Des 6, 2015

BataraNews.com | Penulis: Anthon Setiawan – Pengamat Ekonomi

Kali ini kita layak memberikan apresiasi kepada penyanyi dangdut Cita Citata yang melambungkan tunggalan (single) Sakitnya Tuh Di Sini. Judul lagu yang telah dilihat lebih dari 45 juta pengunjung (viewer) di situs youtube.com sangat pantas untuk dialamatkan kepada Ari Hernanto Soemarno.

Semasa berkuasa sebagai direktur utama PT Pertamina pada 2008, kakak kandung Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno itu begitu leluasa mengatur langkah di perusahan minyak dan gas bumi pelat merah ini. Salah satu “karya” monumentalnya adalah terbentuknya Integrated Supply Chain (ISC) di tubuh Pertamina pada September 2008 dan beroperasi penuh Januari 2009.

Tujuan mulia ISC yang diklaim Ari dalah untuk memperbaiki pengadaan proses minyak mentah dan produk olahan hasil minyak mentah serta mengambil alih fungsi Pertamina Enery Trading Pte Ltd (Petral) selaku pengimpro minyak mentah.

Tetapi, kehadiran ISC justru harus didahului dengan pengalihan kewenangan pengadaan minyak mentah dari sebelumnya digaet Direktorat Pengolahan Pertamina. Itu belum termasuk mencomot kewenangan bahan bakar minyak (BBM) dari Direktorat Pemasaran dan Niaga Pertamina.

Pembentukan lembaga yang juga dikenal sebagai PTM-ISC ini atas saran konsultan manajemen strategi terkemuka, McKinsey & Co yang kala itu posisi country manager dijabat oleh Arif Budiman, direktur keuangan Pertamina saat ini. Ari disebut-sebut membayar jasa McKinsey & Co hingga Rp 1 triliun sebagai konsultan.

Sebagai kepala ISC yang pertama, Ari menunjuk Sudirman Said, pegiat antirasuah yang ikut mendirikan Masyarakt Transparansi Indonesia (MTI). Sudirman, Menteri Energi Sumber Daya Mineral saat ini, tidak hanya dipercaya sebagai deputi direktur dengan jabatan Senior Vice President ISC. Ia juga diminta Ari untuk membenahi fungsi sekretaris perusahaan serta menjabat Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia.

Ari tidak membiarkan Sudirman bekerja sendirian. Ia menempatkan pula Daniel Syahputra Purba (kini anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas) untuk mendampingi Sudirman di ISC. Daniel sempat menjadi wakil (vice president) ketika Ari memimpin Petral.

Semula, kehadiran ISC semasa Ari berkuasa dimaksudkan untuk memperkuat dominasi keluarga Ari Soemarno (Rini dan Ongki P Soemarno) dan kroninya, dalam bisnis minyak impor Pertamina.

ISC sempat kebablasan dalam menerapkan kebijakan produksi minyak yang menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan minyak, solar, dan avtur. Kapasitas kilang-kilang tua Pertamina tidak mampu menampung kelebihan pasokan itu dan membuat Pertamina harus menyewa kapal tanker.

“Pertamina harus menyewa tanker sebesar US$900 ribu per bulan untuk menampung kelebihan pasokan dan harus membayar tenaga ahli hingga US$15 juta. Kami sewaktu di DPR mempertanyan keberadaan ISC di tubuh Pertamina dan untuk apa dibentuk. Kerugian akibat tidak profesionalnya ISC adalah pada biaya penampungan dan menghilangnya pertamax di beberapa daerah di Indonesia,” kata Nizar Dahlan, yang sempat masuk dalam tim Panitia Khusus Angket BBM Komisi VII DPR, Februari 2009.

Kejayaan ISC sempat terhenti ketika Ari dicopot dari posisinya pada Februari 2009. Ari, kelahiran Yogyakarta 14 Desember 1948, digantikan Karen Galaila Agustiawan, mantan staf ahli Ari. Oleh Karen, posisi Sudirman sebagai orang nomor satu di ISC dicopot pada Maret 2009 dan diminta mengawasi kegiatan restrukturisasi aset dan anak usaha Pertamina.

Kini, ketika Karen tak lagi berkuasa dan Presiden Joko Widodo memilih Dwi Soetjipto sebagai pengganti, dimanfaatkan betul oleh Ari untuk membalaskan dendam.

Setelah sukses mengantarkan Sudirman Said ke kursi menteri, Ari juga berhasil menempatkan Daniel Purba, mantan anak buahnya sebagai orang nomor satu di ISC. Tidak banyak yang tahu bahwa trio Rini-Sudirman-Ari menempatkan “mata” untuk mengawasi kinerja Tanri Abeng, komisaris utama Pertamina. “Mata” yang dimaksud adalah Widhyawan Prawiraatmaja. Mantan Deputi Pengendalian Komersial SKK Migas itu ikut ditunjuk sebagai komisaris mendampingi Tanri.

Seorang sumber di Istana menyebutkan, Dwi pernah mengadu kepada Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Staf Kepresidenan, bahwa Ari kerap mendikte Dwi untuk mengeluarkan beberapa kebijakan yang lebih menguntunkan kubu Ari.

Salah satunya adalah kebijakan kontroversial pembubaran Petral, anak usaha Pertamina khusus impor minyak yang bermarkas di Singapura.

“Tentu dalam proses ini harus kita padukan karena kita tidak mau setelah kita melakukan langkah likuidasi, kita dituntut oleh pihak-pihak yang lain. Jadi, proses kita lakukan, maka mudah-mudahan langkah kita tidak tersandung oleh masalah-masalah yang mungkin menjadi penghambat yang lain lagi,” demikian dikatakan Tanri di Jakarta, minggu kedua Mei 2015.

