BataraNews.com – Pengurus Seksi Dakwah Masjid Asy Syuhada di Gunung Sahari Jakarta, Rifan Muzamil, yang mengundang Syamsudin Uba ke masjid itu untuk menggelar kajian, dicoret dari kepengurusan masjid. Kajian pada 14 Februari itu di kemudian hari diberitakan media Australia, ABC, sebagai propaganda Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Kemarin kami sudah rapat. Akhirnya nama dia (Rifan) dicoret karena sudah mencoreng masjid,” kata Ketua Pengurus Masjid Asy Syuhada, Agus Salim.

Agus kaget karena pengajian yang dimintakan izin untuk digelar oleh Rifan berujung pada pemberitaan negatif. Agus juga merasa dibohongi oleh Rifan.

Sehari sebelum kajian digelar, Rifan meminta izin menyelenggarakan pengajian hari Minggu mulai pukul 09.00 WIB hingga tengah hari saat waktu salat zuhur tiba.

Masjid Asy Syuhada memang biasa digunakan untuk pengajian remaja setempat tiap Minggu pagi. Namun kegiatan itu telah lama tak dilakukan sejak Idul Fitri tahun lalu.

Agus pun senang karena pikirnya, remaja-remaja di lingkungannya mulai kembali rajin mengaji. Terlebih, Rifan mengatakan pengajian akan bertemakan kajian tauhid.

“Kalau mau ngaji, ya ngaji saja, asal jangan dengan materi yang aneh-aneh,” kata Agus kepada Rifan.

Agus tidak menghadiri pengajian itu karena mesti mewakili keluarganya dalam acara lamaran. Setibanya kembali, warga melapor bahwa pertemuan di Masjid Asy Syuhada dihadiri sekitar 70 orang, termasuk ibu-ibu dan anak kecil.

“Anak-anak lapor ke saya, saat mau salat zuhur, masjid ramai diisi orang tak dikenal. Ada juga yang melapor kalau materi kajiannya seperti itu,” kata Agus tanpa mau merinci seperti apa materi yang dia maksud.

Agus telah menjelaskan dan mengklarifikasi hal itu ke Kepolisian. Dia sendiri yang melapor ke polisi.

Sementara Rifan berkata hanya dimintai izin oleh Syamsudin Uba, ustaz yang memimpin acara tersebut. Rifan mengaku tak kenal Syamsudin secara pribadi dan baru bertemu di Islamic Center Bekasi.

Rifan meminta Syamsudin untuk menjadi khotib di masjidnya. Sang ustaz menyambut dan meminta izin untuk membawa jemaat.

“Saat bertemu ya terlintas dia ustaz biasa saja. Ustaz kan memang dakwah, masak dihalangi,” kata Rifan.

Sebelumnya, ABC mengklaim menyaksikan pertemuan rahasia simpatisan ISIS di sebuah masjid di Jakarta Pusat yang diyakini merupakan wadah perekrutan militan di ibu kota.

Awak media tersebut mengklaim pertemuan rahasia itu terjadi di masjid Asy Syuhada yang terletak di sebuah jalan yang tidak cukup besar untuk dimasuki mobil. Lokasi masjid tidak disebutkan dengan jelas.

Juru kamera ABC yang merupakan warga negara Indonesia memperoleh akses ke pertemuan itu. Meski terdapat upaya untuk menghentikannya merekam pertemuan itu, wartawan ABC itu mengatakan berhasil mendapatkan rekaman yang cukup jelas.

“Mereka menyatakan bahwa wilayah itu merupakan wilayah Negara Islam [ISIS] di mana hukum Allah ditegakkan sepenuhnya, dan di mana tidak ada intimidasi dari negara-negara asing,” ujar ulama garis keras bernama Syamsudin Uba dalam pertemuan itu di Masjid Asy Syuhada itu, sebagaimana dikutip dari ABC.

Syamsudin Uba yang dihubungi melalui sambungan telepon, membantah menyebarkan propaganda ISIS. “Tema kami jelas, kajian strategis khilafah menguasai dunia menghapus penjajahan. Kami bicara khilafah, tidak bicara ISIS,” kata dia.

Syamsudin pernah ditangkap polisi karena diduga menyebarkan paham radikal ISIS di Alor, Nusa Tenggara Timur, tahun lalu. Namun dia kemudian dilepas karena tak ada cukup bukti.