BataraNews.com – Anggota DPRD DKI Fraksi Gerindra, Syarif memberi informasi terkait jamuan makan acara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebesar Rp 6,6 miliar pertahun.

Dia mengetahui angka fantastis itu dalam rapat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2016. Uang itu dianggarkan Biro Kepala Daerah dan Kerja Sama Luar Negeri (KDH dan KLN).

“Kami temukan itu di Biro KDH dan KLN. Saya rasa perlu diefisienkan. Setahun Rp 6,6 miliar buat jamuan makan malam sepertinya terlalu besar,” ujar Syarif, Jumat (11/9).

Menurutnya, Biro KDH dan KLN menganggarkan uang itu untuk satu tahun dengan jumlah jamuan 600 acara. Artinya, Pemrov DKI mengganggarkan duit rakyat Rp 11 juta untuk satu kali makan di Balai Kota Jakarta.

“Saya kurang tahu hitungan 600 acara dalam setahun dari mana. Padahal, hari efektif kerja dalam setahun hanya 250 hari. Apa dalam satu hari ada dua atau tiga jamuan di Balai Kota?” kata Syarif.

Diketahui sebelumnya bahwa anggaran naskah pidato Ahok perbulan Rp 67 juta. Biaya tersebut dikeluarkan jika Ahok berpidato dengan teks minimal 10 kali setiap bulan. Totalnya, seperti tertera dalam dokumen KUA-PPAS, anggaran penyusunan naskah pidato Gubernur DKI Jakarta sebesar Rp 805 juta.

Meski anggaran itu telah tertera dalam KUA-PPAS, Ahok mengaku telah melakukan pemangkasan terhadap anggaran yang dialokasikan untuk penyusunan naskah-naskah pidato gubernur itu.

“Kalau dulu kan selalu bayar orang untuk membuat naskah pidato gubernur. Sekarang sudah tidak lagi. Makanya, daripada tidak jelas ke mana uang itu, kita pangkas saja,” ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).