Keistimewaan yang diberikan Allah Swt bagi para Penghafal Al qur’an

Spread the love

BataraNews.com – Al qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam merupakan salah kunci penting bagi bangkitnya dan majunya sebuah peradaban Islam. Kita tentunya tahu bagaimana Rasulullah Saw dan para sahabatnya memulai sebuah peradaban Islam yang begitu gilang-gemilang hingga peradaban itu menerangi sisi-sisi Eropa yang gelap dan bau. Awal peradaban itu adalah sejak diturunkannya Surat Al ‘Alaq kepada Rasulullah Saw dan Rasulullah Saw menyampaikannya lagi kepada para Sahabat-sahabatnya dan kemudian sampai lah kepada kita disini.

Namun, mengapa saat ini umat Islam yang masih masih memiliki Al qur’an tidak lagi menjadi sebuah  umat pelopor peradaban tetapi menjadi umat pengekor yang (cenderung) tidak lagi punya identitas diri yang kuat? Jawabanya adalah dari cara memperlakukan Al Qur’an.

Al Qur’an di  zaman nabi dan sahabat benar-benar dijadikan panduan hidup utama dan satu-satunya. Dalam niat, perkataan dan perbuatan mereka selalu mengambil rujukan Al qur’an sampai-sampai ada salah satu  sahabat  pernah berkata,” Andaikan sendalku hilang, maka aku akan mencarinya di kitabullah.”

Al qur’an di zaman kita ini banyak hanya dijadikan hiasan rumah saja, dibaca kalau ada kelahiran dan kematian seseorang saja, banyak dibaca kalau malam jum’at saja itupun hanya surat Yasin saja yang dibaca,atau dibaca setahun sekali pas bulan Ramadhan saja. Itupun yang di baca hanya Lafadznya saja belum banyak sampai kepada memahami ayat-ayatnya dan mengamalkannya. Maka tidak heran kalau Allah Swt mencabut keberkahan umat ini lantaran karena perbuatan umat ini juga yang tidak mau menjadikan Al qur’an sebagai Way Of Life nya. Padahal banyak sekali manfaat dan fadhilah bagi orang-orang yang senantiasa tekun kepada Alqur’an. Beberapa manfaat dan fadhilahnya dapat dibaca dibawah ini dan mudah-mudahan bisa dijadikan semangat dan motivasi kita semua dalam membaca , menghafal , menghayati dan mengamalkan isinya.Aamiin.

Al-Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafalnya.

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah olehmu Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Nabi saw. memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah saw. sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul menguji hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada sahabat yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al-Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al-Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Sahabat menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i).

 

Nikmat mampu menghafal Al-Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu.

Barangsiapa yang membaca (hafal) Al-Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan padanya.” (HR. Hakim)

 

Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan tasyrif nabawi (Penghargaan khusus dari Nabi saw).

Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi saw. kepada para sahabat penghafal Al-Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafidz Al-Qur’an. Rasul mendahulukan pemakamannya.“Adalah Nabi mengumpulkan diantara orang syuhada uhud, kemudian beliau bersabda, “Manakah diantara keduanya yang lebih banyak hafal Al-Qur’annya, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliu mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)

Hafidz Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi.

Dengan syarat, Hafidz tersebut mau merenung (tadabbur) dan mengamalkan isi Al-Qur’an.“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli (penghafal) Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Mendapatkan Mahkota Termegah di Akhirat

Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari (menghafal) Al-Qur’an.” (HR. Hakim)

Diangkat Derajatnya setara dengan Para Malaikat

Dan perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendapat derajat Surga sesuai banyaknya hafalan

Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi saw., beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada penghafal Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al-Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Kepada hafidz Al-Qur’an, Rasul saw. menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah.

Rasulullah saw. bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

Pahala yang senantiasa mengalir

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.”  (HR. Tirmidzi).

Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an.

Tidak boleh seseorang berkeinginan (iri) kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al-Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari)