BataraNews.com – Menjangkitnya Islamofobia di Indonesia sebenarnya sudah sampai kabarnya ke seluruh pemimpin negara-negara di dunia. Ada yang senang, ada yang menyayangkan. Yang senang tentunya blok zionsekomissiotaqiyyahsasi yang merasa diuntungkan dengan merebaknya Islamofobia di Indonesia.

Dan isu yang kedua adalah adanya penciptaan kondisi tertentu demi tercapainya angka kapitalisasi yang diinginkan oleh negera pencipta kerusuhan di negeri ini. Kondisi tertentu di sini bersifat lebih luas, yaitu kekacauannya dapat berupa ekonomi, sosial, budaya dan atau pun agama.

Di sini dia mengulas alasan pertama saja, yaitu adanya ‘isu’ sentimen anti-Islam yang tidak hanya terjadi di negeri ini, namun juga di dunia secara keseluruhan, adalah sebagai berikut:

1. Jika anda mau ‘membaca’ kekerasan dan pembantaian yang terjadi pada ‘Muslim-Rohingya’ yang terjadi baru-baru ini atau’Muslim-di Thailand Selatan’, ‘Muslim di Philipina’, ‘Pakistan’, ‘Sudan’, ‘Bosnia’ dan atau Afghanistan yang semuanya berhubungan dengan Islam, dan lihat respons PBB yang dimotori oleh US (tudingan wajib seolah mewakili kolonial) dan sekutunya? Jika tidak mau dikatakan seolah diam tidak peduli, “Sangat pasif bukan?”

2. Dan mohon dibaca betapa perkasanya PBB jika itu menyangkut ‘kepentingan’ kapitalis non-Islam? Lihat akibat dari Iraq hingga saat ini dengan ‘rekayasa 11 Septembernya’ yang juga buatan “oknum” US’, lihat juga beberapa negara Islam timur-tengah yang dirasakan ‘mengganggu’ kepentingan barat non Islam (kepantingan non persia juga) dibuat ‘terkapar’ oleh perang antar saudara sesama muslim sendiri.

3. Yang masih hangat, Hillary Clinton (telusuri keterkaitan keluarganya dengan china) “seenaknya” mengakui pada ‘Times’ jika ISIS adalah ciptaan US dengan segala maksud dan tujuannya. Namun ‘hebatnya’, tetaplah Islam yang disudutkan, bukan si pencipta dari teror itu sendiri? Jadi penggunaan logika terbalik pada masyarakat kita juga dunia dalam memandang Islam memang sedikit banyak telah sukses, buktinya adalah Paris, mengapa France – Rusia sekutu “katanya” menyerang ISIL dengan memborbardir Suriah tapi tidak menyerang atau cuma mengutuk US sebagai pencipta ISIL?

4. Pun berlaku terhadap kerasnya respons negara-negara ‘barat’ sekuler terhadap ‘kisah-kisah’ yang kebetulan terjadi di Papua yang mayoritasnya non-Islam dalam merespon apa-apa yang sudah kita lakukan terhadap gerakan ‘separatis’ tersebut? Yang kita dituduh anti HAM-lah, tiadanya pemerataan-lah dan hal-hal lain yang bersifat provokatif bagi rakyat Papua itu sendiri. Menir masih dendam?

5. Di domestik kita, lihat betapa dunia seolah ‘meram’ dan memilih tidak tahu apa-apa ketika tragedi perang saudara di POSO, Sampit, Ambon, Madura dan pun ‘tragedi ahmadiah’ di setiap pelosok negeri ini seolah dipandang tiada pernah terjadi di mata negara-negara PBB yang memang kebanyakan ‘dikuasai’ oleh para sekuler non-Islam?

Bandingkan Korea Selatan dengan ‘ulah Korea Utara’, bandingkan Jepang dengan ‘ulah China’, bandingkan Ukraina dengan ‘ulah Rusia’ (lupa ulah-ulah kolonial). PBB dengan US (kena lagi) dan sekutunya seperti sangat cepat sekali dalam merespons, baik preventif maupun ofensif. Penulis tidak anti non-Islam, tetapi penulis mempertanyakan, kenapa ketika sebuah tragedi terjadi jika itu menyangkut (negara) Islam, di sini khususnya Palestina dengan Israel, PBB dan negara-negara ‘penguasa’ PBB dengan ‘hak-veto’nya seperti meng-‘amin’-kan apa-apa yang sedang terjadi di sana, “sebuah genosida”?

Bahkan, betapa kisah ‘gangguan kecil’ yang terjadi di Bogor sana mengenai sekelompok orang agama non-Islam yang dilarang beribadah sampai membuat seorang Hillary Clinton (ikut-ikutan) bersuara minor akan ‘kerukunan-beragama’ di negeri ini.

Padahal pelaranga di sana tidak ada hal yang bersifat destruktif secara besar, “membakar rumah ibadah” saat hari besar. Sebenarnya kekisruhan kerukunan beragama tidak hanya terjadi pada lintas agama, namun juga lintas mazhab pada agama Islam. Misalnya antara sunni dan siah, antar wahabi dan ahmadiayah, antar wahabi dan NU dan atau antara JIL dan para pemeluk ‘puritan’. Dan masih banyak lainnya yang dapat memicu konflik perpecahan umat yang seolah dibiarkan tapi dibina oleh tangan-tangan pengendali yang berkepentingan?

Dari berbagai propaganda anti islam pihak “asing” pengikutnya, apakah yang membuat peradaban Islam Papua seolah hanya dongeng?? Tentunya ini jadi pertanyaan yang mesti ditelusuri oleh team-team ahli dan pemerintah untuk mengungkap kebenaran akan kebesaran peradaban dan keragaman sejarahnya yang membuktikan sesungguhnya kita adalah Bangsa yang besar dan jaya, pernah membangun perdaban Superpower – Nuswantara. Mari bersatu, hilangkan egoisme SARA dan sinisme, marilah kita bangkit dan membangun kembali Nusantara. (Tamat)