BataraNews.com – Ledakan bom mobil di ibu kota Turki, Ankara, hari Rabu (17/02), menewaskan setidaknya 28 orang, lebih dari 60 orang lainnya luka-luka.

Para pejabat mengatakan bom mobil ini meledak ketika iring-iringan bus militer tengah lewat. Ledakan terjadi di dekat kompleks parlemen, gedung-gedung pemerintah, dan markas militer.

Wakil Perdana Menteri Turki, Bekir Bozdag, menyebutnya ‘jelas aksi teror’, sementara Perdana Menteri, Ahmet Davutoglu, langsung membatalkan lawatan ke Brussel, Belgia.

Sebelum ledakan malam ini, Turki beberapa kali menjadi sasaran serangan teror. Pada pertengahan Januari 2016 lalu, seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan diri di Istanbul dan menewaskan 10 orang.

Rangkaian aksi teror di Turki menghancurkan industri pariwisata di sana yang sebelumnya bernilai US$ 32 miliar. Dua negara asal wisatawan terbesar di sana adalah Jerman dan Rusia.

Sumber keamanan Turki mengatakan indikasi awal mengisyaratkan gerakan separatis Kurdi yang dilarang, PKK, bertanggung jawab atas ledakan bom mobil hari Rabu ini. Pasukan Turki belum lama ini meningkatkan serangan terhadap milisi Kurdi di Suriah, yang mereka katakan memiliki hubungan dengan PKK.

Juru bicara kenegaraan, Numan Kurtulmus mengungkapkan, korban merupakan tentara dan warga sipil. Tak hanya korban jiwa, ada juga korban luka. Jumlah korban luka mencapai 61 orang.

Pejabat militer Turki yang berwenang menjelaskan, mobil yang menjadi sumber ledakan tersebut memang sudah menunggu iring-iringan bus militer melintas.

Mobil tersebut menunggu tepat di lampu merah tak jauh dari pusat parlemen dan daerah militer Ankara.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menjelaskan akan melawan setiap teror yang ada. Erdogan menegaskan pihaknya akan berjuang melawan setiap serangan yang tidak bermoral dan tidak berperikemanusiaan.