Bataranews, Jakarta – Krisis Ekonomi Asia tahun 1998 menyebabkan nilai “Rupiah” jatuh sebanyak 35 persen, sehingga menjatuhkan pula pemerintahan Soeharto.

Pada Desember 1997, nilai tukar rupiah terhadap dollar Rp 5.915, namun di awal Januari 1998, rupiah berada diposisi terpuruk, yakni Rp 14.800. Kini rupiah kembali terperosok di level Rp 14.000 per-dollar.

Lemahnya nilai tukar rupiah disikapi pemerintah dengan mencari “kambing hitam” dan sibuk menyalahkan pihak lain sebagai penyebab rupiah anjlok.

Si “Perak” yang memiliki nominal angka besar dengan pecahan Rp. 100.000, namun bernilai kecil dan dengan mudah dikalahkan oleh dollar dengan pecahan $10 yang setara dengan nilai Rp.140.000.

Lemahnya rupiah berimbas pada berbagai sektor usaha, dari usaha kecil hingga besar mengalami penurunan angka produksi dan penjualan. Puncaknya, banyak pabrik “gulung tikar” akibat situasi dan kondisi seperti ini.

Kawasan industri di Tangerang terdapat beberapa pabrik yang telah tutup akibat melemahnya rupiah. Begitu pula di daerah lain, seperti Semarang, dimana seorang teman bekerja disalah satu pabrik industri elektronik yang kini diambang kebangkrutan, bahkan dipastikan diawal bulan September “tutup”.

Demonstrasi kian marak, menuntut pemerintahan Jokowi-JK mundur dari jabatannya. Seperti yang dilakukan mahasiswa dan aktivis di depan Istana Negara kemarin.

Tercatat dalam sejarah, saat nilai tukar rupiah berada dikisaran Rp 14.000 perdollar, membawa jatuhnya pemerintahan Soeharto. Akankah sejarah itu terulang dimasa pemerintahan Presiden Joko Widodo?

Penulis: Biren Muhammad (Jurnalis)