Elegi Sebuah Negeri

Elegi Sebuah Negeri

SHARE

BataraNews.com – Katanya revolusi mental, tapi mental pada bobrok. Tuhan yang harusnya disembah malah diperdebatkan. Agama dibelejeti. Kitab suci dikentuti. Pandita dijaili. Pemimpin saling caci. Wakil rakyat jadi tuli. Banci wandu makin berani. Rakyat bingung sendiri sampai bunyi klakson jadi penghibur hati….

# Om… Telolet … Om #

Katanya pro-rakyat, tapi penghasilan rakyat diporoti. Gaji kecil harus bayar jaminan kesehatan sama dengan yang gajinya selangit. Telad dikit didendai. Tak bayar ditandai. Listrik subsidi tak berlaku lagi. Pajak kendaraan usang jadi sangat tinggi. Harga cabe naik, rakyat disuruh tanam sendiri. Harga telur naik, mungkin rakyat disuruh kawin sama ayam atau bebek supaya bisa nelor sendiri. Semoga kalau harga daging naik lagi rakyat tak disuruh makan daging sendiri…

# Om… Tolole… Om #

Yang kaya jadi miskin apalagi yang miskin. Para majikan melek mata menanggung rugi. Untung akhir bulan belum pasti sebab produk sering kalah bersaing dengan luar negeri. Gulung tikar pergi. Buruh gigit jari karena upah tak terberi. Lapangan kerja makin sempit akibat banjir tenaga asing bermata sipit.

# Om… Tolah Toleh… Om #

Ibu sering kecele sebab bapak pulang tak bawa ape-ape. Padahal lauk makan anak sekarang tak cukup tahu tempe, tapi paket internet dan pulsa hp. Bapak keluar rumah parlente, pulang ote-ote gegara narkoba dan perempuan sipit penjaja kelentit….

# Om… Letoy… Om #

Inilah elegi sebuah negeri. Yang konon gemah ripah lohjinawi. Yang empunya tanah surga. Yang tongkat dan batu bisa jadi tanaman. Yang kail dan jala cukup menghidupi rakyatnya. Yang esok mungkin rakyatnya susah mencari makan, atau bahkan tak boleh makan karena harus kerja.. kerja.. kerja..

# Om… Nelek Tok… Om #

Yang belum sadar juga tak perlu membully. Cukup akhir bulan depan hitunglah sisa salary. Kurang tak perlu merintih, cukup nikmati hidangan itu hari…