Pak, Politik Negeri Ini Oleng Kok Dibiarkan Saja?

04 Agu 2020, 20:11:36 WIB Opini
Pak, Politik Negeri Ini Oleng Kok Dibiarkan Saja?

Kian hari perpolitikan di negeri ini kian karut marut. Persoalan demi persoalan kian rumit. Polemik RUU HIP membuat umat marah dan menolak mentah-mentah. Aksi penolakan digelar berjilid-jilid oleh tokoh, ulama dan umat Islam di berbagai daerah. Suaranya sama RUU HIP berbahaya, menjadi alat penguasa, patron dan korporasi. Tawaran RUU BPIP, sebagai pengganti RUU HIP bernasib sama, ditolak umat. 

Di sisi lain pilkada serentak tetap hendak digelar 9 Desember 2020 walau di tengah meroketnya kasus positif Covid-19. Alasannya KPU sudah menghabiskan dana sekitar 1 triliun untuk persiapan. Energi dan dana sudah banyak dikeluarkan, sayang jika ditunda. (CNN Indonesia, 29/7/2020)

Politik dinasti dan politik oligarki yang menjadi prevalensi (kewajaran) demokrasi kian menambah oleng politik negeri ini. Kebobrokan politik negeri ini kian terbongkar dengan munculnya kasus ngetop bernama POP ( Program Organisasi Penggerak). POP yang merupakan bagian dari merdeka belajar, program andalan Menteri Pendidikan. Penunjukkan Nadiem Makarim yang berlatar pengusaha sebagai menteri pendidikan dinilai banyak pihak tidak tepat. Sehingga perkawinan tidak sah antara pendidikan dengan korporasi menambah pelik persoalan negeri. Arah pendidikan berpondasi sekuler kapitalistik kian membuat generasi negeri ini terpuruk. SDM hanya diarahkan menjadi perbudakan modern.

Baca Lainnya :

Kegagalan dalam bidang ekonomi diawal pemerintahan jilid dua Joko Widodo, dijawab dengan kebijakan memberantas radikalisme. Sehingga proyek deradikalisasi yang notabene agenda AS untuk memerangi Islam, dilaksanakan oleh rezim ini. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Rezim dapat menutupi kegagalan ekonomi, menghadang dakwah Islam politik sesuai pesanan asing dan tentu singgasana aman. Inilah gambaran rezim yang menerapkan demokrasi.

Radikalisasi  menyasar ulama dan muslim yang taat. Tujuannya membendung kebangkitan Islam dengan strategi belah bambu. Strategi AS memetakan Islam menjadi empat kubu yaitu Islam fundamentalis, Islam tradisionalis, Islam modernis (moderat) dan Islam liberal semakin mengaduk aduk lumpur persoalan umat. Radikalisme hanyalah kambing hitam senada dengan pernyataan pengamat politik Siti Zuhro, persoalan negeri ini bukan radikalisme. Demikianlah dalam perjalanannya perekonomian yang berlandaskan sistem demokrasi kapitalisme ini kian kritis, karena solusinya tak beranjak dari anjuran para kapitalis. Hutang kian membumbung tinggi.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani merinci posisi utang pemerintah per akhir Juni 2020 meningkat menjadi Rp 5.264,07 triliun. Utang tersebut bertambah Rp 484,8 triliun dari posisi akhir 2019 Rp 4.779 triliun (Okezone.com, 23/7/2020)

Belum lagi ditengah bencana pandemi Covid-19 kasusnya kian tinggi justru dilakukan pembubaran gugus tugas Covid-19. Dan menyerahkan penanganannya di bawah penanggulangan ekonomi. Tentu ini kian mencerminkan  seperti apa rezim ini bekerja.

Lanjutkan Membaca ke hal.2 >>




Sekilas Info

COVID-19 Indonesia Hari Ini

  • Positif : 392.934
    Sembuh : 317.672
    Meninggal : 13.411
    Dirawat : 61.851

Berita Populer

kanan - bataroster.com
Hosting Unlimited Indonesia



+ Indexs Berita

Berita Terbaru

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook