Ini Kata Mereka yang Hidup di Jakarta dengan Gaji 3 jutaan

Ini Kata Mereka yang Hidup di Jakarta dengan Gaji 3 jutaan

SHARE

BataraNews.com – Pada saat ini, Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta berada di angka Rp 3.355.750. Namun, sebenarnya bagaimanakah gaya hidup anak muda yang bekerja di ibu kota dengan kisaran gaji tersebut?

Berikut lima pengakuan para warga Ibukota yang pernah merasakan sulitnya berjuang hidup dengan penghasilan bulanan tak lebih dari tiga jutaan.

Fitri, 34 tahun, karyawan swasta
Jakarta tidak pernah bisa dilalui dengan gaji Rp 3 juta, baik tahun 2017 ataupun 10 tahun lalu, begitulah pengakuan Fitri.

“Dulu, setelah tiga tahun bekerja, aku baru merasakan punya penghasilan Rp 3 juta. Aku pikir bakalan cukup, ternyata tidak,” ujar Fitri.
Penghasilan Rp 3 juta yang diperoleh Fitri saat itu seiring dengan kenaikan harga sembako dan juga biaya kebutuhan lainnya.

“Sekarang, kalau nanya sama tim kerja yang di entry level yang gajinya tiga jutaan, mereka bilang juga enggak cukup. Ada yang dari luar daerah yang harus bayar kamar kos sebulan Rp 1,2 juta. Sisanya, buat makan dan ongkos. Jadilah dia masih dibantu oleh keluarga di kampung,” urainya.

Luci, 35 tahun, karyawan swasta
Luci yang sekarang menjabat sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan periklanan mengaku bahwa dulu sempat hidup dengan gaji Rp 3 juta.

“Kira-kira tujuh atau delapan tahun yang lalu deh. Gajiku sekitar Rp 3,3 juta. Untungnya, keluargaku punya rumah di Jakarta. Jadi, enggak perlu kos. Namun, karena rumahku di Jakarta Selatan dan kantorku di Jakarta Barat, maka butuh biaya transport yang kalau diakumulasi bulanan sekitar Rp 1 juta-an,” kenang Luci.

Dia menambahkan gaji itu semakin menyesakkan karena pekerjaannya di bidang sales mengharuskannya m obile.

“Acap kali urusan operasional pakai uangku dulu, nanti kantor baru ganti pertengahan atau pengujung bulan. Perjuangan banget lah dulu itu,” jelasnya.

Nova, 25 tahun, karyawan swasta
Hingga bulan lalu, Nova masih menerima gaji Rp 3 juta per bulan. Jumlah tersebut, menurut dia, lebih besar pasak daripada tiang, terutama karena jarak dari rumahnya di Cibubur, Jakarta Timur ke kantor yang berada di Jakarta Selatan.

Untuk sebulan saja, biaya bensin dan tol mencapai Rp 2.150.000. Lalu, untuk makan, dia menghabiskan hampir Rp 30.000 per hari.

Alhasil, Nova pun masih harus bergantung pada keluarga untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan, uang yang dikeluarkan orangtuanya untuk kebutuhan melebihi gaji yang diterimanya.

Ketika ditanya mengenai pendapat keluarga terhadap gajinya, Nova mengatakan, ayahku sedih banget. Dia merasa anaknya nggak dihargai. “Mahalan uang semester (kuliah) dibanding gaji”, kata ayahku kalau meledek.

Kini, setelah setahun dan tiga bulan tanpa kenaikan gaji, Nova pun memutuskan untuk meninggalkan perusahaan tersebut. Selagi menunggu pekerjaan yang baru, Nova mengisi waktunya dengan menyanyi untuk mendapat penghasilan tambahan.

Jeane, 25 tahun, mantan jurnalis
Jeane memiliki kisah serupa dengan Nova. Dia sempat bekerja di perusahaan media wanita di Jakarta Selatan dengan gaji yang sama selama 10 bulan.

Dari gaji Rp 3 juta tersebut, Jeane menghabiskan dua per tiga hanya untuk naik bus dan ojek dari rumahnya yang berada di Alam Sutera, Tangerang, ke kantor. “Kira-kira untuk pulang pergi sehari Rp 100.000,” katanya.

Lalu, dari Rp 1 juta tersebut, Jeane masih harus membayar asuransi sebesar Rp 500.000.

“Sebenarnya, (gaji segitu) sangat nggak cukup kalau rumahnya jauh. Apalagi aku semua jajan dan lain-lain pakai duit sendiri karena keluargaku juga bukan keluarga yang mampu,” katanya.

Untungnya, Jeane memiliki pekerjaan sampingan menjual casing ponsel di media sosial. Hasil penghasilan jualan tersebut sering kali lebih besar dari gajinya.

Lalu, untuk menghemat biaya saat dituntut tampil keren, Jeane memilih untuk berbelanja baju dengan harga diskon. “Prinsip aku ‘Gaya bagus kan belum tentu mahal’,” katanya.

Meskipun demikian, Jeane tidak menyesal telah bekerja di media tersebut. Menurut dia, 10 bulan tersebut menambah pengalamannya dan menambah koneksinya.

Dita, 30 tahun, karyawan swasta
Merintis karier di ranah sales pada sebuah perusahaan baru yang bergerak di industri telekomunikasi membuat Dita harus puas mendapatkan penghasilan sekitar Rp 3 juta beberapa tahun silam.

“Dulu sih lumayan yah gaji tiga jutaan, meski terkadang defisit juga, tetapi semua tergantung kita juga bagaimana mengatur keuangan. Saya karena masih tinggal di rumah keluarga di Jakarta merasa waktu itu cukup, tidak lebih,” jelas Dita.

Tak bisa dimungkiri bahwa untuk menjalani gaya hidup, maka dia harus pilih-pilih dan lumayan berhemat.

“Yah, enggak mungkinlah ngopi-ngopi setiap hari setelah pulang kantor. Palingan yah weekend tetapi juga tidak setiap minggu sih,” pungkasnya. (TribunNews)

Paket Umroh Murah