Aneh, Ada Tradisi Membuang Orang Tua Sendiri di Jepang

Spread the love

BataraNews.com – Jepang merupakan negara yang terkenal dengan keindahan bunga sakura dan kemajuan teknologinya. Tetapi ada tradisi yang terbilang aneh dan unik dari negara ini, yaitu tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan di Jepang.

Tradisi ini memang unik dan mungkin bisa dibilang kejam dan hanya Jepanglah yang memiliki tradisi membuang orang tua ke hutan. Sebenarnya apa tujuan tradisi ini dan apakah sampai sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat Jepang?

Tradisi membuang orang tua di Jepang merupakan tradisi yang sangat tidak menjunjung nilai kemanusiaan. Tradisi ini terkenal dengan sebutan ubasuteyama artinya gunung pembuangan nenek.

Ubasuteyama merupakan sebuah cerita rakyat yang telah berkembang di masyarakat Jepang sejak dahulu kala dan mengisahkan tentang pembuangan seorang nenek kehutan untuk mengurangi jumlah mulut yang harus dikasih makan. Ada dua versi cerita tradisi tersebut yang telah berkembang dimasyarakat, kedua versi tersebut yaitu:

1. Masalah pelik dari negara tetangga.
Versi pertama tradisi Jepang membuang orang tua ke hutan yaitu dahulu kala terdapat seorang penguasa disalah satu provinsi di Jepang. Raja tersebut berpendapat bahwa orang yang sudah lanjut usia dan sudah tidak mampu untuk bekerja dianggap manusia yang tidak berharga dan tidak ada gunanya lagi karena hanya akan menambah jatah makan saja tetapi tidak bisa membantu perekonomian keluarga. Sehingga dia membuat sebuah peraturan yang memaksakan setiap anggota keluarga yang memiliki anggota keluarga yang sudah tua harus membuangnya ke gunung, jika ada keluarga yang tidak melaksanakan peraturan tersebut maka akan dijatuhi hukuman yang berat. Namun keluarga yang memiliki anggota keluarga yang sudah lanjut usia tidak tega melaksanakan peraturan tersebut, sehingga mereka menyembunyikan orang tua dikolong rumah mereka agar tidak diketahui oleh raja.

Suatu ketika sang raja mendapat tantangan untuk menjawab masalah yang pelik dari negara tetangga, Jika dia tidak bisa menjawab permasalahan yang diberikan maka wilayahnya akan diserbu dan dikuasai oleh negara tetangga tersebut. Sang raja tidak dapat menjawab permasalahan yang diberikan, namun para orang yang sudah lanjut usia bisa menjawab pertanyaan tersebut sehingga wilayahnya batal untuk diserbu. Dengan adanya kejadian tersebut, maka dihapuslah peraturan membuang orang tua ke hutan dan semua orang tua mendapat kehormatan yang tinggi dari raja.

2. Patahan ranting.
Versi kedua dari tradisi Jepang selanjutnya adalah kisah tentang ibu yang dibuang di hutan. Dahulu kala ada seorang anak laki-laki yang berjalan menggendong ibunya yang sudah tua. Anak tersebut berniat untuk membuang ibunya kehutan untuk mengurangi jatah makanan yang harus ditanggungnya karena ibunya sudah tidak dapat bekerja lagi dan hanya menjadi beban bagi dirinya. Sepanjang perjalanan sang ibu terus mematahkan ranting disekitarnya, anaknya pun heran dengan kelakuan ibunya tersebut dan bertanya mengapa dia mematahkan ranting disepanjang jalan. Ibunya yang tahu akan dibuang oleh anaknya menjawab dengan senyuman ‘agar nanti kau pulang, tidak tersesat’. Mendengar jawaban dari ibunya, anak laki-laki tersebut merasa bersalah dan menyesali perbuatannya sehingga membawa kembali ibunya pulang bersamanya dan tidak pernah mengulangi perbuatannya lagi.

Selain versi patahan ranting ini, juga ada versi cerita tebaran dedak sebagai ganti patahan ranting namun jalan ceritanya sama. Versi lain juga menceritakan tentang seorang nenek yang membawa keranjang dibuang cucu laki-lakinya dihutan, namun akhirnya sang nenek batal untuk dibuang dan dibawa kembali kerumahnya.

Itulah beberapa cerita rakyat yang telah berkembang di masyarakat Jepang dan menjadi sumber tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan di Jepang.