BataraNews.com – Pola penyebaran Islam di Papua meliputi kedatangan Islam, terbentuknya masyarakat Muslim, dan munculnya kerajaan-kerajaan Muslim. Hal itu membutuhkan proses waktu berabad-abad. Demikian pula proses tersebut melalui bermacam-macam cara. (Baca: Menggali Jejak Islam di Bumi Cendrawasih, Papua (Bagian II))

Secara garis besar proses penyebaran Islam dapat melalui berbagai saluran seperti: perdagangan, pernikahan, birokrasi pemerintahan, pendidikan, tasawuf, cabang-cabang kesenian dan lain-lain. Pola penyebaran Islam di Tanah Papua, juga melalui beberapa saluran antara lain sebagai berikut:
1. Saluran Perdagangan
2. Saluran Sosial Kultural
3. Saluran Politik
4. Saluran Perkawinan
5. Saluran Pendidikan

Munculnya Kerajaan-Kerajaan (Petuanan) Islam, Taufiq Abdullah menyatakan bahwa terdapat tiga konsep tentang masuknya agama Islam ke suatu daerah, yaitu: (1) datang, yang dinyatakan dengan adanya bekas peninggalan Islam di kawasan yang bersangkutan; (2) berkembang, yang dinyatakan dengan adanya masjid, pusat-pusat pendidikan dan komunitas dan sarana keagamaan lainnya; (3) kekuasaan politik, dengan munculnya kekuasaan kerajaan tersebut.

Dari ketiga konsep di atas, di Tanah Papua pun berdiri kerajaan-kerajaan (petuanan) Islam kecil yang diberikan otonomi oleh Kesultanan di Maluku. Kerajaan-kerajaan Islam kecil ini terdapat di kepulauan Raja Ampat-Sorong dan Jazirah Bomberay (Fakfak dan Kaimana), yaitu:

1. Kerajaan-kerajaan Islam di Kepulauan Raja Ampat

Kerajaan-kerajaan Islam di Kepulauan Raja Ampat terbagi dalam 4 kerajaan, yaitu: (1) Kerajaan Waigeo dengan pusat pemerintahannya di Weweyai, Pulau Waigeo; (2) Kerajaan Salawati dengan pusatnya di Sailolof, pulau Salawatati Selatan; (3) Kerajaan Misool dengan pusatnya di Lilinta, Pulau Misool; (4) Kerajaan Batanta.

2. Kerajaan-kerajaan Islam di Wilayah Fakfak dan Kaimana

Kerajaan-kerajaan Islam di Kepulauan Raja Ampat terbagi dalam 9 kerajaan, yaitu: (1) Kerajaan Namatota; (2) Kerajaan Komisi; (3) Kerajaan Fatagar; (4) Kerajaan Ati-Ati; (5) Kerajaan Rumbati; (6) Kerajaan Pattipi; (7) Kerajaan Sekar; (8) Kerajaan Wertuar; dan (9) Kerajaan Arguni.

Bukti-Bukti Peninggalan lainnya:
1. Daerah Fakfak dan Kaimana
Di daerah Fakfak dan Kimana terdapat bukti-bukti peninggalan penyebaran Islam, di antaranya ialah: terdapat tiga buah masjid tua, masing-masing Masjid Tunasgain di kampung Tunasgain, distrik Fakfak Timur, Masjid Tubirseram di pulau Tubirseram, dan Masjid Patimburak di kampung Ptimburak. Selain bukti masjid-masjid tersebut, terdapat juga bukti lain yaitu naskah kuno, Manuskrip yang berupa mushaf al-Qur’an yang ditulis di atas kulit kayu dan masih banyak yang lainnya.

2. Daerah Raja Ampat
Di daerah Raja Ampat terdapat bukti-bukti peninggalan penyebaran Islam, di antaranya ialah: Living Monument (masjid-masjid) dan Dead Monument (makam-makam Islam lama).

3. Kepulauan Mansinam Manokwari
Di daerah Manokwari terdapat bukti-bukti peninggalan penyebaran Islam, di antaranya ialah: salinan manuskrip yang aslinya berbahasa Tidore kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Potret suasana keagamaan di daerah Papua tersebut menarik, karena disatu sisi agama Islam merupakan “agama resmi” bagi kerajaan-kerajaan di kepulauan Raja Ampat, Semenanjung Onin dan di daerah Kowiai (Kaimana). Hal ini ditandai dengan raja dan keluarganya yang telah memeluk agama Islam, serta adanya institusi resmi yang berkaitan pengaturan kehidupan masyarakat. Pengaruh Raja umumnya sangat besar dalam membantu tersebarnya Islam di daerah ini.

Diterimanya Islam sebagai agama dan jalan hidup masyarakat Papua, maka pranata-pranat kehidupan sosial budaya memperoleh warna baru. Keadaan ini terjadi karena penerimaan mereka kepada Islam sebagai agama, tidak terlalu banyak mengubah nilai-nilai, kaidah-kaidah kemasyarakatan dan kebudayaan yang telah adasebelumnya.

Apa yang dibawa oleh Islam pada mulanya hanyalah urusan-urusan ‘ubudiyah (ibadah) dan tidak mengubah lembaga-lembaga dalam kehidupan masyarakat yang ada. Islam mengisi sesuatu dari aspek kultural mereka, karena sasaran utama dari pada penyebaran awal Islam hanya tertuju kepada soal iman dan kebenaran tauhid. (Bersambung)