Gagasan Liberal Tiga Filsuf Inggris Dalam Ekonomi

Gagasan Liberal Tiga Filsuf Inggris Dalam Ekonomi

oleh DRc. Sujono H.S. Kandidat Doktor Universitas Brawijaya, Fakultas Ilmu Administrasi Publik, Kebijakan Publik

SHARE

BataraNews.com – Jejak pemikiran liberalisme berakar dari gagasan liberal para filsuf Inggris seperti Adam Smith (1723), David Ricardo (1772-1823), dan Herbert Spencer (1820-1903). Smith sering dianggap penemu homo economicus dengan memandang pasar sebagai mekanisme otomatis (self-regulating) yang selalu mengarah pada keseimbangan antara permintaan dan penawaran, sehingga ia menjamin terwujudnya alokasi sumber daya dengan cara yang paling efisien. Smith berpendapat, terdapat tiga penyebab pencapaian kesejahteraan masyarakat, berupa:

1. Usaha menggapai manfaat dan pemilikan pribadi; Usaha ini akan menimbulkan produktivitas, yang pada akhirnya mensejahterakan masyarakat.

2. Pembagian kerja dan spesialisasi; Pembagian kerja mampu menunjang dan memperbaiki kekuatan produktivitas kerja, melebihi apapun, pada akhirnya rakyat akan sejahtera.

3. Perdagangan besar dan persaingan; Mirip dengan pembagian kerja antara berbagai pekerja. Para pihak yang terlibat dalam perdagangan melakukan spesialisasi sesuai kemampuan. Dengan demikian, produktivitas secara keseluruhan akan meningkat. Pembagian lewat “tangan tak terlihat“, lebih efisien dan akan lebih merangsang dibandingkan semua bentuk perencanaan ekonomi.

Menurut Smith, untuk menggerakkan sumber kemakmuran diatas, negara hanya boleh intervensi tidak langsung dan memberikan kebebasan pada pasar seluas mungkin (doktrin “laisser-faire“). Doktrin ini membatasi tugas negara hanya untuk menjaga keamanan publik, pertahanan negara, kepastian hukum, pengadaan infrastruktur serta pendidikan, dan sama sekali tidak boleh melakukan intervensi pasar. Dengan demikian akan berkembang produktivitas tertinggi.

Kemudian teori ini dilengkapi oleh Ricardo berupa “teori keuntungan komparatif”. Menurutnya perdagangan bebas akan melahirkan situasi yang sama-sama menguntungkan (win-win solution) bagi semua pihak yang terlibat sebab perdagangan bebas memungkinkan negara untuk mengkhususkan diri pada produksi komoditas yang memberikan keuntungan komparatif. Teori Ricardo melahirkan argumen yang sangat kuat menentang intervensi negara dalam perdagangan.

Sementara bagi Spencer, ekonomi pasar bebas merupakan bentuk yang paling beradab dari persaingan antar manusia yang secara alamiah menempatkan “pihak terkuat” sebagai pemenang. Dengan mengukuhkan dirinya pendukung industri kapitalisme awal, ia membatasi tugas negara hanya untuk melindungi individu dari agresi internal dan eksternal. Setiap intervensi terhadap kinerja swasta akan melahirkan stagnasi sosial, korupsi politik, dan terciptanya birokrasi yang gemuk dan tidak efisien.

Paket Umroh Murah