Perbedaan Dalam Islam

Perbedaan Dalam Islam

SHARE

BataraNews.com – Sejak dulu juga sudah ada yang namanya pengkotak-kotakan kelompok Islam, kalau di Iraq ada Fiqih Al-Ra’yu (Hanafi) dan di Hijaz ada Fiqih Al-Sunnah (Maliki). Bukan hanya itu, di waktu yang sama ada kelompok lain yaitu Fiqh Al-Laits bin Said (pengikut Imam Laits bin sa’d) di Mesri dan masih tersisa di Syam para pembela madzhab Imam Al-Auza’i.

Dan mereka semua berjalan beriringan tanpa ada satupun kelompok yang saling mencaci atau menganggap mereka paling benar dan paling dekat dengan Al-Quran dan sunnah. Semua baik-baik saja, paham dan mengerti posisi masing-masing.

Yang menarik adalah, perbedaan mereka justru malah membuat mereka tidak saling bertengkar dan saling menghargai. Mereka paham bahwa perbedaan yang ada ketika itu muncul menjadi sebuah rahmat bagi umat. Mereka bisa saling jaga diri dan sikap untuk saling berlapang dada dalam setiap perbedaan. Dan tidak pernah mencari-cari siapa yang benar!

Murid Imam Abu Hanifah Duduk di Majlis Imam Malik

Murid-muridnya Imam Abu Hanifah dari Iraq, ketika mereka berhaji atau umrah, pasti mereka menyempatkan diri untuk duduk di masjid Nabawi mendengarkan pelajara fiqih dari Imam Malik. Dan mendiskusikan apa yang mereka bawa dari fiqih Iraq kepada beliau (Imam Malik), dan semua menerima.

Imam Malik Menolak Madzhabnya Jadi Madzhab Negara

Abu Ja’far Al-Manshur, khalifah Abbasiyah, sempat menawarkan Imam Malik untuk menajdikan kitabnya Al-Muwatho’ sebagai qanun (undang-undang) Negara ketika itu, namun Imam Malik menolak. Beliau tidak ingin memberatkan umat hanya dengan satu madzhab saja.

Imam Malik dan Imam Al-Laits

Imam Malik kalau mendapati di majlisnya ada salah seorang mudafir dari Mesir, pasti sang Imam menitipkan salam lewatnya kepada Imam Al-Laits bin Sa’d, dan tidak jarang memberikannya hadiah walaupun hanya dengan sekantung kurma. Mereka saling mendoakan padahal Imam Al-Laits salah satu Imam yang paling santer menyelisih pendapat-pendapatnya Imam Malik.

Sebaliknya pun demikian, Imam Laits bin Sa’d, kalau berangkat haji atau umrah, pastilah beliau menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahnya Imam Malik dengan membawa buah tangan beserta segudang doa untuk kebaikan Imam Malik.

Pernah dalam suatu ketika, Imam Laits mengutus salah satu muridnya ke Hijaz untuk mengantarkan surat kepada Imam Malik yang isinya bantahan Imam Laits terhadap “Amal Ahli Madinah” yang dijadikan dalil oleh Imam Malik di Hijaz. Tapi, di awal dan di akhir surat yang panjang itu, Imam laits menyertakan doa untuk Imam Malik.

Yang menariknya lagi, di samping surat bantahan itu Imam Laits menyertakan satu kantong berisikan uang ribuan dinar untuk Imam Malik. Hebat bukan, berselisih tapi saling memberi hadiah. Yang akhirnya uang itu diberikan kepada Imam Al-Syafi’i (murid Imam Malik) sebagai mahar pernikahannya dan bekal beliau (Imam Syafi’i) berangkat ke Iraq.

Imam Muhamd bin Hasan dan Imam Al-Syafi’i

Imam Muhammad bin Hasan Al-Syaibani, murid dan pembela madzhab Hanafi, tahu dan paham bahwa Imam Al-Syafi’i banyak menyelisih madzhabnya. Akan tetapi sesampainya Imam Syafi’i di Baghdad, beliaulah orang yang dengan tangan terbuka menyambut kedatangan Imam Syafi’i.

Bukan hanya itu, beliau juga yang menampung Imam Syafi’i di rumahnya. Seluruh kebutuhan Imam Syafi’i yang ingin menuntut ilmu fiqih Al-Ra’yu difasilitasi oleh Imam Muhammad bin Hasan, dari mulai tempat tidur, makan dan juga kitab. Padahal mereka sering berselisih paham ketika berdiskusi, tapi masih bisa saling berbagi.

Dan kepergiannya ke Mesir untuk menuntut ilmu fiqih Al-Laitsi juga dibiayai oleh Imam Muhammad bin Hasan, kendaraan serta bekal perjalanannya. Karena itu banyak ulama yang menyebut Imam Muhammad bin Hasan itu sebagai “bapak”-nya Imam Syafi’i di Baghdad.

Imam Syafi’i dan Imam Malik

Yang dilakukan Imam Syafi’i ketika di Hijaz pun tidak berbeda. Beliau duduk di masjid Nabawi mendengarkan Imam Malik, tapi beliau juga menyanggah dan menyelisih Imam Malik dalam beberapa masalah fiqih. Dan tidak ada kemarahan dari Imam Malik sedikitpun. Bahkan beliau mendoakannya agar menjadi ulama besar yang menerangi umat. Bahkan sampai jadi murid kesayangan Imam Malik.

Begitulah ulama mengajarkan kita bagaimana caranya bersikap. Walaupun saling berbeda, tidak ada dalam diri mereka keinginan untuk mengaku kebenaran sendiri dan menyalahkan yang lain. Semua baik-baik saja, sebaik ilmu yang mereka miliki.

Bagaimana kita sekarang?

Dari. Ust. Ahmad zarkasih

-wallahu a’lam-

Paket Umroh Murah