BataraNews.com – Saya memang bukanlah Seorang Uztad Jadi saya ingin menceritakan kisah nyata dari orang yang Mencari Jalan Pulang untuk mengharap ridhoan Allah.

Seseorang Yang pernah terjungkir, dan tersungkur kejurang RIBA.

Mungkin ini sedikit panjang karena kisah nyata dari DINII FITRIYAH agar menjadi pelajaran untuk kita semua.

***

BIG NO TO RIBA!! (juli.2016)

Kemarin siang ketika beres-beres toko, tak sengaja menemukan dokumen ini, dokumen yang saya fikir sudah saya buang, ternyata masih ada, usang dan sobek.

Tiba-tiba air mata mengalir deras, otak saya dipaksa mengingat-ingat lagi kenangan pahit ini. Riba! Yang telah membuat saya hidup tak jelas arah.

Sebegitu terlenanyakah saya dengan riba.. sampai saya terjerat, tersungkur tak berdayadi putaran roda terbawah menghadapi kerasnya hidup jauh dariNya?..

Sepertinya, Riba itu mengandung zat adiktif yang membuat pelakunya ketagihan. Ketika itu, apa yang saya inginkan begitu mudah dicapai. Semua sesuai target.

Saya ingin beli tanah, bank memenuhi, belumlah lunas, ditawari kembali untuk biaya bangun, saya terlena, belum lagi modal usaha, kendaraan, semuanya hasil kredit dari bank, kerjasama dengan leasing. Terngiang banyak orang bilang “Pengusaha ya wajar banyak utang”, atau “Gunakan duit bank kalo mau sukses,” atau “Ngapain pake duit sendiri kalau bank mau ngasih,”. Saya terlena.

Padahal kata-kata itu adalah lubang perangkap yang akan menenggelamkan kita pada kegelapan yang paling pekat. Perusahaan kolaps dengan cara yang tak pernah kami duga. Dengan musibah beruntun yang datang tak henti-henti. 2014 akhir, 3 ruko yang dijadikan jaminan itu akhirnya ditulis “Bangunan ini akan segera dilelang”. Karena 3 bulan saya sudah menunggak (pernah direschedule sekali, dan menunggak lagi 1 bulan dan tidak diberi kesempatan lagi) .

Huhhh, berasa lagi degdegannya kalau saya ingat bahwa saya pernah punya cicilan 20jt/bulan (kurleb hampir 4th yang terbayar). waktu itu saya punya penghasilan sekitar 50jt/bulan dari 1 toko, belum 2 toko lainnya, kecil-kecil tapi ya lumayan.

Ya, banknya SYARIAH. katanya SYARIAH. Tapi aturan tetap aturan. Tak ada ampun bagi siapapun, tak sanggup bayar, jual! tak bisa jual, lelang!

Bank itu hanya mau dekat-dekat kita kalau kita bisa memberikan keuntungan buat mereka, kalau tidak, siap-siap aja menghadapi kehancuran. Saya hanya diberi waktu maksimal 3 bulan untuk menjual ruko seharga 1,5M, di daerah. Tapi, saya tak bisa. Ya sudah pasrah..

Waktu itu tak banyak yang tau kisah ini, pun teman-teman terdekat, meskipun saya masih sering update FB. Toh saya ceritapun mungkin tak akan ada yang percaya. Ada yang saya punya janji dan tak bisa ditepatipun akan bilang “ngarang, alibi, cuma alesan, dll”.

Telpon tak berhenti berdering, yang nagih dari bank datang hampir tiap hari. Mobilpun diserahkan sama yang biayain alias leasing, tanpa basa basi, setelah disita tak ada konfirmasi apapun, dana lebih, dll (sudah nyicil 1th, kontrak 2th).

Hanya bisa pasrah sampai titik terendah.. Sampai akhirnya harus ngekos, tidur sekamar berlima.. (nulis ini gemeteran sambil nangis), terbayang lagi bagaimana si kakak harus pindah sekolah, harus berhenti semua lesnya, harus menjatah anak-anak lauk makan 1500/hari..

Ah gak sanggup ceritain detilnya.

Teman, intinya harta itu titipan. Tak usah dipaksakan jika memang belum mampu beli. jangan percaya omongan “kalo tidak kredit ga akan punya-punya”.

Allah maha kaya, MAHA KAYA. sekali lagi, MAHA KAYA. “kalo tidak kredit ga akan punya-punya”, orang yang bilang gitu, dia tidak percaya sama Allah, makanya kalo ga kredit dia ga akan punya-punya. Tidak. Saya tidak pernah menyesali semua kehilangan yang pernah saya alami dulu. Bahkan saya mensyukurinya. Dengan begituAllah ingin saya lebih mendekat padaNya.

Sekarang, saya tidak akan pernah mengulanginya lagi. Gak apa-apa sekarang kontrak dulu, kantor di garasi dulu. Kalau kebeli, baru pindah. Kalau masih belum kebeli, ya ngontrak aja lagi. Masih belum kebeli juga, kontrak again.

Gimana kalau ga kebeli-kebeli? gak apa-apa toh harta mah ga dibawa mati. Kasian dong anak-anak kalau kontrak terus? gimana nanti masa depan mereka? ya ga gimana-gimana, ada Allah mah maha besar, anak-anak sudah punya rezeki masing.

Insyaallah.. bisa.

Margin mirip bunga, beda nama doang.

(yang mau ambil rumah via KPR, Mobil, motor pakai lising coba difikir lagi)

“Tidak ada seorangpun yang melakukan praktek riba kecuali akhir dari urusannya adalah hartanya menjadi sedikit” (HR. Ibnu Majah, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, disahihkan oleh Al-Imam Al-Albani Rohimahullah dalam Shahih Ibnu Majah)

Semoga menjadi perhatian untuk perbankan syariah di Indonesia agar menjadi lebih baik lagi agar tak ada pihak yang terdzolimi.

Alhamdulillah sekarang sudah bisa merangkak bangkit lagi, Allah menggantinya dengan lebih berkah. Sudah bisa beli mobil lagi, beli motor lagi, bisa usaha lagi, meskipun tidak mewah tapi hidup menjadi lebih tenang.

***

Panjang memang, tapi ini bisa menjadi inspirasi untuk diri kita untuk Kembali ke jalan yang benar.

Kisah-kisah seperti ini di tulis juga oleh mas Saptuari Sugiharto menjadi sebuah Trilogiyang isinya dapat menggetarkan hati saat di baca.

Temukan di mencarijalanpulang.com

Buku tersebut mudah-mudahan dapat menjadi pedoman untuk pengusaha muslim.

 

 

Salam

 

Billy Sharul Maulana

Digital Strategis Billionaire Store