BataraNews.com – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Budi Waseso, tegas menolak target rehabilitasi gratis bagi 400.000 pecandu narkoba pada tahun 2016 sebagaimana program yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sebaliknya, pria yang akrab disapa Buwas itu menegaskan bahwa program tersebut harus dilaksanakan secara selektif dan terstandar.

Buwas mengatakan bahwa pihaknya berkaca pada program serupa pada tahun 2015. Dimana dari target rehabilitasi sebanyak 100.000 pecandu narkoba, BNN hanya mampu merehab 34.000 saja.

Sebab, pihaknya menginginkan kualitas rehabilitasi yang baik. Sehingga dirinya enggan untuk menerima target program yang diberikan oleh presiden tersebut.

“Ini bukan karena semata kuantitas, namun juga karena kulitas. Karena saya ingin yang direhabilitasi itu benar-benar tidak kembali menggunakan narkoba lagi,” terang Buwas saat memberikan pengarahan di depan para pengurus BNN se-Jatim di gedung BNN Provinsi Jatim di Jalan Ngagel Madya V, Sabtu (16/1).

Lebih jauh Buwas yang lebih menyukai penindakan hukum terhadap para pelaku penyalahgunaan narkoba mengatakan bahwa jika pengguna narkoba memang wajib dilakukan rehabilitasi, maka dirinya akan memberikan rehabilitasi.

Namun demikian, pihaknya harus melihat latar belakang mereka yang menggunakan narkoba tersebut.

“Sekarang begini saja, saat mereka menggunakan narkoba kan secara sadar. Mereka juga sudah tahu risiko yang dialami. Jadi masak penyalahguna ini tidak dihukum,” katanya.

Langkah penindakan hukum ini, kata dia, perlu dilakukan untuk memberikan rasa jera kepada para pengguna atau penyalahguna narkoba.

“Saat ini, negara kita sudah darurat narkoba. Jadi kita tidak akan memberi ampun kepada para pengguna maupun bandarnya,” terang Buwas.

Karena alasan itu pula, dirinya tidak begitu setuju dengan adanya fasilitas rehabilitasi yang ada di BNN.

Hal ini karena para pengguna atau penyalahguna narkoba itu dinilai tidak akan sembuh jika cuma direhabilitasi.

“Saat direhabilitasi, mereka diajar soal kedisiplinan, bahkan diajarkan baris-berbaris. Tapi setelah selesai rehabilitasi, mereka bisa jadi akan menggunakan lagi (narkoba) bahkan bisa sambil baris-berbaris,” sindir mantan kabareskrim Mabes Polri ini.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa saat ini ada sekitar 5 juta orang di Indonesia yang sudah menjadi pengguna narkoba.

Mereka tak hanya orang kaya yang mampu membeli dan mengonsumsi narkoba. Tapi juga tukang sapu, pelajar, mahasiswa, tukang ojek, dokter, santri, aparat TNI/Polri, bahkan petugas BNN dan anak TK pun sudah ada yang menggunakan narkoba.

Karena itu, dirinya tidak begitu khawatir dengan aksi teror yang diduga dilakukan kelompok teroris di Jakarta, Kamis (14/1) lalu.

Dirinya lebih khawatir jika pemberantasan narkotika tidak tertangani secara maksimal. “Karena lebih darurat narkoba daripada darurat terorisme,” ucapnya.

Ia lantas mencontohkan dalam sehari, akan ada sekitar tiga ribu masyarakat Indonesia yang mati karena narkoba. “Masak dengan data yang cukup mengerikan ini, kita masih enak-enakan tidur. Sedangkan kemarin bom yang menewaskan tujuh orang, kita sudah heboh hingga seluruh dunia,” ucap Buwas.

Karena itu, lanjut Buwas, BNN berencana untuk melakukan kerja sama dengan TNI dan Polri untuk memberantas bandar narkoba bersama-sama. Ia menilai bandar narkoba adalah musuh terbesar bangsa Indonesia sehingga perlu adanya tindakan tegas.

“Dari pada senjata kami berkarat dan peluru kedaluwarsa, mending kita tembakkan saja ke para bandar narkoba agar tidak seperti Freddy Budiman yang sudah tiga kali lolos dari hukuman mati. Agar dia langsung dihukum mati saat ditangkap,” tuturnya.

Indonesia sendiri masuk dalam pangsa pasar serta pabrikan bagi bandar narkoba yang ada di ASEAN. Dengan temuan itu, Buwas mengaku sedikit miris.

“Langkah saya pada tahun ini akan terus memberantas narkoba hingga ke bandar terbesar. Saat ini BNN provinsi, kota dan kabupaten sudah sangat setuju dan siap bekerja sama memberantas narkoba,” katanya.