azki Jul 29, 2016

BataraNews.com – Cerita ini mungkin sudah banyak beredar di dunia maya tentang sepak terjang Menteri Rizal Ramli hingga akhirnya terjadi polemik antara Rizal Ramli dan Ahok yang cukup banyak menghiasi jagad berita nasional.

Seorang teman membagikan cerita bagaimana sepak terjang Rizal Ramli sepanjang beliau jadi menteri. Agar obyektif mari kita langsung simak penuturan dari sumber cerita tersebut.

“Malam ini Saya berbincang sampai larut malam dengan seorang petinggi negeri, yang sering ikut ratas (rapat terbatas) Kabinet Bidang Ekonomi Kabinet Kerja. Yang ingin saya sharing, bagaimana peran sahabat kita RR dalam setiap sidang kabinet yang mendapat acungan jempol dari petinggi ini.

Pertama: waktu menjelang puasa, dikala ratas membahas soal suplai bahan pokok, daging dll. Menteri perdagangan menyampaikan perlu impor besar-besaran untuk menambah suplai, agar terjadi keseimbangan permintaan dan suplai, yang muaranya harga-harga akan turun. Waktu Itu, Sahabat Kita RR angkat bicara; masalah daging dan kebutuhan bahan pokok, sebenarnya gampang mengatasinya. Panggil 9 naga yang kuasai Pasar, minta dia untuk menurunkan harga, kalau tidak bersedia sikat. Sayang, usulan RR tdk ditanggapi Peserta Ratas.

Kedua, waktu ratas Bidang investasi. Waktu Itu Presiden menyampaikan, bahwa ada pihak yang menekan Presiden untuk Cabut Kepres No …/1995 tentang Reklamasi. Presiden keberatan karena akan merusak wibawa Negara. Sahabat Kita RR, langsung menanggapi response Presiden, dengan menjelaskan Panjang lebar permasalahan reklamasi di Pantai Utara Jakarta, dan kesepakatan Rakor Tiga Menteri untuk menghentikan Reklamasi Pulau G, dan Pengembang pulau C dan D diwajibkan mengikuti ketentuan perundangan dan peraturan.

Dalam rapat itu RR juga menyatakan, korporasi tidak boleh mendikte Negara, dan Negara tidak boleh kalah oleh korporasi. Mendengar penjelasan RR, akhirnya Presiden setuju bahwa Negara tidak boleh didikte oleh korporasi. Bahkan presiden menyatakan, Sikat pengembang yang melanggar aturan Negara.

Mendengar sekelumit penuturan teman Saya petinggi Negara tentang RR tersebut, Saya sungguh salut kepada RR. Ternyata jiwa aktivisnya yang mendahulukan kepentingan publik, kepentingan rakyat, tidak berubah walau sudah menjabat Menko. Teman Saya tadi menyatakan: RR tidak Ada takutnya. Dalam setiap sidang kabinet, kalau dia anggap Ada kebijakan menteri Yang tidak pro publik, pasti disikatnya, tentu dengan argument dan data yang kuat.

Demikian sekedar info, bukan untuk menyanjung RR, tapi sekedar info buat kawan-kawan.

Ketika cerita tersebut dikonfirmasi ke RR, dia memberikan jawaban,”Ini pengabdian terakhir 73. Kalau tidak sekarang kapan lagi ? In a way,, semakin pasrah juga,, kita mencoba yg terbaik,, sisanya serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.