Masuk Akal, Ini sebabnya China Hobi Kasih Hutang ke Indonesia

Masuk Akal, Ini sebabnya China Hobi Kasih Hutang ke Indonesia

1036
0
SHARE

BataraNews.com – Sumber Bloomberg menyebutkan total utang China pada akhir tahun 2015 diperkirakan sebesar USD26 triliun, baik total utang publik maupun swasta. Sementara majalah the Economist memperkirakan total utang China akhir 2015 mencapai USD30 triliun (lebih dari Rp366 ribu triliun -red) atau 40% dari GDP seluruh negara di dunia. Meskipun terdapat perbedaan angka (karena China tidak merilis angka resmi total utang baik publik maupun swasta), namun baik Bloomberg maupun the Economist menekankan pada kecepatan pertambahan utang yang pada akhir tahun 2008 sekitar 164% terhadap GDP menjadi hampir 250% terhadap GDP pada akhir 2015.

Bertambahnya utang adalah hal yang wajar dan baik jika bermanfaat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun demikian kemampuan tambahan utang di China untuk menggerakkan perekonomian semakin lemah. Jika sebelum krisis 2008, China membutuhkan sekitar 1 Yuan tambahan kredit untuk menghasilkan tambahan output ekonomi sebesar 1 Yuan, kini China membutuhkan hampir 4 Yuan tambahan kredit untuk menghasilkan tambahan output ekonomi sebesar 1 Yuan.

Seiring dengan pertumbuhan utang yang jauh melampaui pertumbuhan GDP tersebut, permasalahan mulai muncul. Perusahaan-perusahaan kini kesulitan memperoleh permintaan akan barang yang diproduksinya karena menurunnya permintaan ekonomi global. Harga barang turun karena kapasitas dan produksi yang berlebih tidak diimbangi naiknya permintaan. Surplus produksi menghasilkan meningkatnya cadangan persediaan barang yang tentunya mahal. Perusahaan menjadi zombie companies. Di sektor properti, pembangunan perumahan, apartemen dan kondominium yang eksesif ditunjang oleh kemudahan kredit telah menciptakan kota hantu/ghost cities. Seluruh dampak negatif tersebut mulai dirasakan oleh perbankan dalam bentuk kredit macet.

NPL perbankan komersial di China dilaporkan di bawah 2%. Namun banyak pengamat meragukan angka tersebut. Sejalan dengan banyaknya kecurangan-kecurangan, manipulasi perbankan, dan tidak transparannya sektor perbankan China, sebagian pengamat bahkan memperkirakan NPL mencapai hampir 20%.

Dengan krisis utang seperti itu, Negeri Tirai Bambu berpotensi menjadi penyebab krisis global seperti AS pada saat tahun 2008 lalu. Tapi sayangnya, kebijakan di bawah kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) malah terus merapat ke pemerintahan China.

Pemerintah Indonesia sepertinya hendak memainkan peran menjadi pelampung penyelamat bagi China. Caranya dengan menyerahkan semua proyek infrastruktur raksasa kepada China,” tegas pengamat ekonomi politik Salamuddin Daeng, kepada Aktual.com, Minggu (1/1).

Dengan memegang kontrak infrastruktur itu, beserta hak atas tanah, kata dia, maka China bisa mengagunkan kontrak dengan Indonesia ke pasar keuangan global dan membentuk kembali gelembung keuangan China itu.

“Itulah mengapa sejak awal Pemerintah Jokowi sangat getol bicara infrastruktur. Tidak main-main, infrastruktur itu termasuk mega proyek,” ungkapnya.

Untuk itu, infrastruktur raksasa seperti tol laut, tol darat, pelabuhan, bandara, kereta api, monorel, MRT, dan lainnya digadaikan ke China “Padahal semua itu adalah infrastruktur yang menelan dana sekitar ratusan triliun rupiah,” jelas dia. (azk)