Seruan Aksi : Solidaritas Peduli Korban Aksi Bela Islam 212

Seruan Aksi : Solidaritas Peduli Korban Aksi Bela Islam 212

438
0
SHARE

BataraNews.com – Pelaksanaan Aksi Bela Islam 212 yang tergabung dalam GNPF-MUI, pada awalnya direncanakan berjalan dengan damai yang dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2016. Rencana aksi super damai tersebut terbukti dengan aksi yg melibatkan jutaan ummat islam tanpa ada insiden dan kerusuhan.

Aksi super damai dibawah komando GNPF-MUI mendapat penilaian dan respon antisipatif yang sangat berbeda dari Pemerintah. Sejumlah tokoh yang rencana terlibat dalam aksi tersebut pada jumat dini hari mendapat perlakuan yang sangat represif dari penguasa. Sebanyak 11 tokoh ditangkap pada jumat menjelang subuh sebelum melaksanakan Aksi Bela Islam 212.

Penangkapan tersebut merupakan bentuk matinya simbol demokrasi di Indonesia. Dimana kebebasan untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat telah dibungkam. Perbuatan rezim yang sangat otoriter telah menimbulkan matinya simbol demokrasi di Indonesia dan merupakan bentuk perbuatan yang melanggar Undang-undang Hak Azasi Manusia.

Korban Aksi bela Islam 212, sebagai peserta aksi berencana melaksanakan aksi dengan tuntutan agar pelaku penista agama ditahan dan dihukum sesuai dengan prosedur hukum yg berlaku. Tetapi justru sebaliknya, mereka ditahan sebelum melaksanakan aksi. Sementara sang penista agama sampai hari ini tidak ditahan.

Ketidak adilan dalam proses penegakan hukum terlihat sangat nyata ketika sang penista agama tidak ditahan sementara pelaku demontrasi justru ditahan. Sampai dengan hari ini masih ada tokoh aksi bela islam yang masih ditahan oleh pihak polda metro jaya yaitu sdr. Rijal, sdr. Jamran dan sdr. Sribintang Pamungkas.

Proses penegakan hukum terlihat sangat egaliter, ketika tokoh2 yang lain dibebaskan dari tahanan karena mempunyai kekuatan politik dan jaringan yang besar, sementara tokoh2 yang lain sebanyak 3 orang msh tetap ditahan.

Pasal makar dan undang-undang ITE menjadi dasar dalam memproses dan menahan para aktifis yang kritis terhadap penguasa. Situasi tersebut mirip dengan kekejaman dan kekerasan serta bentuk otoritarian pemerintah dimasa lalu, dengan memberlakukan Petrus dan undang-undang NKK BKK.

Stop Rejim TIRAN
Stop Pembungkaman Terhadap Aspirasi Rakyat
Bebaskan Pejuang Islam
Bebaskan Pejuang Rakyat

Untuk itu kami yang tergabung dalam solidaritas Peduli Korban Aksi Bela Islam 212 menuntut :

  1. Meminta kepada DPR RI komisi III untuk memanggil Kapolri dan Kapolda agar segera membebaskan sdr. Rijal, sdr. Jamran dan sdr. SBP
  2. Meminta kepada DPR RI untuk membentuk tim khusus guna mengungkap segala perbuatan penegak hukum yang tidak sesuai dengan prosedur hukum dan secara nyata telah melanggar HAM.
  3. Meminta kepada DPRRI untuk segera menggunakan hak inisasi DPR sebagai fungsi kontrol untuk segera meminta kepada Kapolri agar memberhentikan Kapolda dari jabatannya.
  4. Meminta kepada ketua DPRRI untuk segera memanggil Presiden RI karena telah menciptakan suasana tegang dan gaduh, dengan bentuk pemerintahan yg sangat otoriter serta represif yang tentu saja sangat bertentangan dengan azas-azas dan dasar negara kita yaitu Pancasila dan UUD45 yang mengutamakan nilai2 demokrasi.

 

Demikian tuntutan ini kami sampaikan, agar DPR RI dapat mendengarkan, memperhatikan dan segera mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat demi menyelamatkan indonesia dari bentuk pemerintahan yang tiran.

Pelaksanaan aksi : Rabu, 11 januari 2017
Pukul : 10.00 WIB s d selesai
Tempat : Gedung DPRRI, Senayan

Peserta Aksi :
1. Kobar
2. AMJU
3.Kahmi Jakarta Utara
4. Koorkom univ. Jayabaya
5. Korp Mahasiswa GPII
6. HIMMAH ALWASLIYAH
7. FPI JakUt
8. HMI
9. IKA Univ.Jayabaya
10. Aliansi Indonesia Satu
11. BEM Univ.Jayabaya
12. IKA FE Univ.Jayabaya
13. APPI (Aliansi Pemerhati Parlemen Indonesia)
14. QOMAT
15. dll