BataraNews.com – Sekitar 1.500 karyawan di Kota Surakarta (Solo) terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Ancaman PHK tersebut terjadi akibat lesunya ekonomi dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Solo, Baningsih Tedjokartono, tahun ini merupakan tahun terberat bagi pengusaha. Lesunya ekonomi saat ini membuat omzet pengusaha di semua sektor merosot karena dipengaruhi penurunan daya beli masyarakat.

Penguatan dolar, tambahnya, telah menyebabkan sejumlah harga bahan baku meningkat. Namun pengusaha juga dituntut menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Selain itu, tidak ada keringanan untuk pembayaran kewajiban kepada perbankan.

“Sekitar 1.000-1.500 karyawan dari semua sektor usaha terancam segera di PHK karena pengusaha terbebani dengan bermacam biaya tapi pemasukan minim. Namun asosiasi meminta supaya pengusaha menunggu dan tidak buru-buru mem-PHK, minimal hingga tiga bulan ke depan,” ungkap Baningsih saat ditemui wartawan di Gedung Bank Indonesia (BI), seperti dilansir dari solopos.com, Jumat (25/9/2015).

Hal itu bertumpu pada pernyataan Pemerintah yang menyampaikan bahwa ekonomi saat ini terus membaik dan menguat, sehingga diharapkan pada akhir tahun kondisi ekonomi stabil dan bisnis kembali normal. Baningsih mengaku penentuan upah minimum kota (UMK) saat ini sangat berat dan membuat pengusaha dilema.

“Serikat pekerja merupakan partner pengusaha sehingga kami tetap memperhatikan nasib mereka tapi kondisi saat ini memang sangat sulit. Kami pun berharap karyawan bisa mengerti kondisi yang terjadi dan tidak hanya menyalahkan pengusaha,” kata dia.

Ia berharap, pemerintah ikut campur tangan untuk meringankan pengusaha. Seperti pemberian suku bunga ringan dan percepatan pemulihan ekonomi. Dia mengungkapkan pemberian bunga pinjaman yang ringan dapat membantu pengusaha untuk berekspansi dan berinovasi supaya tetap mampu bertahan.