Mengenang Sejarah Insiden Kali Bekasi

Mengenang Sejarah Insiden Kali Bekasi

SHARE

 

BataraNews.com – Di hari ini, hari kelam bagi serdadu jepang di Bekasi

Di hari ini, di Bekasi 19 Oktober 1945, 72 tahun yang lalu adalah hari yang kelam dan mengenaskan bagi serdadu jepang

Pemerintah jepang sampai menginisiasi Pemkot Bekasi untuk membangun sebuah monumen peringatan di sisi kali bekasi.

Di samping jembatan bulan-bulan proyek Bekasi, Di seberang kantor pegadaian tepatnya.

Di hari itu 90 anggota Kaigun (Angkatan Laut) Jepang yang hendak dipulangkan dengan angkutan kereta api menuju Bandara Kalijati Subang tewas di penggal dan dibantai seluruhnya oleh lasykar rakyat dan TKR Bekasi.

Kali Bekasi waktu itu menjadi merah oleh darah serdadu jepang naas yang hendak pulang kampung karena kalah perang dan menyerah oleh sekutu.

Ceritanya, Pagi hari tanggal 19 oktober 1945, pemimpin TKR bekasi Letda Zakaria (dari kampung duaratus) mendapat perintah dari Mayor sambas atmadinata (komandan TKR jatinegara) untuk mengamankan dan mem-biar lewatkan sebuah rangkaian kereta api di stasiun bekasi yang mereka jaga.

Rangkaian kereta ini berisi 90 orang anggota Kaigun (Angkatan Laut ) jepang yang akan di pulangkan via bandara kalijati subang, berangkat dengan rangkaian kereta dari stasiun jatinegara.

Tapi Letda Zakaria tak mengindahkan hal ini dan ‘kekeuh’ untuk menswipping dan mencegat kereta yang lewat.

Jalur kereta pun dialihkan ke rel buntu yang berujung tepat di pinggir Kali Bekasi.

Ketika kereta berhenti, Lasykar melakukan swipping dan berniat melucuti tentara jepang yang ada di kereta tersebut, berharap rampasan senjata.

Meski sudah menunjukan surat jalan yang dicap stempel oleh Soekarno yang artinya bahwa rombongan mereka jangan di colek dan diutak-atik, tapi lasykar tetep ngeyel.

Hingga kemudian terjadi letusan senjata
Ibarat di komando, semua lasykar yang mengepung kereta kemudian menyerbu masuk.

Hingga akhirnya menyerah dan angkat tangan semua serdadu jepang yang di kereta.

Mereka dilucuti, kemudian di giring turun dibawa ke tepi kali, lalu di eksekusi. Di penggal satu persatu lalu Jasadnya dilemparkan ke kali bekasi.

Cuplikan peristiwa ini bisa dilihat di Diorama monumen peringatan di pinggir kali samping jembatan tersebut.

Nah.. Perwira Jepang yang di Jakarta
Maraaah besar.. Semarah marahnya
Adalah Laksamana Tadashi Maeda yang rumahnya pada saat perumusan teks proklamasi dia relakan dipakai oleh soekrano dan pejuang, Marah besar.

Katanya, kita sedang Berdamai tapi kok pihak RI ngajak ribut dengan menyembelih tentara jepang yang mau Pulkam.

Pak kapolri saat itu (Raden Said Soekanto) di utus untuk nuwun sorry.., Pokoknya siap dah pasang muka melas dan Terima salah.

Ia pasrah dan Terima aja kalo di maki-maki Tadashi.

Hingga akhirnya walau berat Tadashi bisa menerima permintaan maaf dari pihak republik.

Diiringi permintaan yg kurang lebih begini, “Pokoknya gini ye, ane gak mau ye kalau tentara ane di gituin lagi.., sakit hati ane…
Kita dah damai tapi tentara ane liwat ente sembelehin…”

Soekarno buru-buru datang ke Bekasi untuk menenangkan Rakyat Bekasi.
Tanggal 25 Oktober 1945 pagi jam 8 Ia berpidato di alun-alun Bekasi (depan RSUD/Polres sekarang) dihadapan rakyat bekasi. Ia meminta agar rakyat Bekasi gak ngeyelan dan bisa mematuhi perintah serta Instruksi dari Pusat (Jakarta)

Dalam permintaan maaf pihak RI kepada Jepang, disebutkan bahwa RI meminta maaf terhadap terjadinya insiden yang menyebabkan tewasnya 90 anggota Kaigun Jepang, dan memohon maklum sekiranya rakyat bekasi belum sepenuhnya tunduk dan patuh kepada perintah dan hukum RI.

Konyolnya..

Setelah kejadian ini, wilayah Bekasi di sekitar TKP menjadi mencekam diwaktu malam.

Ada cerita-cerita horor yang beredar kalau arwah para tentara jepang yang di bantai bergentayangan. Dalam penampakannya mereka berbaris tanpa kepala. Wilayah sekitar TKP benar-benar menjadi mencekam di hantui teror cerita-cerita ini.

Kalau sekarang mirip-mirip dengan kisah di sinetron Jodoh Wasiat Bapak…

Kisah tentang insiden kali bekasi di hari ini merupakan satu dari sekian banyak Peristiwa-peristiwa penting di Bekasi yang tidak kita temui di Buku Pelajaran Sekolah yang dipelajari di sekolah dahulu.

Tapi kini bisa kita temui dan baca dari catatan dan tuturan pelaku sejarah Revolusi langsung seperti KH Noer Alil (Alm), Lettkol moeffreny moemin (alm), Letda Zakaria (alm), Serma Edi Somad (masih hidup), ataupun melaui tulisan2x sejarawan dan pegiat sejarah kota bekasi seperti Bpk Ali Anwar, Endra Kusnawan, dan Beny Rusmawan.

Khusus cerita kismis yang diakhir cerita, bisa di temui di Bukunya Robert B Cribb, “Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949″.(ady)

Paket Umroh Murah