Dosen Papua Bicara Tentang Persatuan

[Curhat] Dosen Papua Bicara Tentang Persatuan

Ismail Suardi Wekke, Ph.D (Anak Bugis, hidup di Papua Barat, berjuang untuk kemuliaan ilmu pengetahuan / Dosen STAIN Sorong)

SHARE

Kaka-kaka… selamat siang dari tanah Papua…

Apa yang membedakan Indonesia hari ini dengan hari kemaren? Karena dulu, komitmen keindonesiaan dibangun dengan spirit beragama. Lalu hari ini, kejadian demi kejadian menciderai kita semua. Agama dibangun dengan spirit keindonesiaan. Sebuah hal yang tidak mengapresiasi piliha agama orang lain.

Media sosial tidak lagi nyaman, soal uang dicurigai, pernyataan-pernyataan yang kadang dimulai dari kecurigaan. Ketika Frans Kaisepo muncul di mata uang, bukan itu yang penting. Seliter bensin di Aimas, bisa mencapai Rp. 10.000.- Padahal, itu ibukota kabupaten Sorong, Papua Barat. Untuk talkmania dari Telkomsel senilai Rp. 8.500. Sementara di pulau lain hanya Rp. 3.500. Belum lagi paket data, di Purwokerto saya membeli 4 GB dengan harga Rp. 65.000. Di kota Sorong, untuk 2 GB, seharga Rp. 100.000,-

Lalu apakah masih penting soal gambar pahlawan di mata uang?…

Kalaulah agama dianggap pemecah belah, tidak juga. Masjid di Malanu, Kota Sorong, tanah perluasan justru disumbang individu Protestan. Semalam, saya dijamu kawan muslim yang diasuh oleh individu Tionghoa sampai selesai kuliah dengan tidak pernah mengusik agamanya. Jumat kemaren bahkan saya dibantu dalam perjalanan dari Surabaya ke Malang oleh kawan yang dibiayai pendidikannya oleh pastor yang bahkan memintanya ketika kuliah untuk bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam. Satu hal lain, sebuah gereja berdiri di kota Sorong berdiri atas wakaf dari warga muslim.

Saat pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran di Kaimana, 2014, paduan suara acara justru berasal dari pemuda gereja. Begitu juga ketika perkemahan wirakarya perguruan tinggi Islam di Ambon (2011) selama pembukaan dan penutupan, kumandang Indonesia Raya dipandu kelompok paduan suara dari gereja.

Terlalu banyak hal yang positif dari Indonesia, lalu kenapa harus dihancurkan oleh satu atau dua pengamat?

Kaka-kaka, mohon tahan ketikan dan copy-paste yang bisa merubuhkan Indonesia kita. Haruskah saya meminta Papua kami berpisah dengan Jakarta, Hanya karena Papua kita berbeda dengan Jakarta?. Tidak. Papua sampai kapanpun tetap Indonesia. Bantu kami untuk bersama-sama dalam Indonesia tercinta. Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, ketika Jepang sementara menikmati salju tebal, kedinginan, dan hanya berada di rumah saja dengan penghangat. Sebaliknya, kita di Indonesia tertawa dengan riang dibawah terik matahari. Indonesia tidak boleh bertengkar seperti wilayah lain karena berbeda agama.

Saya duduk di depan semangkuk papeda. Sagu dari Merauke, sayur dari Mayamuk, lalu ikan dari Waisai. Terhidang nasi dari Nganjuk, sementara kerupuk dikirim dari Aimas. Itulah Indonesia, saling membantu dan saling menghidupi.

Salam hormat kaka-kaka