BataraNews.com, KARANGANYAR – Informasi ditemukannya candi baru di lereng Gunung Lawu, di Desa Segoro Gunung, Ngargoyoso, Karanganyar, sudah berkembang beberapa tahun terakhir. Konon, candi misterius tersebut berdiri kokoh berselimut tanah.

Dua orang dari media lain berkesempatan menyusuri jejak keberadaan candi tersebut pada Senin, (11/1/2016) seperti dikutip dari keterangan solopos.com. Kami dipandu enam orang dari komunitas Karanganyar Emergency yang sudah hafal dengan kondisi medan.

Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB ketika rombongan mulai mendekati rimbun rimba Gunung Lawu. Kabut pekat yang mulai turun, dan gemerisik suara angin yang meniup daun-daun, seolah menyambut kami.

Hutan yang kami tuju berjarak sekitar 40 menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari Desa Girimulyo. Perjalanan kami tempuh menggunakan enam sepeda motor. Kondisi jalur yang sempit menjadi tantangan tersendiri.

Kami mesti melaju beriringan di sepanjang jalur yang hanya selebar dua meter. Sekitar dua kilometer sebelum hutan, rombongan harus melintasi jalur yang masih berupa tanah. Kondisi jalur tersebut menanjak dan licin.

Beberapa sepeda motor anggota rombongan selip dan terjatuh. Tapi hal itu tak membuat rombongan patah arang. Sepeda motor yang tak kuat menanjak kami dorong supaya lebih mempunyai daya.

Sesekali kami tertawa lepas saat ada anggota rombongan yang tergelincir dan jatuh terkapar di jalur tanah. Beberapa anggota malah iseng mengabadikan momentum tersebut. Situasi yang benar-benar penuh rasa keakraban.

Sekitar pukul 13.15 sepeda motor kami tiba di tepi hutan. Jalur setapak bagi para pendaki gunung dan petani, kami gunakan untuk parkir kendaraan. Sejauh mata kami memandang tak tampak aktivitas manusia.

Jalan Kaki

Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Jalur utama masuk hutan tertutup ranting dan dahan pohon, sehingga kami harus mencari jalur lain. Beruntung kami bersama sukarelawan yang tahu betul kondisi medan.

Rombongan kami dipimpin Komandan Karanganyar Emergency, Joko Sunarto alias Mbah Po. Pengalamannya malang melintang di Gunung Lawu menjadikan laki-laki ini mengenal betul karakteristik hutannya.

Menerobos rimbun tanaman liar hutan dengan kemiringan tanah sekitar 40 derajat, dan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), bukan perkara mudah bagiEspos dan dua awak media lainnya.

Kabut yang semakin turun membuat nafas kami kian tak teratur. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, tim dari Karanganyar Emergency membentuk formasi apit. Awak media ditempatkan di tengah rombongan.

Sekitar 15 menit perjalanan kaki, kami lewati sungai kecil berisi bebatuan besar. Tapi airnya terlalu sedikit, sehingga tak mengalir. Suara satwa liar sahut menyahut seolah memberitahukan kedatangan kami kepada rekan mereka.

Selang lima menit berikutnya rombongan tiba di sebuah tempat yang terdapat susunan bebatuan membentuk jalur menanjak. Kondisinya sudah tak rapi. Rombongan bergerak menuruni jalur jalan dari bebatuan tersebut.

“Di sini lah pintu masuknya, dari arah barat. Diduga susunan bebatuan ini adalah pintu masuk area candi peninggalan zaman dulu. Belum ada nama candinya, dibangun abad ke berapa belum jelas,” tutur Mbah Po.