BataraNews.com – Perekaman percakapan antara Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) dengan pengusaha Muhammad Riza Chalid, dilakukan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoedin tanpa sepengetahuan keduanya. Langkah itu dilakukan untuk menjaga dan melindungi diri bila di kemudian hari terjadi persoalan.

“Saya memerlukan self protection sehingga kalau di kemudian hari bisa dipertanggungjawaban dan saya laporkan, bilamana kalau di kemudian hari dilaporkan,” ujar Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoedin saat memberikan keterangan dalam menjalani pemeriksaan sebagai saksi di ruang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) di Gedung DPR, Kamis (3/12).

Perekaman dilakukan dalam pertemuan ketiga di bulan Juni antara Setnov, Riza Chalid dan Maroef. Rencana perekaman percakapan setelah Maroef menegarai adanya kecurigaan pada pertemuan kedua. Pasalnya, dalam pertemuan kedua terdapat pengusaha Riza Chalid. Maroef mengaku kaget. Tak berselang lama, pertemuan berjalan selama satu jam.

“Dalam satu (pertemuan, red) ada materi-materi bisnis. Saya sampaikan bagi kami bisnis itu siapa pun boleh,” ujarnya.

Usai pertemuan itu, Maroef mengaku melakukan analisa secara pribadi. Berdasarkan analisanya, dalam pertemuan tersebut Setnov sebagai pejabat negara mengajak pengusaha. Mestinya, kata Maroef, Setnov sebagai Ketua DPR mengajak alat kelengkapan DPR yakni Komisi VII yang membidangi energi dan sumber daya alam.

“Itu yang ada dalam analisa saya,” ujarnya.

Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen negara (BIN) itu mengatakan, selang sepekan setelah pertemuan ke dua di bulan Juni, terjadilah pertemuan ketiga. Waktu dan tempat diatur oleh staf Ketua DPR. Singkat cerita, terjadilah pertemuan di sebuah tempat di Pacific Place. Mengantisipasi berbagai kemungkinan, Maroef pun merekam pembicaraan mereka dengan telepon selularnya.

“Handphone (HP) saya taruh di atas meja dan saya rekam,” ujarnya.

Menurutnya, substansi pembicaraan sama persis dengan yang diperdengarkan Kamis malam di ruang MKD saat mendengar keterangan Sudirman Said. “Tidak ada yang menyuruh saya merekam. Ini bagian akuntabiliotas saya apabila diperlukan, karena kecurigaan saya awalnya,” katanya.

Lebih jauh, adik dari mantan Wamenhan Sjafrie Sjamsoedin itu mengatakan, dalam pertemuan ketiga itu, pembicaraan dimulai dari yang bersifat ringan hingga meluas. Menjelang akhir, Maroef mengaku lebih banyak diam. Pasalnya, pembicaraan sudah melebar.

“Kalau yang mulia mendengarkan, saya berhentikan pertemuan itu, saya bilang terimakasih pak waktunya. Sudah tidak pantas seorang pengusaha dan pimpinan DPR berbicara seperti itu,” imbuhnya.

Anggota MKD Guntur Sasono mencecar pertanyaan. Menurut Guntur, bila merujuk UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE), kegiatan merekam tak jauh berbeda dengan perekaman tanpa izin.

“Bagaimana pandangan anda dengan UU ITE terkait penyadapan?,” ujar politisi Partai Demokrat itu.

Menanggapi Guntur, Maroef mengaku tidak mengetahui bila pembicaraan dalam pertemuan bakal melebar ke permintaan pembagiam sebesar 9-13 persen. Menurutnya, pembahasan permintaan saham di luar perkiraan. Dia mengatakan, hasil perekaman itu akan diserahkan ke penegak hukum. Wakil Ketua MKD Jinmart Girsang penasaran.

“Kami menanyakan kepada saudara, apakah ada bukti yang mau disampaikan di sidang ini?,” tanya politisi PDIP itu.

Maroef mengatakan, bukti berupa rekaman yang tersimpan dalam HP nya telah diserahkan ke Kejaksaan Agung. “Sudah saya berikan HP itu kepada Kejaksaan Agung,” kata Maroef.

Laporan: Rofiq Hidayat

Sumber: Hukum Online