprasangka baik kepada anak yang berperilaku baik merupakan pekerjaan mudah. Akan tetapi, bagaimana membangun prasangka baik terhadap anak yang bertingkah buruk?

Keragu-raguan seperti inilah yang membuat ibu Haris sulit untuk berprasangka baik kepada anaknya. Sebab, si anak aktif itu memang sudah sering membuat masalah dimana-mana.

Untuk menghilangkah keragu-raguan ini, orang dewasa sebaiknya melakukan feedback, meninjau ulang hal-hal yang berkaitan dengan terbentuknya kepribadian anak.

Pertama, hendaknya diyakini bahwa pada awalnya semua anak terlahir dalam fitrah yang bersih seperti kertas putih. Orangtualah yang paling banyak berperan mengarahkannya, menjadikannya anak yang berkepribadian baik atau buruk.

Kedua, banyak faktor luar seperti teman, guru, dan lingkungan rumah yang turut memberikan pengaruh pembentukan kepribadian anak tersebut.

Ketiga, metode pendidikan yang diterima anak tidak kalah besar pengaruhnya. Pola asuh yang dilakukan oleh orangtua, guru, bahkan kakek-nenek serta saudara yang lain juga turut memberi andil yang tidak kecil dalam pembentukan kepribadian anak.

Keempat, di luar faktor-faktor di atas, masih banyak faktor lagi yang bersifat kondisional, yang menyebabkan anak tampak tak sempurna di mata orangtua.

Di luar keempat faktor di atas, yang perlu disadari adalah bahwa setiap anak yang lahir membawa egosentrisme, sifat yang selalu mendorongnya untuk memilih setiap yang menyenangkan dirinya sendiri. Fitrah anak-anak adalah semaunya sendiri, tidak peduli kepada orang lain. Adalah tugas orangtua dan guru untuk menghapus sisi negatif ini karena anak-anak tidak mampu untuk menghilangkannya sendiri. Jika usaha orangtua belum berhasil, maka jangan timpakan kesalahan itu hanya kepada anak-anak. Sebagai orangtua kita juga harus menyadari kebelumberhasilan kita dalam mengarahkan mereka.

Masalah ini menjadi penting diketahui sebab seburuk apa pun perangai, sikap, perilaku, dan kepribadian anak, sesungguhnya bukan mutlak kesalahan anak itu sendiri. Banyak faktor eksternal yang ikut membentuk kepribadiannya, di samping faktor bawaan sejak lahir. Karenanya, tidak ada alasan bagi orangtua untuk ragu-ragu memberi kepercayaan kepada anak-anaknya. Apalagi kepribadian mereka sesungguhnya masih dalam proses pembentukan, maka inilah kesempatan yang baik untuk memberi kepercayaan kepada anak, agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Dinukil dan diselia dari buku: Mendidik Anak dengan Cinta.

Karya Irawati Istadi.