BataraNews.com – Nama juragan minyak Muhammad Riza Chalid menjadi populer dua minggu belakangan ini. Selama ini sosok Riza hanya dikenal bak hantu di belakang layar dunia minyak Indonesia bahkan perpolitikan tanah air.

Bos Global Resource Energy ini menjadi perbincangan publik karena namanya disebut dalam transkrip percakapan antara Ketua DPR Setya Novanto dan Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.

Rekaman percakapan itu dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan oleh Menteri ESSM Sudirman Said. Sudirman menilai Novanto melanggar kode etik anggota DPR karena mencatut nama Presiden Jokowi meminta saham di Freeport.

Hal ini membuat sosok Riza Chalid terungkap di publik. Padahal selama ini, Riza dikenal sebagai orang di belakang layar, tak tersentuh sejak 2004.

Dalam rekaman percakapan itu, muncul banyak fakta mencengangkan. Bukan hanya soal Feeeport, tapi juga perpolitikan Indonesia.

Riza bahkan sudah mengatur proyek pembangunan Smelter dan PLTA. Padahal Riza hanya seorang pengusaha, bukan pejabat publik.

“Kita ini orang kerja, strateginya. Jadi Freeport jalan, bapak itu bisa terus happy, kita ikut-ikutan bikin apa. Kumpul-kumpul. Gua gak ada bos, nggak usah gedek-gedek. Ngapain gak happy. Kumpul-kumpul. Kita golf. Gitu, Kita beli private jet yang bagus, representative. Apalagi,” kata Riza dalam transkrip itu.

Riza bahkan menyatakan pernah bertemu dengan sosok yang dikodekan Dharmawangsa untuk membahas Freeport. Dharmawangsa dikenal dengan Jusuf Kalla, karena JK tinggal di Dharmawangsa.

Tidak cuma itu, Riza mengaku sudah kenal lama dengan Jokowi. Bahkan sebelum Pilpres 2014 ingin menduetkan dengan Hatta Rajasa.

“Saya kaget itu Pak, Saya kan kenal Jokowi, lama sekali Pak. Saya itu jodohin terakhir, ngedorong Jokowi jadi capres. Saya, Pak Hendropriyono dan Pak Budi Gunawan. Seminggu sekali kita rapat di rumah Pak Hendro ama Jokowi. Paling lambat dua minggu sekali, selama setahun sebelum capres Pak. Walaah alot Pak, saya suruh ganti baju. Wah, Pak ganti baju dong. Saya ngobrol sama Karni Ilyas dia kan sosialis. Sosialis kok pengusaha, kalau sosialis. Itu bukan,” kata dia.

Riza juga mengungkap, pertarungan pilpres yang melibatkan Komjen Pol Budi Gunawan. Riza juga mengaku dekat dengan Kapolda Metro Jaya Tito Karnavian.

“Di Solo ada, ada Surya Paloh, ada si Pak Wiranto pokoknya koalisi mereka, Dimaki-maki Pak, Jokowi itu sama Megawati di Solo. Dia tolak BG. Gila itu, saraf itu. Padahal, ini orang baik kekuatannya apa, kok sampai seleher melawan Megawati. Terus kenapa dia menolak BG. Padahal pada waktu pilpres, kita mesti menang Pak. Kita mesti menang Pak dari Prabowo ini. Kalian operasi, simpul-simpulnya Babimnas. Bapak ahlinya, saya tahu saya tahu itu. Babimnas itu bergerak atas gerakannya BG sama Pak Syafruddin. Syafruddin itu Propam. Polda-polda diminta untuk bergerak ke sana. Rusaklah kita punya di lapangan,” tutur dia.

Tidak cuma itu saja sepak terjang Riza. Dia mengaku bisa mengumpulkan elite KMP usai kalah pilpres. Dia minta KMP legowo dan dukung pemerintahan Jokowi.

“Sebelum bubarin Pak, kalau gak gini Pak. Saya ini kan pedagang, Saya ikutan politik kan karena teman-teman saja. Baik, gak cerai. Saya pedagang. Saya bilang eh ini saatnya damai. Kita kumpulin semua yuk. Kumpul Bang Ical, Anis Matta, Hatta, pokoknya semua kita kumpul,” tutur dia.

Menko Polhukam Luhut B Panjaitan jadi salah satu orang yang diandalkan Riza dalam lingkaran istana. Riza mengaku bisa kendalikan KMP untuk dukung Jokowi.

“Kita undang Pak Luhut datang. Saya siapkan depan. Ada Pak Luhut ama timnya. Saya bilang itu, saat ini kita sudah kalah. Kalah Pilpres. Tapi kita akan balas tahun 2019. Cuma sekarang kita harus berdamai membangun negara. Jangan ikut. Presiden sama wapres enggak boleh diganggu, saya bilang. Kita cari makan. Sekarang Pak Luhut yang ada di sana, Ini temen-temen dan kita minta ikutlah Pak Luhut. Coba Pak Luhut sampaikan ke Jokowi. Kalau mau sepakat begitu kita dukung. Ini saran saya. Mulai ngomong rurururuurr Akhirnya sepakat pak malam itu, oke kita dukung Jokowi JK supaya sukses. Nanti 2019 ceritanya lain. Langsung deh pada dukung Jokowi, pada ketemu Jokowi semua. Prabowo apa dukung Jokowi. Sejak itu. Makanya Pak, DPR gak pernah ganggu Jokowi. Gak pernah ganggu Jokowi. Malah yang enggak mendukung Jokowi itu PDIP. KMP enggak, semuanya mendukung. Itu kita happy juga sih. Kalau negara aman kita punya jalan. Tapi kalau ribut terus di palemen, pusing kepala. Bayangin sudah kurang aman negara, ekonominya hancur,” jelas Riza.

Riza mengaku ingin duetkan Jokowi dengan Hatta. Namun rencananya tak berjalan baik karena ditolak Megawati.

“Memperjuangkan dia itu capek sob. Segala macam cara, Pak Hendro ngomong sama Megawati waktu di Kebagusan. Belum saatnya. Dikira sekaligus. Belum Pak. Saya itu baik, saya kasihan sama Pak Jokowi, saya akan bantu Pak Jokowi ke Hatta sebagai cawapres. Pak Jokowi sama Hatta mungkin Pak, tapi Meganya gak mau. Saya sama Hatta itu sahabat,” jelas dia. (Merdeka)