BataraNews.com – Nama pengusaha minyak Muhammad Riza Chalid belakangan terus menjadi bahan perbincangan di media sosial. Kasus Freeportgate telah membawa namanya menjadi pemberitaan di media.

Ketua Presidium Peduli Kejujuran (Pijar) Andi Syamsul Bahri mengatakan Riza Chalid adalah orang yang mendanai pencapresan Prabowo-Hatta Rajasa.

Riza Chalid di rumah Polonia (markas pemenangan Capres Prabowo-Hatta)

Riza Chalid di rumah Polonia (markas pemenangan Capres Prabowo-Hatta)

“Dalam pemilihan Presiden tahun 2014, mafia minyak Reza Chalid rela membeli rumah tinggal mantan Presiden Soekarno dengan isteri Hartini (rumah Polonia) sebagai markas pemenangan dalam Pilpres,” tandasnya.

Kedigdayaan Riza Chalid, lanjut Andi, runtuh seketika pada saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintah membubarkan Petral sebagai operator pembelian minyak mentah, bahan baku premium subsidi.

“Petral sebagai operator tunggal pembelian minyak mendapatkan kekuasaan dan kewenangan membeli minyak dengan harga murah tetapi di jual ke Pertamina dengan harga tinggi karena Petral menyetor upeti kepada elite penguasa dan lingkaran satu rezim SBY,” tegas pria yang akrab disapa Daeng ini.

Pasca rezim SBY turun, tambahnya, Reza Chalid mencoba peruntungan mendukung capres Prabowo-Hatta Rajasa.

“Tapi calon yg didukung kalah telak dari Jokowi-JK. Sejak itu mafia minyak ini Reza Chalid sudah kehilangan induk, apalagi setelah Presiden jokowi membuat tim audit Petral yang diketuai Faizal Basri dan rekomendasinya bubarkan Petral.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi telah memerintahkan kepada Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Sudirman Said membubarkan Petral.

“Maka sejak itu mafia minyak Riza Chalid telah kelimpungan dan hancur-hancuran,” kata Daeng.

Kendati demikian, Daeng menilai Riza Chalid ini punya seribu akal. Menurutnya, Riza mendapat angin setelah berhasil mengumpulkan petinggi KIH dan KMP.

“KIH dan KMP duduk bersama untuk mengatasi kebuntuan politik di parlemen yang buntutnya terjadilah kesepakatan politik untuk mengamankan kebijakan politik membawa cita Jokowi- JK yang berbasis kepentingan rakyat bukan kepentingan mafia seperti Riza Chalid,” tegasnya.

“Tetapi namanya mafia tidak akan berhenti begitu saja menggarong kekayaan negara, peluangnya ada pada Freeport. Dia coba kongkalikong dengan SN elite KMP dan sebagai Ketua DPR. Nah, disini kena batunya lagi dengan gamblangnya Riza Chalid mengumbar kedigdayaannya sebagai Mafia Minyak yang telah bertahan berpuluh-puluh tahun dilindungi oleh rezim berkuasa,” tutur Daeng.

Atas dasar itu, aktivis Pijar ini meminta pihak Kepolisian dan Jaksa Agung untuk mengungkap kejahatan Mafia Minyak selama ini dengan menangkap Riza Chalid.

“Dan mencari siapa saja yang melindunginya selama ini termasuk kroni selama Pemerintahan SBY,” pungkasnya.