Sebuah Catatan: “Ide Gila santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 6)

Sebuah Catatan: “Ide Gila santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 6)

409
0
SHARE

BataraNews.com

Sumber :  Ustadz Nop Hanafi

Waktu menunjukan jam 14.00 kafilah melanjutkan lagi perjalanan menyusuri perjalanan tanjakan gentong berkelok yang agak-agak ekstrim bagi pejalan kaki , yang mimpin didepan adik saya Kiayi Agus Malik dan Epung di mobil komando ngasih orasi plus peserta yang berperawakan tinggi besar adalah Kiayi Fatah namanya, suaranya menggelegar memberi semangat dan penjelasan kepada masyarakat yang terlewati.

Perjalanan agak lambat karena faktor Jalan yang nanjak, peserta mulai kelihatan. Ngos-ngosan menghela napas. Air mineral di mobil komando dibagikan secara berantai kepada peserta longmarc semuanya rela saling bagi sebotol berdua. Sesekali senyum terlempar dari bibir masing-masing menghilangkan rasa cape. Di jalan satu arah peserta menepi ke pinggir tepian jalan, duduk diatas pembatas jalan sambil menikmati indahnya pegunungan di bawah cuaca yang adem.

Saya mendekati peserta yang paling kecil, “cape enggak?”

Sambil ditepuk punggungnya, “engga biasa aja”, jawabnya

“kemana sandalnya??”

“Putus talinya kang”

“udah naik aja ke mobil”, suruh saya

“engga ah masih kuat kok”, perasaan saya ada rasa berdosa dengan pemandangan itu.  Saya terus berjalan inpeksi semua peserta,  yang agak parah lecetnya cepat-cepat ditangani Tim kesehatan dari Rumah zakat yang setia mengikuti dibelakang rombongan.
Setengah jam istirahat mobil komando disuruh berjalan lagi. Perjalanan dilanjutkan kembali untuk menyemangati peserta,  saya naik kemobil komando. “Wahai para santri, memang perjalanan kita masih panjang tetapi janganlah kalian menghitung jarak tempuh ,ayunkan langkah kaki kalian walau sedikit merangkak dan kita akan sampaki tujuan,”. Semuanya serempak menyambut dengan takbir sambil mengepaklkan tangan keatas tanda semangat mereka tidak lunturr. Handpon disaku celana berebunyi, begitu dingkat seseorang yang mengaku dari IIBF komunitas pengusaha Muslim Indonesia mengatakan dia dan Tim menunggu rombongan diatas habis tanjakan kami menyediakan nasi kotak untuk makan sore. “Baik pak terima kasih”

Setengah jam berlalu sampailah rombongan di daerah perbatasan garut tepatnya di tugu selamat datang. Rombongan istirahat lagi karena dermawan yang menyediakan ribuan nasi kotak sudah stanbay dari tadi.  Subhaanallohh rizqi begitu melimpah ruah datang tidak disangka kalau bukan karena kuasa Alloh tidak mungkin orang terketuk hatinya sedemikian dahsyat menyediakan makanan untuk ribuan orang ini mutlak pertolongan Alloh. Semua peserta lahap menikmati makan sore di pinggir jalan karena sejak pagi baru saat itu dapat jatah makan lagi.
Satu jam kita  istirahat, hari itu matahari mulai redup, waktu menunjukan jam Lima sore. Kita berikan komando perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Kaum malangbong. Jalan menurun masyarakat menyemut berbaris dipinggir jalan, sambil berteriak takbir Allohu Akbar. Tua muda anak-anak dengan setia menunggu rombongan kami lewat. Makanan dan minuman kemasan bertumpuk di pinggir jalan. Dibagi-bagikan pada peserta, SubhaanAlloh saya tak kuat menahan air mata, begitu dahsyat rekayasa Allah sampai semua hati ummat tergerak secara sepontan. Ketika sedang khusyu berjalanan, tiba-tiba ada yang mencegat saya dan langsung merangkul serta mencium pipi saya. Awalnya belum ngeuh, setelah wajahnya kelihatan ternyata teman seperjuangan kita Kiyai Tatang Mustopa Kamal, tokoh Ulama Malangbong. Beliau berlinang air mata menggandeng tangan kami dan ikut berjalan kurang lebih satu kilometer sebelum Masjid Kaum. Subahana Alloh, begitu kita sampai di Masjid Malangbong ribuan orang menyambut kami, jalan ditutup sementara. Kumandang takbir berkali-kali terdengar dari masyarakat mereka menangis sambil pegang handpone memgambil photo dan video rombongan. Begitu masuk halaman masjid speaker di menara masjid terdengar suara Kiayi memberikan pengumuman “Selamat Datang Kafilah Jihad Ciamis. Selamat datang wahai pembela Agama Alloh, kami bangga dengan kalian kami bangga perjuangan kalian”. Ratusan santri berjejer di teras masjid melantunkan solawat badar. Tak terasa air mata tumpah seketika.  Yaa Robbb, keajaiban apa lagi yang Engkau perlihatkan pada kami?, padahal yang kami lakukan bukan apa-apa dan belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan para nabi dan para sahabat. Ibu-ibu yang menyambut kami kelihatan girang sekali menyediakan aneka makanan dan minuman untuk kafilah mujahid. Sepuluh menit sebelum adzan magrib semua peserta terkulai lemas dilantai dan pelataran masjid sebahagian pergi ke belakang ngambil wudhu persiapan sholat magrib.

Tibalah waktunya adzan magrib semua peserta sudah siap melakukan sholat berjamaah. Masjid penuh sesak sampai luber keluar. Takbirotul ihrom imam memulai solat suaranya merdu, menambah suasana perjuangan semakin kokoh beres magrib Kiayi Maksum maju kedepan untuk mengimami isya jama qosor.
Selepas berjamaah saya merebahkan diri ke karfet yang empuk, enak rasanya kalau langsung tidur. Namun belum satu menit banyak orang disekeliling yang menunggu ditanya satu persatu ternyata awak media dan para dermawam yang menanyakan rute dan jumlah peserta longmarc yang tersisa. Mereka siap kordonasi dengan rekan-rekan untuk menyediakan logistik sepanjang perjalanan.   Saya meng-iyakan dan menghaturkan terima kasih tidak banyak ngomong karena rasa kantuk yang sangat kuat. Selang beberapa menit seluruh peserta diumumkan masuk masjid kita berikan arahan dan spirit. Seperti biasa pekikan ista’iduuuu, semua serempak “Labbaik… Takbiir… Allohu Akbar… suara mereka bergemuruh memenuhi ruangan masjid.   Tiba-tiba di luar terdengar suara gemuruh turun hujan lebat sekalii, semua terdiam. Saya lanjut apa cukup sampai disini? ,   “lanjuuuut” mereka menjawab,

“tidak takut hujan??”

“Tidaaaaaak”

“Tidak takut kedinginan??”

“Tidakkkkk”,

Padahal waktu menunjukan pukul 19.30 akhirnya diputuskan rombongan tetap jalan walau hujan dan gelap. Semua dianjurkan memakai jas hujan pelastik  yang telah dibagikan. Mulai lagi kita berjalan menyusuri jalan ditengah dingin hujan yang mengguyur dan gelapnya malam.
Dimankah kita bermalam??????
Tunggu seri berikutnya…

Baca :

Sebuah Catatan: “Ide Gila santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 1)

Sebuah Catatan: “Ide Gila santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 2)

Sebuah Catatan: “Ide Gila santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 3)

Sebuah Catatan: “Ide Gila santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 4)

Sebuah Catatan: “Ide Gila santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 5)