Tanri justru percaya pembubaran Petral dapat meningkatkan efisiensi Pertamina.

“Kalau saya mendefinisikan efisiensi adalah kemampuan Pertamina untuk bersaing secra efektif secara global. Ini challenging. Jadi kita tidak hanya mengukur kemampuan antara kita sendiri, kami sepakat dengan struktur baru, sistem baru, dan transparan. Dengan begitu, kami bisa diawasi oleh baik regulator, pemegang saham, maupun masyarakat,” kata Tanri.

Sejatinya, tidak mudah untuk membubarkan Petral, salah satu perusahaan yang dinobatkan sebagai 100 besar pembayar pajak terbesar di Singapura dalam lima tahun terakhir.

Sumber yang dekat dengan trader-trader minyak Singapura menyebutkan, hambatan utama yang akan dihadapi kroni Ari untuk membubarkan Petral, karena perusahaan yang berkantor di kawasan elite Orchard Road itu masih mengantongi kontrak jangka pendek dan menengah untuk pembelian BBM dan minyak mentah dengan perusahaan-perusahaan minyak multinasional (MOC) seperti Chevro (Amerika Serikat), Shell (Belanda), dan beberapa perusahaan minyak nasional seperti Petronas (Malaysia), Eni (Italia), Enoc (Uni Emirat Arab), BP (Inggris), Petrochina (Tiongkok), PTT (Thailand), KPC(Kuwait).

Bukan itu saja, Petral pun pada periode April 2015 hingga Maret 2016 telah setuju untuk membeli minyak Mogas 88 kepada trader seperti Vitol, Luk Oil, dan Trafigura Oil

“Tentu saja tidak mudah untuk membatalkan kontrak-kontrak itu begitu saja karena semua berkekuatan hukum dan saling mengikat. Itu yang harus diperhatikan betul oleh pihak-pihak yang menginginkan bubarnya Petral,” tegas sumber yang minta tidak disebutkan namanya.

Jika dirunut ke belakang, Ari adalah montir bagi mengkilatnya bisnis Petral. Pintu masuknya adalah kebijakan pengurangan tender terbuka Pertamina pada 2005-2006 dengan ditetapkannya Petral, PPT, dan KIPCO melalui mekanisme penunjukan langsung. Ari adalah pencetus dari kebijakan itu, ketika masih menjabat direktur pemasaran Pertamina .

Ari, lulusan Universitas Aachen, Jerman, saat itu beralasan penunjukan langsung demi pengembangan bisnis anak-anak usaha Pertamina. Terlebih Ari adalah mantan direktur utama Petral pada Oktober 2003 sebelum digantikan oleh Hanung Budya Yuktyanto.

Munculnya kebijakan penunjukan langsung itulah, menjadi bibit bagi tumbuh suburnya apa yang disebut sebagai mafia migas.

“Jadi sebenarnya Ari Soemarno adalah orang pertama yang menciptakan permafiaan di tubuh Pertamina, baik untuk kepentingan keluarga maupun orang-orang terdekatnya. Pada era 2006-2009 semua orang di Pertamina sudah tahu bahwa Ari Soemarno sangat dekat dengan mafia migas, termasuk dia di dalamnya.”

Ketika menjadi direktur utama Petral pada 2003-2004, Ari Soemarno pernah tidak melakukan tender untuk mendapatkan harga jual terbaik bagi penjualan Green Coke eks Kilang Dumai. Ia justru mengalokasikannya kepada dua perusahaan fiktif (post box company), Paramount Oil dan Orion Oil yang di kemudian hari berupaya menaikkan harga jual minyak hingga US$8 per barel dari harga pasaran saat itu. Penggelembungan harga untuk membayar minyak sebesar 300 ribu ton itu membuat Petral rugi US$2,4 juta.

Ketika menjadi direktur pemasaran di Pertamina, Ari kembali mengulangi kasusnya di Petral. Kali ini korbannya adalah Hanung Budya yang menjabat dirut Petral saat itu. Ari meminta Hanung memenangkan Mitsubishi dan Mitsui bagi minyak Green Coke Dumai untuk pengapalan sepanjang 2005.

Hanung, melalui tender yang sudah diatur, memenangkan Mitsubishi untuk pasokan minyak Maret dengan harga tawaran US$36 per barel.

Sedangkan Mitsui diatur “menang” di tender terbatas denga harga US$36,25 per barel untuk pengapalan April-Desember 2005.

Lucunya, Mitsui belum pernah membeli minyak Green Coke Dumai sebelumnya, baik melalui Pertamina atau Petral. Selain itu, harga Mitsui lebih tinggi dari harga Mitsubishi yang memasok kargo Maret.

Kebijakan penunjukan langsung bagi impor minyak mentah dan BBM itu tentu saja berdampak “bagus” terhadap Petral. Puncaknya adalah ketika putra tertua Mr Soemarno, Gubernur Bank Indonesia era 1960-1963 itu, didaulat sebagai direktur utama Pertamina pada 2006. Naiknya Ari sebagai orang nomor satu Pertamina diyakini oleh Yusra Faisal dari Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu, tak lepas dari dukungan Muhammad Riza Chalid, mafia minyak kakap. Ari segera menunjuk kaki-tangannya, Johanes Sunarmo sebagai dirut Petral.

Ari Soemarno yang coba dikonfimasi mengenai keterkaitannya dengan mafia minyak hingga berita ini diturunkan belum memberi tanggapan. Nomor telepon seluler 08159698888 milik Ari ketika dihubungi sedang tidak aktif.

Kini, lewat tangan Sudirman, Rini dan Daniel Purba, Ari berupaya mengembalikan masa jaya yang tertundam termasuk mengubur dalam-dalam Petral, perusahaan yang pernah dibanggakan Ari.

Sumber: suarapimred.com