BataraNews.com – Apa yang salah dengan para pelajar di Indonesia??? Terlalu dini mereka mengenal yang namanya miras bahkan hubungan suami istri. Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh peristiwa dibeberapa daerah. Mulai dari pelajar SMP sampai SMA/SMK, sudah berani pesta miras dan melakukan hubungan layaknya suami istri. Kalau tidak pesta miras, yang mereka lakukan tawuran antar pelajar. Tidak jarang juga ada beberapa mahasiswa perguruan tinggi juga ikut-ikutan menggelar ajang tawuran antar mahasiswa. Sebenarnya apa yang salah dengan mereka? Apakah ini salah lembaga pendidikan? Salah orangtua? Salah lingkungan sosial? Atau ini salah pemerintah?

Anak dibentuk oleh orangtua, dikembangkan oleh lingkungan pendidikan dan dibesarkan oleh lingkungan sosial. Serta andil besar pemerintah dalam menjaga para penerus bangsa. Sesungguhnya di tangan para pemuda urusan negara dan di kaki para pemuda hidupnya Negara. Inilah kenapa pentingnya pemuda karena di tangan pemudalah yang menentukan kesuksesan keberhasilan maju mundurnya suatu bangsa atau pun Negara, apabila ingin menghancurkan suatu Negara maka hancurkan seluruh pemudanya dengan pergaulan bebas, minuman keras, narkoba sehingga Negara tersebut akan hancur porak poranda kacau balau generasi pemudanya. Tetapi apabila ingin Negara sukses maju sejahtera maka didiklah pemudanya dengan pendidikan agama aqidah yang kuat lurus didiklah dan fasilitasi dengan ilmu pengetahuan teknologi yang modern sehingga bisa kuat keyakinannya dan luas pengetahuannya sehingga bisa menghadapi tantangan zaman kedepan karena pemuda adalah masa depan bangsa.

Orangtua juga harus berperan aktif dalam mengawasi, menjaga dan bertindak tegas terhadap perilaku dan pergaulan sekitar anak-anaknya. Karena orangtua pemegang “kunci” keberhasilan seorang anak. Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. khalifah ke-4 umat islam yang terkenal dengan kepintaran, kejujuran dan juga kesetiaannya terhadap Rasulullah SAW ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:

  1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja. Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya
  2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan. Anak mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban. Usia 7-14 tahun adalah usia yang tepat bagi seorang anak untuk diberikan hak dan kewajiban tertentu.
  3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat. Usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh dan teladan yang baik.

 

Selain pendidikan keluarga, Pemerintah juga diharapkan bisa lebih tegas lagi dalam hal menegakkan undang-undang perlindungan anak. Memfilter lebih ketat lagi tentang informasi yang berbau sara, miras, porno aksi dan provokatif. Pemerintah harus benar-benar mengawasi fungsi dan tugas dari lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. Seleksi ketat, para calon pendidik/guru. Eleminasi langsung para calon guru yang memliki indikasi akan melakukan tindakan asusila terhadap muridnya, memiliki gelagat yang suka mencaci-maki dan bersikap kasar bahkan melakukan tindakan kekerasan terhadap muridnya. Berikan upah yang layak dan penghargaan yang terbaik untuk guru-guru di seluruh Indonesia, jangan hanya memperhatikan nasib para guru yang ada dikota-kota besar saja.(jsh)